AJI Yogyakarta : Jurnalis Diimbau Perhatikan Keselamatan saat Meliput Pandemi COVID-19

Yovie Wicaksono - 15 March 2020
Logo Aliansi Jurnalis Independen.

SR, Yogyakarta – Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Yogyakarta meminta perusahaan media memperhatikan jurnalisnya yang bertugas meliput isu penyebaran virus corona, karena jurnalis menjadi kalangan yang rentan dan berisiko terinfeksi virus corona sehingga harus berhati-hati dan membekali dirinya saat meliput.

“Perusahaan media hendaknya membuat panduan keselamatan dan membekali alat-alat kesehatan untuk jurnalisnya yang sedang meliput di tempat-tempat yang berisiko terinfeksi virus tersebut,” ujar Ketua AJI Yogya, Shinta Maharani melalui keterangan resmi yang diterima Super Radio, Minggu (15/3/2020).

Hal tersebut sejalan dengan Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan yang menyebutkan, para pemberi kerja harus memperhatikan kesehatan dan keselamatan kerja para jurnalis. Perusahaan media juga perlu memperhatikan hak-hak pekerja dalam kondisi darurat (lackdown atau isolasi) baik untuk jurnalis yang berstatus sebagai koresponden, kontributor, maupun karyawan.

AJI Yogyakarta juga telah mengumpulkan berbagai literatur dari berbagai organisasi jurnalis tentang panduan meliput pandemi COVID-19. Salah satunya dari Global Investigative Journalism Network untuk para jurnalis agar menggunakan sarung tangan pelindung jika meliput tempat-tempat yang telah terinfeksi, seperti fasilitas perawatan medis atau rumah sakit. Serta menyiapkan peralatan pelindung, diantaranya masker wajah.

Kemudian, menghindari mengunjungi pasar yang menjual daging atau ikan segar atau peternakan yang terkena dampak. Menghindari kontak langsung dengan hewan hidup atau mati dan lingkungannya. Dan jangan menyentuh permukaan yang mungkin terkontaminasi oleh kotoran hewan.

Jika jurnalis sedang melakukan proses peliputan di fasilitas kesehatan, pasar, peternakan jangan pernah menempatkan peralatan di lantai dan gunakan tisu antimikroba.

Jurnalis juga diminta untuk menghindari makan atau minum sambil menyentuh binatang atau di dekat pasar atau peternakan. Serta selalu memastikan kebersihan tangan dengan rutin mencuci tangan menggunakan air dan sabun sesuai standar WHO.

“AJI Yogyakarta juga meminta pemerintah tidak menyembunyikan segala informasi yang berhubungan dengan virus Corona,” ujarnya.

Ia menambahkan, pemerintah wajib memenuhi hak atas informasi publik seiring dengan penghormatan kebebasan pers. Pemerintah wajib memberikan informasi yang akurat, kredibel, dan transparan.

Demi keselamatan jurnalis, untuk sementara AJI Yogyakarta mengimbau agar narasumber menyebarkan informasi dan data dengan mengurangi aktivitas kerumunan, misalnya konferensi pers, karena penyebaran virus Corona rentan di tempat-tempat orang berkerumun.

“Narasumber bisa menggunakan sejumlah pilihan untuk menyampaikan informasi, seperti melalui siaran pers beserta foto dan video demi keselamatan jurnalis. Narasumber bisa melampirkan hak cipta foto maupun video,” ujarnya.

Ia menambahkan, segala informasi bisa disediakan melalui website resmi lembaga yang mengeluarkan informasi yang berhubungan dengan virus Corona. Sementara untuk wawancara atau pertemuan tatap muka dengan narasumber dilakukan berdasarkan pertimbangan yang mendesak.

“Jurnalis juga harus menghindari penyebaran kepanikan sembari terus memberikan liputan yang mendalam dan seimbang. Ini penting untuk pelaporan hasil liputan yang bertanggung jawab. Gunakan gambar dengan hati-hati untuk menghindari penyebaran pesan yang salah. Jelaskan tindakan-tindakan pencegahan dan temukan fakta-faktanya. Waspadai sumber-sumber politik partisan dan wawancarai para ahli medis,” imbuhnya.

Kemudian periksa fakta lewat jaringan pengecekan fakta untuk memerangi informasi palsu. Bisa melalui Aliansi #CoronaVirusFacts, #DatosCoronaVirus. Cek di media massa yang memiliki tim pemeriksa fakta untuk menemukan informasi palsu.

Ia mengatakan, jurnalis juga harus memperhatikan trauma korban virus corona. Menyebutkan identitas bahkan tempat tinggal korban dapat menyebabkan kepanikan dan membuat keluarga korban tidak aman.

“Perlakukan korban dengan empati. Biarkan korban bercerita dan menentukan wawancara. Wawancara harus atas persetujuan korban,” ujarnya.

Selain itu, AJI Yogyakarta juga menyerukan agar semua jurnalis saling bahu membahu dan bersolidaritas untuk mencegah penyebaran virus Corona dengan saling memperhatikan kawan-kawan jurnalis dan saling menolong bila ada yang terinfeksi dengan mengikuti panduan ahli kesehatan. (*/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.