Wisata Religi Makam Syekh Wasil Syamsudin Ditutup Sementara

Yovie Wicaksono - 29 April 2020
Area Wisata Religi Makam Syekh Wasil Syamsudin yang nampak sepi pada Rabu (29/4/2020), karena ditutup sementara terkait virus corona. Foto : (Super Radio/Rahman Halim)

SR, Kediri – Tak seperti biasanya yang terlihat penuh sesak dengan kedatangan ratusan peziarah, pada Rabu (29/4/2020), wisata religi makam Syekh Wasil Syamsudin, tokoh penyebar agama Islam pertama di Kediri yang berlokasi di Kelurahan Setono Gedong, Kediri, nampak lengang tanpa pengunjung.

Sepinya peziarah ini lantaran adanya keputusan bersama warga lingkungan setempat serta kebijakan dari pemerintah daerah untuk menutup sementara lokasi wisata religi tersebut terkait pandemi Covid-19.

“Kita tutup sejak tanggal 19 Maret 2020 lalu, warga disini sepakat untuk sterilisasi pengunjung sekitaran Masjid Setono Gedong dan makam. Disamping itu kita ikuti anjuran dari Pemerintah,” ujar juru kunci makam, Mochamad Yusuf Wibisono, Rabu (29/4/2020).

Pria asal Kecamatan Kandat, Kabupaten Kediri ini mengatakan jika biasanya pada momentum bulan suci Ramadan, pengunjung yang datang berziarah ke lokasi wisata religi makam Syekh Wasil setiap bulannya mencapai 20 sampai 30 ribu orang. Jumlah pengunjung masih bisa bertambah terutama pada saat memasuki malam ganjil Lailatul Qadar.

Selain berziarah, banyak warga yang berkunjung ingin ngabuburit sambil menunggu datangnya waktu berbuka puasa.

Meski ditutup untuk umum, masih juga ada sejumlah pengunjung yang nekat datang, terutama dari ahli waris.

“Kita beri pemahaman, untuk tidak berdoa di dalam makam, melainkan di Masjid Setono Gedong saja. Akhirnya mereka mau mengerti dan memilih berdoa di dalam masjid,” ujarnya.

Penutupan dilakukan di lima titik akses menuju wisata religi, dua titik  diantaranya setiap malam selalu mendapat penjagaan dari warga. Dimana pada pukul 20.00 WIB akses ditutup total, kecuali warga sekitar saja yang diizinkan keluar masuk ataupun jika ada kerabat dari masyarakat lingkungan sekitar.

“Lingkungan masih menyelenggarakan salat tarawih, cuman jamaahnya hanya dari warga sekitar. Jamaah dari luar tidak boleh. Meski jamaahnya dari warga sekitar, sebelum masuk masjid tetap disemprot dan pakai masker,” katanya.

Ia mengatakan, saat belum adanya wabah virus corona, pada hari biasa diluar Ramadan, jumlah peziarah bisa mencapai 15 ribu orang.

Selain makam Syekh Wasil, di wisata religi Setono Gedong juga terdapat tokoh besar lainnya seperti makam Wali Akba, Pangeran Sumende, Sunan Bagus, Sunan Bakul Kabul, Kembang Sosronegoro, Mbah Fatimah dan Amangkurat.

Dari sekian banyak makam yang ada dilingkungan sekitar, makam Syekh Wasil Syamsudin yang bergelar Pangeran Makkah paling banyak dikunjungi peziarah dari berbagai daerah, termasuk dari luar negeri diantaranya Brunei Darussalam, Malaysia, Filipina, Thailand, bahkan juga dari Belanda.

“Ini kan makam sudah tua usianya,  mereka yang datang dari luar negeri biasanya masih ada hubungan kerabat dengan leluhur yang ada disini,” ujarnya.

Karena memiliki nilai sejarah, wisata religi makam Syekh Wasil ini ditetapkan sebagai cagar budaya oleh BPCB Trowulan Mojokerto Jawa Timur.

Yusuf menjelaskan,  Syekh Wasil Syamsudin dikenal oleh masyarakat berasal dari Istanbul Turki. Masyarakat kemudian memberinya gelar Pangeran Makkah. Namun kebanyakan masyarakat lebih suka menyebutnya dengan nama panggilan Mbah Wasil.

“Dipanggil Mbah Wasil karena beliau sering memberikan Wasil (ahli bertutur sapa, berpetuah yang baik),” katanya.

Ketika masuk di Kediri, Syekh Wasil Syamsudin tidak serta merta langsung menyebarkan agama islam, melainkan terlebih dahulu melakukan pendekatan ke masyarakat hingga akhirnya masyarakat mau menerima ajaran islam pada masa itu.

Setelah perkembangan Islam di Kediri, daerah Setono Gedong menjadi tempat penyebaran agama Islam dengan ditandai dibangunya Masjid Setono Gedong dan adanya makam Syekh Wasil Syamsudin sekitar tahun 920 – 929 H atau tahun 1514 – 1524 M.

“Wisata religi disini ada delapan titik. Mbah Wasil itu wali sepuh yang datang termasuk kurang lebih abad 10 atau 11. Pada masa itu masuk pemerintahan Sri Aji Joyoboyo,” jelasnya. (rh/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.