Wayang Krucil Kediri Tampil di Festival Wayang Internasional

Yovie Wicaksono - 30 April 2023

SR, Surabaya – Perserikatan Wayang Internasional atau Union Internationale de la Marrionnette (Unima) Indonesia Jatim, menggelar Festival Wayang Internasional di Bali dalam rangka merayakan Hari Wayang Sedunia, mulai 26-30 April 2023.

Dalam rangka memeriahkan festival tersebut, Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa melalui Disbudpar Jatim memfasilitasi penampilan Wayang Krucil Kediri. Grup dari Padepokan Cipto Mudho Laras yang terpilih dan tampil pada 28 April 2023 di Taman Kota Denpasar. 

“Alhamdulillah, Padepokan Cipto Mudho Laras bisa tampil di Festival Wayang Internasional di Bali. Ini menjadi pencapaian luar biasa setelah Wayang Krucil pada Januari 2023 mendapatkan HAKI (Hak Atas Kekayaan Intelektual) melalui Surat Pencatatan Inventarisasi Kekayaan Intelektual Komunal Ekspresi Budaya Tradisional dari Kemenkumham RI sebagai budaya asli Kediri,” ujar Gubernur Khofifah melalui Kadisbudpar Jatim, Hudiyono.

Usai mendapatkan HAKI, kata dia, Wayang Krucil sudah saatnya semakin masif dipentaskan sebagai budaya yang mencirikhaskan Kabupaten Kediri. Harapannya, pertunjukan sebagai upaya melestarikan budaya juga untuk menarik wisatawan agar semakin banyak yang datang ke Kediri. 

Ia menjelaskan, Wayang Krucil memang hanya ada di Kediri dan ceritanya yang asli hanya fokus di Cerita Pandji. Untuk penampilan di Festival Wayang Internasional, kata dia, lakon yang dibawakan Padepokan Cipto Mudho Laras berjudul Panji Semirang oleh Dalang Ki Harjito Mudho Darsono. Antusiasme penonton juga cukup tinggi menyaksikan Wayang Krucil. 

Lakon ini menceritakan tentang pencarian seorang Panji Inu Kertapati, pangeran dari Kerajaan Kahuripan. Mengelana guna mendapatkan tambatan hati yang kian lama tak bersua, yakni Galuh Candra Kirana. Pencarian Inu Kertapati seketika pupus, ketika Sang Pujaan hati, tak diketemukan di pelabuhan cintanya di tepi bengawan kerajaan Daha. Lika-liku Inu Kertapati dimulai di ujung dermaga Daha, hatinya tak tergoyahkan meskipun Galuh Ajeng tak henti-hentinya merayu dan membujuk, tetapi hakikat dari sebuah cinta adalah kesejatian dari seribu penantian di dalam pengelanaan. 

Bumi Kadiri semakin menjingga ketika banyak raja yang juga berniat untuk menaklukan hati Galuh Candra Kirana. Kesungguhan hati Inu Kertapati bertabrakan dengan seribu raja tersebut. Entah dimana jawaban merahnya langit Kadiri kala itu, Candra Kirana masih mendekap di relung sudut tak bertepi di keraton Kadiri. 

Ketegangan pun tiba ketika Inu Kertapati bertemu dengan sosok Panji Semirang. Keduanya seakan mencari kemenangan, meski masih buta apa yang sebenarnya mereka menangkan. Abdi Inu Kertapati yang bernama Bancak dan Doyok melerai pertikaian antara keduanya, seraya mengingatkan jika selama ini yang tidak ada itu ada, dia di depan mata. Seketika berubahlah Panji Semirang ke wujud semula yakni Galuh Candra Kirana. Kembalilah suci, cinta Panji Asmarabangun dan Dewi Sekartaji. (*/red)

Tags: ,

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.