Lomba Layang-Layang Jayandaru Fest 2025 Diikuti Peserta dari Luar Kota Sidoarjo

Rudy Hartono - 30 November 2025
Beberapa peserta menuju lokasi penerbangan layang-layang di arena Jayandaru Festival (Jafest) 2025, Sidoarjo, Sabtu (29/11/2025) (foto: bima aditya/superradio.id)

SR, Sidoarjo – Lomba layang-layang menjadi salah satu rangkaian utama pada hari terakhir Jayandaru Festival (Jafest) 2025 yang digelar Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Sidoarjo, Sabtu (29/11/2025). Kegiatan ini diikuti oleh total 26 peserta dari berbagai daerah, mulai dari Gresik, Mojokerto, Jember, Tulungagung, Kediri, hingga tuan rumah Sidoarjo.

Ajang tersebut tak hanya menjadi perlombaan semata, namun juga ruang pelestarian permainan tradisional yang kini mulai jarang ditemui, terutama di kalangan anak-anak dan generasi muda.

Salah satu karya layang-layang dari Komunitas Masnasatim Gresik di arena Jayandaru Festival (Jafest) 2025, Sidoarjo, Sabtu (29/11/2025) (foto: bima aditya/superradio.id)

Koordinator lomba layang-layang, Khoirul Anam, menjelaskan bahwa penilaian dalam lomba ini dilakukan melalui dua aspek utama.

“Ada dua aspek penilaian, yakni penilaian bawah sebesar 40 persen dan penilaian atas 60 persen. Penilaian tersebut mencakup tiga bidang, yaitu seni, teknik layangan, dan kebudayaan, termasuk apakah terdapat pesan moral yang tergambar pada layang-layang yang dilombakan,” jelasnya.

Menurutnya, lomba ini menjadi salah satu cara untuk kembali mengenalkan permainan tradisional kepada masyarakat.

Salah satu karya layang-layang dari Komunitas Pelayang Cangkringsari Sidoarjo di arena Jayandaru Festival (Jafest) 2025, Sidoarjo, Sabtu (29/11/2025) (foto: bima aditya/superradio.id)

“Layang-layang merupakan permainan tradisional yang perlu terus dilestarikan. Saat ini sudah semakin jarang dimainkan, karena banyak anak-anak lebih memilih bermain gawai dibandingkan bermain di luar seperti dulu,” ungkap Ketua Seduluran Abdi Dalem Joko Dolog.

Ia pun berharap kegiatan serupa dapat terus diselenggarakan secara berkelanjutan di Kabupaten Sidoarjo.

“Harapannya, Pemerintah Kabupaten Sidoarjo bisa terus menggelar lomba layang-layang seperti ini. Perajin layang-layang di Sidoarjo sebenarnya cukup banyak, begitu pula para pelayang yang sering mengikuti lomba di luar kota, namun di Sidoarjo sendiri masih jarang menjadi tuan rumah kegiatan besar seperti ini,” ucapnya.

Khoirul Anam selaku koordinator lomba layang-layang saat menilai karya para peserta di arena Jayandaru Festival (Jafest) 2025, Sidoarjo, Sabtu (29/11/2025) (foto: bima aditya/superradio.id)

Sementara itu, salah satu peserta dari komunitas Pelayang Cangkringsari Sidoarjo, Agus Setiono, mengungkapkan bahwa keikutsertaannya dalam Jafest menjadi bagian dari upaya mengembangkan kemampuan di bidang layang-layang.

“Kami cukup sering mengikuti event lomba layang-layang, mulai dari tingkat lokal hingga nasional. Pada lomba kali ini, kami menurunkan lima layang-layang, terdiri dari empat jenis arsir dan satu layangan bermotif karakter,” ujarnya.

Ia menambahkan, proses pembuatan layang-layang membutuhkan waktu yang tidak sebentar. “Prosesnya beragam, ada yang memakan waktu satu bulan, bahkan ada yang hingga dua bulan, tergantung tingkat kesulitan bentuk dan karakternya,” jelas Agus.

Salah satu layang-layang milik peserta melenggak lenggok di udara di arena Jayandaru Festival (Jafest) 2025, Sidoarjo, Sabtu (29/11/2025) (foto: bima aditya/superradio.id)

Sementara itu, peserta asal Gresik dari komunitas Masnasatim, Wahyu Wijaya, menyoroti kondisi cuaca yang menjadi salah satu tantangan di hari perlombaan.

“Sayangnya, pada pelaksanaan hari ini kondisi angin kurang mendukung, bahkan cenderung tidak ada. Hal itu membuat cukup banyak peserta merasa kesulitan saat mencoba menerbangkan layang-layangnya,” ungkapnya. (bmz/red)

 

Tags: , , , ,

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.