Viral Pengusiran Nenek Elina, Pemot Bentuk Satgas Antipreman

Rudy Hartono - 28 December 2025
Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi

SR, Surabaya – Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya memberi perhatian serius terhadap kasus pembongkaran rumah dan pengusiran seorang nenek bernama Elina Widjajanti (80) yang diduga dilakukan oleh oknum organisasi kemasyarakatan (ormas).

Pemkot Surabaya berencana membentuk Satuan Tugas (Satgas) Anti Preman guna menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat.

Wali Kota Eri Cahyadi menegaskan bahwa Satgas Anti Preman akan melibatkan unsur TNI, Polri, serta perwakilan seluruh suku yang ada di Kota Surabaya. Langkah ini diambil untuk memastikan keamanan warga sekaligus memperkuat rasa persatuan di tengah masyarakat.

“Maka di Surabaya ini akan kita bentuk Satgas Anti Preman. Yang di sana itu ada TNI, ada Polri, dan ada seluruh suku yang ada di Kota Surabaya,” ujar Eri Cahyadi, Sabtu (27/12/2025)

Eri juga menyampaikan bahwa kasus pengusiran nenek Elina saat ini telah ditangani oleh Polda Jawa Timur. Ia memastikan akan berkoordinasi langsung dengan pihak kepolisian agar kasus tersebut mendapat perhatian khusus dan dapat segera diselesaikan.

Wakil Walikota Surabaya Armuji menemui nenek Elina Wijayanti (80) di sela sidak rumah nenek Elina yang dirobohkan secara paksa oleh ormas, Rabu (25/12/2025). (net)

“Kejadian ini sudah ditangani Polda dan nanti insya Allah saya akan ke Polda agar menjadi atensi dan masalah ini biar cepat selesai,” katanya.

Menurut Eri, penyelesaian kasus ini penting untuk menjaga kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah dan aparat penegak hukum, sekaligus memberikan rasa aman bagi seluruh warga Surabaya.

“Sehingga ada kepercayaan, ada trust warga Surabaya, ada keamanan untuk warga Surabaya,” lanjut dia.

Eri menekankan pentingnya menjaga persatuan dan menghindari perpecahan di tengah masyarakat. Dia menegaskan bahwa Surabaya adalah rumah bersama bagi seluruh suku dan golongan.

“Tapi yang pasti warga Surabaya jangan pernah terpecah belah. Kita ini adalah warga Surabaya, mau suku apa pun semuanya ada di Surabaya. Maka yang namanya Surabaya tidak mengenal suku, tapi saling menjaga warga Surabaya,” tegasnya.

Eri juga mengingatkan bahwa tidak boleh ada pihak yang menipu, membohongi, atau berbuat sewenang-wenang terhadap warga. Dia mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bersama-sama melawan tindakan premanisme tanpa menimbulkan konflik horizontal.

“Tidak boleh membohongi, menipu, berbuat semena-mena terhadap warga Surabaya. Kalau ada yang seperti itu, ayo kita lawan bareng-bareng. Kita harus berani dan insya Allah hukum tidak boleh berhenti. Tapi jangan sampai terjadi benturan antara sesama warga Surabaya. (*/ant/red)

 

 

Tags: , ,

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.