Upaya Penyadaran HAM Lewat Seni
SR, Surabaya – Seni dan budaya tidak bisa dilepaskan dari dinamika kehidupan, seperti lukisan realisme yang memotret realitas kehidupan sehari-hari.
“Di masa dulu, makin marak seniman, bermunculan sanggar lukis bernapaskan perjuangan, dan mereka banyak yang melukis tentang realisme,” kata aktivis perempuan, Erma Retang pada webinar Layak Human Right Festival 2022, Kamis (8/12/2022) malam.
Menurutnya, sejarah perjalanan seni rupa memunculkan banyaknya seniman pejuang, dan sanggar lukis yang bernapaskan perjuangan dengan melukis realisme, seperti Yayak Yatmaka atau yang lebih dikenal sebagai Yayak Iskra.
Dalam setiap karyanya, Yayak selalu menceritakan kasus-kasus pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) yang terjadi di berbagai daerah di Indonesia. Menurutnya, pelanggaran HAM saat ini diawali dengan pembantaian massal pada 1965.
Pria yang lahir di Yogyakarta pada 1956 itu berani melukiskan perkara pembantaian rakyat petani dengan judul “Tanah untuk Rakyat” yang menggambarkan permasalahan HAM dengan tiang masalahnya adalah Orde Baru.
Yayak juga melukiskan peristiwa pembantaian massal pada 1965, sehingga sempat menjadi buronan subversif di masa Soeharto.
“Antara hidup atau mati. Memang ada resiko 3B, buih, buang, bunuh, jadi resikonya besar,” jelasnya.
Satu karya lainnya berupa gambar orang berwarna abu-abu dalam keadaan terluka menunjukkan bagaimana siksaan yang didapatkan masyarakat di Klaten yang diberi judul “Kasus Pembantaian di Kaliwedi Klaten.”
Yayak selama ini melakukan riset terlebih dahulu dan meminta penjelasan dari korban ataupun pihak terkait peristiwa pelanggaran HAM yang terjadi dengan detail, agar gambar lebih hidup.
“Tidak perlu takut mengekspresikan sesuatu melalui gambar,” ujarnya.
Melalui gambar, imbuh Yayak, dapat menyentuh aspek perasaan dan mempunyai kekuatan yang hebat karena dapat bercerita. (vi/red)
Berita Terkait
Tinggalkan komentar
Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.






