Suciwati: Penegakkan HAM Mengecewakan Tak Berubah sejak Era Munir
SR, Surabaya – LBH Surabaya menggelar acara peringatan 21 tahun wafatnya aktivis HAM Munir Said Thalib di Aula LBH Surabaya pada Kamis (18/9/2025)
Rangkaian acara diawali dengan menonton bersama dua film dokumenter mengenai perjalanan hidup Munir, dilanjutkan dengan diskusi publik yang menghadirkan Suciwati selaku istri Munir, serta akademisi.
Diskusi publik menyoroti situasi HAM dan demokrasi Indonesia yang dinilai belum banyak berubah sejak era Munir. Para nara sumber menilai masih banyak aktivis yang ditangkap hingga hari ini, sehingga perjuangan menegakkan HAM harus terus dilanjutkan agar pengorbanan Munir tidak sia-sia.
Suciwati menegaskan bahwa aksi-aksi yang digelar selama bertahun-tahun belum cukup didengar negara. Ia menyebut aksi Kamisan yang telah berjalan selama 17 tahun di lebih dari 70 kota pun belum membuahkan hasil. “Aksi Kamisan sudah berjalan 17 tahun, di 72 kota, apakah sudah didengar? masih belum,” ujarnya.

Ia juga berharap generasi muda bisa tumbuh dalam suasana yang lebih adil dibandingkan era sebelumnya. “Saya melahirkan generasi baru dengan harapan mereka ini mendapatkan kebijakan pemerintah yang layak, tidak sama seperti zaman kita dulu,” tambahnya.
Acara kemudian dilanjutkan dengan doa bersama di depan pagar LBH Surabaya. Peserta membawa bunga dan lilin sebagai bentuk penghormatan. Lokasi tersebut dipilih karena di tempat itu Munir pernah berfoto sebelum wafat, sehingga memiliki makna simbolis yang mendalam.
Menurut Lingga selaku Pengabdi Bantuan Hukum LBH Surabaya, acara ini digelar sebagai upaya merawat ingatan publik sekaligus mengingatkan negara agar menuntaskan berbagai kasus pelanggaran HAM.
“Acara hari ini untuk mengingatkan kita semua bahwa Cak Munir masih berada di tengah kita semua. Walaupun beliau telah berkorban, nilai-nilai perjuangannya masih hidup. Kita juga ingin mengingatkan kepada negara, masih banyak pelanggaran HAM yang terjadi, kita tidak boleh diam dan negara harus bertanggung jawab,” kritiknya.
“Harapan kami, beberapa pelanggaran HAM yang belum terselesaikan itu harus dijadikan tolak ukur bahwa masih banyak pr terkait pelanggaran HAM. Kita juga sudah cukup lelah terhadap berbagai kekerasan yang terjadi, sehingga penting bagi kita untuk merawat ingatan bahwa Cak Munir memang sudah tiada, tetapi nilai perjuangannya tetap hidup,” tambahnya. (bmz/red)
Tags: 21 tahun, HAM, lbh surabaya, munir, superradio.id
Berita Terkait
Tinggalkan komentar
Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.





