Tips Agar Puasa Tetap Bugar dan Produktivitas Kerja Maksimal

Yovie Wicaksono - 4 April 2022
Ilustrasi. Foto : (Shutterstock)

SR, Jakarta – Tubuh yang sehat terdiri dari empat pilar yaitu sehat secara fisik, mental, spiritual dan sosial. Ibarat sebuah rumah, sehat tanpa empat pondasi tersebut maka tubuh menjadi tidak seimbang, sehingga menjadi mudah sakit. Selama bulan puasa, ada beberapa tips dan trik agar tubuh dapat menjalankan fungsinya dengan baik.

“Pola makan dan pemilihan jenis makanan yang dikonsumsi itu penting bagi tubuh kita. Selain makanan, jangan lupakan si kekasihnya, yaitu minum,” kata Medical Marketing Manager Good Doctor Technology Indonesia, Ario W. Pamungkas.

Ario mengatakan, saat sahur, perbanyak konsumsi sayur dan buah karena kandungan seratnya dapat membuat proses pencernaan menjadi lebih lambat sehingga menahan rasa lapar lebih lama. Selain itu, batasi pula konsumsi minuman atau makanan yang manis-manis karena membuat cepat lapar di siang hari.

Saat berbuka, segera minum cairan yang manis agar kebutuhan tubuh akan glukosa dan cairan dapat segera terpenuhi. Hindari makan dan minum terlalu banyak saat berbuka puasa karena dapat membebani kerja lambung.

Kemudian, aturlah agar konsumsi air putih tetap 8 gelas sehari. Ingatlah sistem 2-4-2 yakni 2 gelas saat berbuka, 4 gelas diantara berbuka hingga sahur dan 2 gelas saat sahur. 

Hindari juga minuman bersoda, makanan yang dingin, asam, pedas, dan bersantan terutama yang memiliki lambung sensitif, serta kurangi makanan yang mengandung tinggi lemak, makanan berminyak yang tidak diimbangi dengan asupan serat seperti buah dan sayur karena dapat mengakibatkan sembelit atau konstipasi.

“Untuk menjaga kebugaran dan mencegah diri dari berbagai penyakit, lakukanlah olahraga, disarankan untuk olahraga setidaknya 150 menit setiap minggunya. Namun perlu diingat, harus sesuai dengan kemampuan dan tidak memaksakan diri,” kata Ario.

Terkait kondisi ibu hamil atau menyusui yang ingin berpuasa, menurut Ario, hal tersebut perlu dikonsultasikan ke dokter kandungan. Karena kondisi setiap ibu berbeda dengan ibu lainnya. 

“Hal ini perlu diperiksa oleh dokter dan direncanakan secara personal. Tentunya kecukupan gizi si bayi di dalam kandungan dan kualitas ASI untuk bayi menjadi prioritas kita. Tidak perlu dipaksakan berpuasa, puasa yang ditinggal masih bisa kita bayar atau ganti di kemudian hari, atau dengan membayar fidyah,” katanya.

Sementara bagi orang yang sudah tua, kata dr. Ario, harus dipastikan kondisi fisik masih kuat dan mampu untuk melaksanakan puasa, bisa dipastikan dengan memeriksakan diri ke dokter. 

Dikatakan, orang tua yang ingin berpuasa harus menerapkan pola makan sehat, minum air putih 1,5 – 2 liter sehari dan jangan hanya mengandalkan suplemen. Selain itu, banyak konsumsi makanan berserat, kurangi lemak dan kolesterol, batasi garam dan jauhi minuman keras.

“Tetap berolahraga dan aktif secara fisik, namun harus disesuaikan dengan kemampuan fisik, mengingat dari segi usia yang sudah tidak muda lagi,” katanya.

Menurut dr. Ario, mengonsumsi suplemen atau vitamin saat berpuasa sangat diperbolehkan. Namun, suplemen atau vitamin tidak perlu harus yang mahal, karena dengan mengonsumsi makanan yang bergizi seimbang, bervariasi jenisnya dan warna warni (seperti wortel, cabai merah, sayur hijau) ini sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan akan vitamin dan mineral sehari-hari.

“Saya ingin mengingatkan, ada beberapa keadaan yang dapat menurunkan imunitas kita seperti kurang tidur, cemas atau stress, kurang vitamin D, dalam pengobatan kanker, dan kurang sayur dan vitamin. Jadi kalau mau segar dan bugar pagi harinya, selalu ingat jam tidur harus tercapai ya minimal 7 – 9 jam sehari,” kata Ario. (ns/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.