Tanggapan Pegiat GusDurian soal Museum SBY Dikaitkan Makam Gus Dur

Yovie Wicaksono - 21 February 2021
Maket museum dan galeri seni SBY-Ani. Foto: (Humas Pemkab Pacitan)

SR, Surabaya – Pembangunan Museum Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Galeri Seni SBY-ANI di Kabupaten Pacitan, Jawa Timur, yang mendapat bantuan keuangan khusus berupa dana hibah dari Pemprov Jawa Timur melalui APBD Pacitan sebesar Rp9 miliar, belakangan menuai polemik.

Hal tersebut ditambah dengan cuitan Politisi Partai Demokrat Rachland Nashidik di jejaring Twitter miliknya, Rabu (17/2/2021) yang mengaitkan polemik tersebut dengan makam Presiden Keempat RI, KH Abdurrahman Wahid alias Gus Dur yang dikatakannya dibiayai oleh negara.

Putri sulung Gus Dur, Alissa Wahid pun akhirnya buka suara, Rachlan Nashidik diminta berhati-hati sebelum melontarkan tudingan kepada Gus Dur.

“Bang Rachlan Nashidik, makam Gus Dur sampai saat ini dibiayai oleh keluarga Ciganjur, termasuk prasasti. PP Tebuireng pun hormati ini.  Dana Negara tidak untuk makam tetapi untuk jalan raya, lahan berjualan warga. Maklum, ada 1,5-2 juta peziarah setiap tahun. Negara urus ini,” tulis Alissa Wahid dikutip dari akun Twitter @AlissaWahid pada Sabtu (20/2/2021).

Sementara itu, Pegiat GusDurian Jombang, Aan Anshori mengatakan SBY berhak mendapatkan perlakuan yang sama dengan presiden lainnya, termasuk dalam hal pembiayaan museum yang sedang digagas. Namun, secara politik, mengaitkan masalah pembiayaan tersebut dengan makam Gus Dur dinilai tidak tepat dan malah justru kontraproduktif.

“SBY dan para kadernya berpotensi membawa isu ini ke arena yang lebih liar. Apalagi menurut Ciganjur, makam Gus Dur dibangun dengan dana non-pemerintah,” ujar Aan, Minggu (21/2/2021).

“Siapapun yang menuding sebaliknya, harus minta maaf. Tidak hanya ke Ciganjur, namun juga perlu datang langsung ke makam Tebuireng,” imbuhnya.

Menurut Aan, hal ini perlu dilakukan agar SBY dan Demokrat bisa menjadi teladan kenegarawanan bagi publik. “Dulu juga pernah ada politikus Demokrat, yang sudah almarhum, menuding Gus Dur yang tidak tepat,” sambungnya.

Terkait museum, Aan menyarankan SBY mengembalikan dana dari pemerintah karena telah menimbulkan kontroversi. Museum tersebut sebaiknya dibangun dengan cara mengoptimalkan kontribusi dari masyarakat (crowdfunding).

“Saya yakin pak SBY mampu melakukannya,” tandasnya.

Sekedar informasi, pada Sabtu (20/2/2021), Rachlan Nashidik mengatakan bahwa tweet-nya soal makam Gus Dur didasarkan pada informasi yang dia baca dari sebuah situs berita yang tautan artikelnya telah dilampirkan. Dimana isi artikel itu, yang potongan isinya menjelaskan bahwa pemerintah melengkapi kawasan makam Gus Dur dengan berbagai fasilitas, seperti tempat parkir, kamar mandi, museum, perpustakaan, pagar, bahkan perluasan jalan.

“Poin saya, negara atas dasar penghargaan terhadap Presiden Gus Dur memikirkan agar makam Gus Dur mendapat fasilitas yang memudahkan warga yang berziarah. Perhatian tersebut diekspresikan dalam rapat kabinet yang menyepakati kawasan makam akan dibuat senyaman mungkin,” kata Rachland.

Dia mengatakan, netizen yang membaca tweet-nya perlu juga membaca artikel tersebut agar tidak salah paham.

“Saya sudah membaca ulang twit saya dan menyadari bahwa tanpa membaca berita itu, netizen bisa salah mengerti, bahwa yang dibangun bukanlah makam itu sendiri, melainkan fasilitas publiknya. Meski tidak juga bisa dibantah bahwa fasilitas yang melengkapi makam itu dibangun Negara sebagai wujud penghormatan kepada Presiden Abdurrahman Wahid. Saya memohon maaf,” kata Rachland. (*/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.