Tanggapan Dosen Agama Unair Soal Film “The Santri”

Yovie Wicaksono - 22 October 2019
Ilustrasi.

SR, Surabaya – Dalam rangka menyambut Hari Santri Nasional yang diperingati pada Selasa (22/10/2019), Pengurus Besar Nahdatul Ulama (PBNU) bekerja sama dengan sutradara Livi Zheng dan adiknya, Ken Zheng memproduksi film “The Santri”. Namun, setelah rilis trailernya pada September lalu, film itu menuai sejumlah kontroversi.

Banyak masyarakat yang menilai film ‘The Santri’ tidak mencerminkan kehidupan santri di pesantren dan pesan yang disampaikan tidak sesuai dengan syariat Islam.

Menanggapi hal tersebut, salah satu dosen agama Universitas Airlangga (Unair), Ahmad Syauqi menyatakan, kritikan dan ancaman masyarakat memboikot film yang akan rilis tepat pada Hari Santri itu terlalu terburu-buru. Dia beranggapan, golongan yang kontra terhadap film tersebut seharusnya tidak langsung menilai keseluruhan isi film hanya dari trailer saja.

“Film nya belum utuh, jangan terlalu sentimen dengan buru-buru memberi label liberal. Menginginkan semua orang suka pada film itu memang mustahil, karena persoalan pro dan kontra pasti ada. Namun, akan lebih baik apabila ditonton dulu full film nya setelah rilis baru kita lihat apakah substansinya bertentangan atau tidak,” ujar pria yang akrab disapa Gus Syauqi ini.

Adegan santriwati saat mengantar tumpeng di gereja menjadi sasaran utama yang dikritik oleh masyarakat. Dosen sekaligus pembina KMNU Unair itu menerangkan, ada perbedaan pendapat ulama mengenai hukum masuk rumah ibadah agama lain. Menurutnya, dalam kitab ‘Ushul Fiqih’ dalam Mazhab Hanafi mengatakan hukumnya makruh, Mazhab Maliki memperbolehkan, sedangkan Mazhab Syafii sebagian menyatakan tidak boleh dan sebagiannya lagi menyatakan tidak haram masuk gereja.

Selain itu, Gus Syauqi juga bercerita tentang sahabat Umar bin Khattab yang mendapat undangan jamuan di gereja dari kaum nasrani di Syam. Saat itu, Umar mengutus Ali bin Abi Thalib untuk memenuhi jamuan di gereja dengan maksud menghindari fitnah karena saat itu Umar menduduki posisi sebagai khalifah. Sehingga ditakutkan apabila Umar yang datang akan memunculkan persepsi dia ingin merebut gereja untuk diubah menjadi masjid.

“Jadi boleh saja masuk gereja atau rumah ibadah agama lain asalkan tidak bermaksud menimbulkan kesyirikan dan mengikuti kegiatan ibadahnya,” ujarnya.

Kontroversi mengenai tatapan mata antara santriwati dengan santri dalam trailer itu juga menuai perdebatan. Melihat hal itu, Gus Syauqi menerangkan bahwa adegan itu tidak mengandung unsur tidak senonoh, immoral, dan pelecehan.

“Tatapan sekilas seperti itu saya rasa juga ada kok di pesantren, yang penting hal itu tidak melanggar prinsip syariah,” ungkapnya.

Lebih lajut, Gus Syauqi menerangkan, film tersebut merupakan salah satu langkah bagus dari PBNU dalam mempromosikan santri dan karakter seorang muslim yang istiqomah menjalankan ilmu agama namun mampu menjawab tantangan zaman.

“Saya mendukung penuh film ‘The Santri’, karena melalui film itu kesan santri yang dikenal kumuh dan kurang pergaulan ternyata mampu bersaing di dunia internasional,” pungkasnya. (*/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.