Akademisi Jepang Ikut Tari Jaranan di Festival Seni Bandeng Asap Sidoarjo

Rudy Hartono - 4 November 2025
Seni tari jaranan yang dimainkan Paguyuban Kesenian Jaranan Wahyu Bawono jadi acara puncak Festival Seni Bandeng Asap, di halaman Dewan Kesenian Daerah Sidoarjo, Jl Airlangga, Sidoarjo, Minggu (2/11/2025). (foto: anton/superradio.id)

SR, Sidoarjo – Asisten guru bahasa Jepang dari Japan Foundation, Kageki Takeshi kagumi Festival Seni Bandeng Asap 2025  yang digelar di area Gedung Dewan Kesenian Daerah Sidoarjo, Minggu (2/11/2025). Ada banyak seni yang ditampilkan dalam Festival Seni Bandeng Asap, di antaranya tari tarian, pameran lukisan, campursari, serta seni jaranan, serta kirab gunungan bandeng asap.

Asisten guru bahasa Jepang dari Japan Foundation, Kageki Takeshi, ikut joget  bersama penari jaranan di Festival Seni Bandeng Asap, di halaman Dewan Kesenian Daerah Sidoarjo, Jl Airlangga, Sidoarjo, Minggu (2/11/2025). (foto: anton/superradio.id)

Takeshi baru tiga bulan dari enam bulan programnya  mengajar bahasa Jepang di SMKN 3 Sidoarjo. “Saya suka melihat kebudayaan Indonesia, saya tadi keliling dewan kesenian dan melihat puluhan lukisan, luar biasa sekali,” kata Takeshi saat didaulat memberi kesan di atas panggung.

Takeshi begitu antusias mengikuti satu persatu sajian kesenian dalam Festival Seni Bandeng Asap. Bahkan ia tidak ragu ikut joget mengikuti gamelan jaranan. “Sungguh menyenangkan juga mendebarkan bisa merasakan atmosfir seniman yang sedang trance (antara sadar dan tidak),” komentarnya usai joget.

Gunungan ikan bandeng asap di arak keliling dusun menandai dimulainya resepsi Festival Seni Bandeng Asap, di halaman Dewan Kesenian Daerah Sidoarjo, Jl Airlangga, Sidoarjo, Minggu (2/11/2025). (foto: anton/superradio.id)

Jaranan yang di mainkan grup Paguyuban Kesenian Jaranan Wahyu Bawono  menjadi sajian puncak Festival Bandeng Asap 2025. Para penampil semuanya pemuda dan pemudi usia remaja. Dipandu seorang spiritualis dan usai dibacakan mantera juga asap kemenyan, para penari jaranan beraksi dalam keadaan trance atau setengah sadar sehingga gerakan terlihat atraktif seakan tak kenal lelah mengikuti alunan irama gamelan dan serunai yang melengking naik turun. Di tengah terik matahari, sesekali penari terbujur kaku di tanah saat kalah tanding, ia baru bangkit lagi setelah dibasuh kain basah bermantera oleh spiritulis.

Sebelum atraksi jaranan  ibu ibu Paguyuban Wahyu Larasati unjuk kebolehan mainkan gamelan dan lantunkan kidung dan tembang-tembang mocopat. Salah seorang pemerhati budaya dan sejarah Sudi Harjanto menyimak serius gending-gending yang dimainkan ibu-ibu Wahyu Larasati. “Yang di lantunkan ibu-ibu itu orisinil khas kesenian pesisir, karena Sidoarjo ada di garis pantai Utara Jawa, jadinya kalau diperhatikan syair yang dilontarkan bahasanya campuran,” komentar Sudi yang sehari-hari berprofesi seorang dokter itu.

Anak-anak dari Sanggar Tari dari Sembrani Art menampilkan gerak tari baru berjudul Buri Bandeng (panen Bandeng), membuka acara Festival Seni Bandeng Asap, di halaman Dewan Kesenian Daerah Sidoarjo, Jl Airlangga, Sidoarjo, Minggu (2/11/2025). (foto: anton/superradio.id)

Tidak hanya ibu ibu dan remaja, bahkan anak anak dari sanggar tari Sembrani Art menampilkan gerak tari baru yang diberi judul Buri Bandeng (panen Bandeng). Tarian itu ada kesesuaian  dengan nama kegiatan Festival Bandeng Asep yang digelar Dekesda Sidoarjo.  Pada tarian itu menggambarkan saat panen ikan bandeng yang di dalamnya ada nilai-nilai keluhuran, ada nilai sosial, kerjasama, serta ada nilai berbagi rezeki.

Atas berbagai atraksi itu Ketua Dekesda Sidoarjo Ribut Wijoto mengucapkan terimakasih atas  partisipasi masyarakat seni di Sidoarjo. Dikatakan latar belakang digelarnya festival ini untuk mempopulerkan salah satu kuliner khas Sidoarjo, yakni Bandeng Asap. “Sebagai salah satu daerah penghasil ikan bandeng, memang ada banyak masakan berbahan baku ikan bandeng, misalnya presto, asem-asem, dan lainnya. Tapi olahan masakan khas Sidoarjo adalah bandeng yang di asap atau dikenal Bandeng Asap,” terang Ribut.

Ketua Dewan Kesenian Daerah Sidoarjo Ribut Wijoto menyambut para tamu dan juga para seniman budayawan yang hadir dan berpartisipasi dalam Festival Seni Bandeng Asap. (foto: anton/superradio.id)

Dijelaskan Festival Seni Bandeng Asap 2025 ini merupakan penyelenggaraan kali ke-5, yang pelaksanaannya dilakukan berbeda-beda lokasi dengan  seni budaya yang ditampilkan  berbeda pula. Festival pertama digelar itu tahun 2020, kemudiannya kedua tahun 2021, yang ketiga tahun 2023 itu kita adakan di Desa Damarsi, Kecamatan Buduran, kemudian yang keempat itu kita adakan tahun kemarin, tahun 2020.

Festival Seni Bandeng Asap tahun ini, ini festival yang kelima, pertama itu kita adakan tahun 2020 di sini, yang kedua itu tahun 2021. Pada festival ke-3, tahun 2023, setelah pandemi Covid 19,  Festival Seni Bandeng Asap diselenggarakan di Desa Damarsih, Kecamatan Buduran.  bekerja sama dengan Pembes Damarsih. Festival dimeriahkan oleh seniman budayawan yang ada di Desa Damarsih.

Pameran luksian karya seniman-seniman Sidoarjo dipamerkan di galeri Dekesda Sidoarjo dalam rangkaian Festival Seni Bandeng Asap, Jl Airlangga, Sidoarjo, Minggu (2/11/2025). (foto: anton/superradio.id)

Kemudian festival ke-4  tahun 2024, Festival Seni Bandeng Asap diselenggarakan di Desa Cemandi, Kecamatan Sedati. Kegiatan itu  kerjasama dengan pemerintah desa  Cemandi dan seniman dan budayawan setempat. Dalam festival itu ditampilkan Reog Cemandi, salah satu seni tradisional Sidoarjo yang nyaris punah, kemudian reog lansia, Penca Wanoro Seto, serta penampilan sejumlah grup tari dari Desa Cemandi.

“Tahun ini atas permintaan warga Desa Celep, meminta agar Festival Seni Bandeng Asap diselenggarakan di Dekesda di Desa Celep. Kami berkomitmen akan terus menyelenggarakan festival ini secara berkesinambungan,” tegas Ribut.

Ibu-ibu Paguyuban Wahyu Larasati unjuk kebolehan mainkan gamelan dan lantunkan kidung dan tembang-tembang mocopat di Festival Seni Bandeng Asap, di halaman Dewan Kesenian Daerah Sidoarjo, Jl Airlangga, Sidoarjo, Minggu (2/11/2025). (foto: anton/superradio.id)

Sementara itu Asisten II Bidang Perekonomian dan Pembangunan Kabupaten Sidoarjo, Mahmud, berjanji akan membicarakan dengan bupati Sidoarjo kemungkinan untuk memasukkan kegiatan Festival Seni Bandeng Asap ini dengan berbagai kegiatan seni atau festival lainnya di Kabupaten Sidoarjo.

“Ada banyak festival di Sidoarjo, Festival Bandeng Asap, Festival Jetis, Festival Lelang Bandeng, dan kegiatan seni tradisi lain oleh OPD (organisasi perangkat daerah) lain. Akan lebih bagus dan lebih semarak jika berbagai festival disatukan penyelenggaraannya dalam kegiatan rutin Seni Jayandaru,” gagas Mahmud. (ton/red)

 

Tags: , , ,

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.