Taklukkan Puncak Gunung Kawi, Pembuktian Diri Penyandang Disabilitas 

Yovie Wicaksono - 11 December 2020
Kholil (kiri) bersama Erik Wahyu (kanan), disabilitas netra yang berhasil mencapai puncak Batu Tulis Gunung Kawi. Foto : (Istimewa)

SR, Malang – Ada yang berbeda di basecamp pendakian Gunung Kawi, di wilayah Wisata Taman Pakis, Dusun Maduarjo, Desa Babadan, Kecamatan Ngajum, Sabtu (5/12/2020). Pagi itu, 16 orang tim khusus dari Lingkar Sosial (LINKSOS) Indonesia, yang terdiri dari penyandang disabilitas dan pendamping sedang melakukan pemanasan. 

Dibawah arahan Erik Wahyu (disabilitas netra), mereka mempersiapkan diri untuk mendaki Gunung Kawi yang memiliki ketinggian 2603 mdpl. 

Setelah melakukan pemanasan selama 15 menit, mereka menggelar doa bersama, dan memulai perjalanan pada 07.50 WIB. Mereka berjalan beriringan, dengan formulasi satu difabel, satu pendamping.

Total ada tiga orang disabilitas netra, satu tuli, satu disabilitas fisik dan dua orang yang pernah mengalami kusta ikut dalam pendakian ini.

Jalur yang dilalui tim ini tidaklah mudah, terlebih sehari sebelumnya, di kawasan tersebut turun hujan dan membuat jalur menjadi lebih licin. Sekira 10.15 WIB, mereka sampai di pet bocor 1 atau Pos 1.

Beberapa diantara mereka terlihat mengambil air yang mengalir dari pipa dan ada juga yang mencuci muka serta mengistirahatkan diri sejenak. 

Selanjutnya, mereka melanjutkan perjalanan menuju pet bocor 2 dan tiba pada 12.15 WIB. Selepas dari pet bocor 2 inilah, jalur yang dilalui penuh dengan tantangan. Selain terus menanjak, jalur yang dilalui merupakan lintasan air yang licin pada saat hujan turun. 

Tim pun memutuskan untuk mendirikan tenda di Pos 2, pada 15.00 WIB, setelah Priyo (disabilitas fisik) mulai merasakan keluhan saat berjalan. Di Pos 2 ini, mereka mendirikan lima tenda.

Di Pos 2 ini, Erik Wahyu menjadi “koki” atau juru masak bagi tim. Di tengah keterbatasan yang dimiliki dan hujan yang turun sejak siang hari, ia menyiapkan makan malam dan kopi bagi seluruh anggota tim. 

“Seperti biasanya, Erik juga melakukan hal sama. Teman-teman tunanetra memang memilih jadi juru masak saat mendaki,” kata Ketua LINKSOS Kertaning Tyas. 

Esok hari, sekira 02.30 WIB, tim mempersiapkan diri melanjutkan perjalanan menuju puncak Batu Tulis.

Setelah semua tim berkumpul, mereka memulai perjalanan pada 03.30 WIB hingga tiba di Pos 3 pada 05.30 WIB.

Sesaat setelah istirahat di Pos 3, yang berada di ketinggian 2.400 mdpl, 11 orang melanjutkan perjalanan dan 5 lainnya memutuskan untuk beristirahat, sembari mengembalikan kondisi fisik yang terkuras, karena jalur tanjakan sejak Pos 2.  

Kertaning Tyas saat membantu Priyo (disabilitas fisik) naik menggunakan seutas tali. Foto : (Istimewa)

Dari ketinggian 2.400 mdpl ini, ada berbagai tantangan menuju puncak Batu Tulis. Diantaranya, derajat kemiringan jalur pendakian yang mencapai 85 derajat, sehingga pendaki memerlukan bantuan tongkat dan tali. Bahkan pada beberapa titik pendakian, harus merangkak.

Tantangan kedua, struktur tanah yang berpasir dan berbatu. Batu-batu yang nampak diatas permukaan tanah rerata sebesar tiga kepalan tangan orang dewasa. Struktur ini menyebabkan bebatuan mudah longsor, dan licin ketika terkena air hujan.

Tantangan berikutnya, tidak ditemukan sumber air. Pendaki kerap kehabisan stok air dan merasa lemas karena dehidrasi. Pada bagian inilah, demi alasan keselamatan, pendaki memilih menyudahi pendakian. 

Beratnya medan yang ditempuh, membuat tidak semua anggota tim berhasil ke puncak. Total, enam orang saja yang berhasil mencapai puncak Batu Tulis, meliputi 2 orang disabilitas netra, satu orang yang pernah mengalami kusta dan 3 orang pendamping. Sedangkan 10 orang lainnya bertahan di ketinggian sekira 2.400 mdpl, atau diatas Pos 3.

Meski begitu, Kertaning Tyas mengaku bangga dengan semangat dan soliditas tim. Baginya yang terpenting adalah proses yang dilalui. 

“Puncak adalah bonus. Terpenting adalah proses yang dilalui teman-teman semua,” ujarnya.

Proses Turun Gunung

Sri Eko Wati (kerudung merah muda) saat memberikan arahan kepada Elin (kerudung hitam). Foto : (Istimewa)

Setelah merasa cukup menikmati indahnya pemandangan Gunung Arjuno, Welirang, Semeru dan Penanggungan dari puncak Batu Tulis. Tim memutuskan untuk memulai perjalanan turun ke Pos 2.

Proses turun gunung tidak mudah, beberapa pendaki pada beberapa titik harus duduk dan merosot. Selain karena jalur yang curam, kondisi jalur yang licin juga rentan terhadap keselamatan diri. 

Elin (disabilitas netra), adalah salah satu yang memilih duduk saat turun. Dengan arahan Sri Eko Wati (pendamping), Elin menyusuri jalur yang didominasi hutan pinus ini. 

“Awas Lin, ada tangga kecil. Sebelah kiri kayu, buat pegangan.” Arahan seperti ini, beberapa kali terdengar dari Sri Eko Wati. 

Sekira 12.00 WIB, tim tiba di pos 2. Setelah istirahat, makan siang dan memasukkan tenda serta perlengkapan lain ke tas masing-masing. Mereka pun melanjutkan perjalanan turun. 

Berangkat dari Pos 2 pada 15.00 WIB, mereka tiba di basecamp pendakian pada 00.00 WIB dengan kondisi sehat dan selamat. 

Perjalanan turun ditempuh lebih lama dari waktu normal, karena beberapa kali tim tersesat dan harus menghubungi tim basecamp untuk petunjuk arah. Priyo (disabilitas fisik), menjadi anggota tim yang tiba lebih dulu di basecamp, karena dijemput oleh tim penyelamat mengingat kondisi fisik yang tidak memungkinkan. 

“Saya sengaja menghubungi tim basecamp dan meminta mereka untuk menjemput Priyo lebih dulu,” ujar Yovi, salah satu tim pendamping.  

Misi Khusus

16 orang tim khusus dari Lingkar Sosial (LINKSOS) Indonesia yang melakukan pendakian Gunung Kawi. Foto : (Istimewa)

Sebelum di Gunung Kawi ini, tim ini telah melakukan beberapa pendakian. Diantaranya Perbukitan Srigading (825 mdpl), Gunung Wedon (625 mdpl), Gunung Banyak (1.315 mdpl), serta Gunung Butak (2.868 mdpl).

Ada beberapa alasan mengapa tim khusus ini memilih melakukan pendakian. Selain sebagai olahraga dan memperingati Hari Disabilitas Internasional, pendakian ini merupakan kampanye hapus stigma disabilitas. 

“Kami melakukan kampanye ini sejak Juli lalu dan puncaknya adalah pendakian Gunung Kawi di bulan Desember ini,” terang Kertaning Tyas. 

Melalui pendakian ini, penyandang disabilitas ingin membuktikan diri bahwa mereka tidak kalah dengan lainnya. Mereka mampu untuk lebih dan bisa mandiri di tengah keterbatasan. Ide pendakian ini pun berasal dari difabel itu sendiri.

Keterlibatan dua orang yang pernah mengalami kusta (OYPMK) anggota Kelompok Perawatan Diri (KPD) Bengkura Mas, binaan Puskesmas Nguling, Kabupaten Pasuruan sendiri menjadi kampanye bahwa kusta adalah penyakit yang tergolong sulit menular. Sekaligus membuktikan bahwa orang yang mengalami kusta tidak harus dikucilkan dari pergaulan sosial. 

“Saya senang bisa ikut pendakian ini. Sekaligus ingin membuktikan bahwa orang yang pernah mengalami kusta mampu dan tidak layak untuk dikucilkan,” kata Mohammad Darojat,  pria asal Nguling, Pasuruan yang pernah mengalami kusta ini. 

Pendakian ini sendiri akan terus berlanjut di masa mendatang. “Kami juga menerima para penyandang disabilitas yang memiliki hobi mendaki bisa bergabung,” pungkas Kertaning Tyas. (ng/red) 

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.