Surabaya Miliki Berbagai Fasilitas Kegiatan Positif di Luar Sekolah

Fena Olyvira - 7 April 2019
Aktifitas Literasi di Salah Satu Taman Baca Masyarakat di Surabaya. Foto : (Humas Pemkot Surabaya)

SR, Surabaya – Pemerintah Kota Surabaya, Jawa Timur, terus membuat inovasi di dunia pendidikan, salah satunya dengan membangun berbagai fasilitas yang mewadahi agar anak-anak mendapat kegiatan positif di luar sekolah.

Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini, di Surabaya, Minggu (7/4/2019), mengatakan kepada Antara, fasilitas di luar sekolah yang disediakan tersebut seperti membangun Rumah Bahasa, Rumah Matematika, Broadband Learning Center (BLC), serta ruang kerja bersama Koridor di gedung Siola Surabaya.

“Untuk koridor ini tidak hanya digunakan untuk startup, tetapi juga bagi siswa untuk akses materi pembelajaran daring secara gratis,” katanya.

Selain itu, Pemkot Surabaya juga menyediakan sebanyak 1.900 titik layanan internet gratis berupa pemasangan wireless fidelity (wifi) guna menunjang kebutuhan informasi bagi masyarakat di era digital.

“Kami menyediakan akses internet yang sehat untuk semua orang di Surabaya,” ujarnya.

Tidak hanya itu, Pemkot Surabaya membuat strategi peluang belajar agar dapat diakses oleh semua orang, terlepas dari latar belakang ekonomi, seperti halnya dengan membangun 1.430 perpustakaan umum dan sudut baca atau taman baca masyarakat (TBM) yang tersebar di seluruh kota, termasuk di taman umum dan di daerah perumahan yang miskin.

“Setiap hari tidak hanya difungsikan sebagai perpustakaan saja, tetapi juga sebagai tempat yang menyenangkan bagi anak-anak untuk belajar,” katanya.

Menurut wali kota perempuan pertama di Surabaya ini, pustakawan atau pegawai di perpustakaan selain melayani para pengunjung, juga sebagai guru untuk membantu anak-anak dalam mengerjakan pekerjaan rumah atau pelajaran sekolah.

Kepala Dinas Arsip dan Perpustakaan Surabaya Musdiq Ali Suhudi sebelumnya sejak 2014, Surabaya sudah mencanangkan kota literasi. Hingga saat ini, Pemkot Surabaya sudah mengelola 461 TBM yang tersebar di berbagai kelurahan di Surabaya dan dua perpustakaan daerah yang ada di Balai Pemuda dan Rungkut.

“Kami juga melakukan pendampingan terhadap 811 perpustakaan sekolah di SD, SMP, dan madrasah,” ujarnya.

Untuk mengelola banyaknya perpustakaan itu, dibutuhkan sistem yang mampu memonitor dan mengawasi petugas serta kegiatannya, sehingga pelayanan perpustakaan lebih efektif dan efisien. Sistem yang digunakan saat ini adalah “Digital Integrated Library System” (DILS).

Musdiq mengatakan, DILS ini merupakan sistem perpustakaan terintegrasi digital yang digunakan untuk mengelola data, terutama mengenai koleksi buku, e-book, maupun sumber referensi lain agar dapat diakses secara terbuka dan gratis oleh masyarakat.

DILS ini dapat diakses melalui: http://dispusip.surabaya.go.id/dils. “Sistem ini masih baru dan kami bagi menjadi dua konten, yaitu internal melalui e-TBM dan eksternal melalui library one search (LOS),” kata dia

Banyaknya fasilitas untuk kegiatan luar sekolah itu menjadi salah satu materi yang disampaikan Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini saat menjadi pembicara dalam St. Petersburg International Educational Forum ke-10 di Rusia pada 25–29 Maret 2019. Forum yang dihadiri lebih dari 20 ribu orang dari berbagai negara ini bertujuan membahas berbagi isu-isu pendidikan dari berbagai penjuru dunia. (*/ant/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.