Di Tangan Mahasiswi Ini, Limbah Kaca dan Masker Jadi Berguna

Yovie Wicaksono - 17 September 2022
Stool (tempat duduk multifungsi yang bisa menjadi meja) dan lampu dari masker bekas karya Olivia Tantiono, Mahasiswi UK Petra Surabaya. Foto : (Istimewa)

SR,Surabaya – Athalia Michelle Sutawijaya dan Olivia Tantiono, berhasil mengubah limbah kaca di Pantai dan Limbah Masker menjadi barang yang berguna. Inovasi ini, karya Tugas Akhir (TA) dalam wisuda ke-82 UK Petra yang merupakan hasil dari Outcome Based Education-Leadership Enchancement Program (OBE-LEAP) UK Petra jenis Research and Innovation yang sejalan dengan program Merdeka Belajar-Kampus Merdeka (MBKM).

Athalia Michelle Sutawijaya, mahasiswi yang lulus dengan predikat cumlaude ini mengangkat TA bertajuk “Perancangan Inovasi Bisnis Sela Jewelry sebagai Perhiasan Berbahan Seaglass di Bali”.

“Saya sangat terdorong memanfaatkan limbah kaca untuk menjadi produk yang bernilai lebih bahkan bisa menjadi tambahan penghasilan. Sekaligus saya ingin mengurangi limbah yang ada di pantai,” ujar perempuan yang akrab disapa Michelle ini.

Sekadar informasi, seaglass adalah limbah serpihan kaca yang sudah dihaluskan secara alami oleh air, ombak, dan pasir. Jadi, saat ada serpihan kaca terendam dalam air asin dan terombang-ambing karena pasir dan ombak selama sekitar 5 – 50 tahun, ujung dan sudut serpihan kaca yang tajam pun jadi halus.

Awalnya pemilik IPK 3,57 itu mencari bahan bakunya di pantai berkarang atau berbatu, kemudian dirapikan bentuknya ke tukang batu. Baru diproses menjadi sebuah perhiasan yang cantik.

“Saya mendesainnya seaglass ini menggunakan copperwire yang menghasilkan tiga produk yaitu kalung, gelang dan cincin dengan brand bernama Sela Jewelry,” imbuh gadis kelahiran Denpasar ini.

Brand Sela Jewelry dengan desain yang simple dan mengikuti trend ini telah berjalan dan dipasarkan secara online melalui Shoppe dan Intagram. Usaha yang dimulainya sejak sekitar bulan April 2022 ini telah berhasil menjual sebanyak 17 kalung, 10 gelang dan 14 cincin.

Sela Jewelry, karya Athalia Michelle Sutawijaya, mahasiswi UK Petra Surabaya. Foto : (Istimewa)

Sementara itu, Olivia Tantiono, yang menemukan inovasi untuk mengelola sampah masker, berawal dari virus Covid-19, yang penyebarannya sangat cepat melalui droplet atau percikan cairan dari saluran pernafasan. Mahasiswi pemilik IPK 3,67 ini, mengubah sampah masker menjadi barang yang bisa dipakai.

Olivia menghasilkan karya berupa stool (tempat duduk multifungsi yang bisa menjadi meja) dan lampu dari masker bekas tersebut.

Sebelum menjadi hasil karya, Olivia harus melalui tahapan proses. Bahkan untuk menjaga keselamatan diri, Olivia melakukan observasi dengan mengikuti pelatihan pengelolaan sampah dan daur ulang masker bekas secara online.

Awalnya ia mengumpulkan masker bekas pakai dari keluarga, teman dan lingkungan di sekitar tempat tinggalnya. Kemudian ia mencuci masker bekas tersebut sesuai dengan arahan dari Kementerian Kesehatan terkait pedoman Kelola Limbah Masker Masyarakat Menggunakan Cairan Desinfektan.

Setelah itu dijemur dibawah sinar matahari hingga kering dan limbah masker dapat diolah kembali. Sampah masker ini bisa menjadi sangat indah jika terkena cahaya.

“Saya sudah mencoba berbagai metode, kurang lebih 20 kali. Tetapi pada akhirnya untuk memperoleh hasil maksimal maka saya menggunakan teknik press heat dan material komposit lem serta serbuk masker.”, pungkas gadis kelahiran Bondowoso ini. (*/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.