Stok Plasma Kosong, Deni Wicaksono Ajak Penyintas Covid-19 Lakukan Donor

Yovie Wicaksono - 3 December 2020
Anggota Komisi E DPRD Jatim, Deni Wicaksono. Foto : (Istimewa)

SR, Surabaya – Anggota DPRD Jawa Timur, Deni Wicaksono mengajak para mantan penderita Covid-19 untuk melakukan donor plasma. 

“Pemprov Jatim dan seluruh Pemkab/Pemkot harus hadir memberikan dukungan agar mantan penderita Covid-19 atau survivor Covid-19 secara sukarela mau mendonorkan plasma. Harus ada langkah dorongan dari pemerintah, termasuk dengan memberikan apresiasi, agar saudara-saudara kita mantan penderita Covid-19 bersedia mendonorkan plasmanya,” ujar Deni dikonfirmasi, Rabu (2/12/2020). 

Deni menyampaikan hal tersebut setelah mengecek stok plasma konvalesen di Palang Merah Indonesia (PMI) Surabaya mengalami kekosongan. Sejak Juli hingga November, PMI Surabaya mencatat sudah sekitar 1.500 kantong plasma konvalesen disalurkan untuk membantu para penderita Covid-19 yang masih berjuang melawan virus tersebut. 

“Kecukupan stok ini harus menjadi perhatian kita semua, karena kasus aktif dan kasus kematian akibat Covid-19 di Jawa Timur masih tinggi,” ujarnya.

Seperti diketahui, Badan Litbangkes Kementerian Kesehatan secara resmi telah memulai penelitian Uji Klinik Terapi Plasma Konvalesen pada pasien Covid-19 pada September 2020. Uji klinik ini berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor HK.01.07/MENKES/346/2020 tentang Tim Penelitian Uji Klinik Pemberian Plasma Konvalesen Sebagai Terapi Tambahan Covid-19.

Terapi plasma konvalesen pada Covid-19 hingga kini hanya boleh digunakan untuk kondisi kedaruratan dan dalam penelitian. Manfaat terapi ini masih terus diuji efektivitasnya secara ilmiah. RSUD dr. Soetomo milik Pemprov Jatim termasuk salah satu RS yang memakai terapi plasma konvalesen untuk terapi pasien Covid-19. Beberapa kasus membuktikan terapi plasma konvalesen membantu agar pasien tidak jatuh dalam kondisi berat. 

“Penggunaan plasma darah dari penderita yang sudah sembuh untuk membantu pengobatan orang yang masih berjuang melawan virus sebenarnya bukanlah hal baru. Langkah serupa sudah pernah dilakukan saat pengobatan pada wabah penyakit flu babi pada tahun 2009, Ebola, SARS, dan MERS,” papar Deni. 

Terapi ini dilakukan dengan memberikan plasma, yaitu bagian dari darah yang mengandung antibodi dari orang-orang yang telah sembuh dari Covid-19, kepada orang yang masih terinfeksi Covid-19. 

“Kita semua masih menunggu vaksin, namun kita tidak bisa memastikan kapan waktunya. Segala upaya termasuk dukungan program terapi plasma konvalesen harus jelas dan jangan sampai terjadi kekosongan stok,” paparnya. 

“Kita bisa jatuh karena Covid-19, namun kita harus bangkit bersama-sama secara gotong royong mengatasi pandemi ini. Pemerintah harus hadir bersama-sama kita galang solidaritas, mengajak mantan penderita Covid-19 untuk mendonorkan plasmanya,” imbuh Deni. (*/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.