Stigma Negatif Masih Jadi Tantangan Terbesar Atasi Masalah Kesehatan Mental

Yovie Wicaksono - 18 December 2021

SR, Jakarta – Co-Founder & Chief Executive Officer of Riliv, Audrey Maximillian Herli mengungkapkan bahwa stigma negatif masyarakat terhadap kesehatan mental masih menjadi tantangan terbesar hingga saat ini.

“Memang tantangan ya. Challenge dalam membangun layanan kesehatan mental di Indonesia memang stigma negatif tidak lepas ya. Jadi kita melihat kesadaran kesehatan mental itu sendiri masih rendah,” kata Maxi.

Ia menjelaskan, masih banyak sekali masyarakat di Indonesia yang memandang sebelah mata seseorang yang mengalami gangguan kesehatan mental. Bahkan, kebanyakan masyarakat justru menilai mereka kurang ibadah, atau bahkan gila.

Menurut Maxi, hal ini disebabkan karena kesehatan mental berbeda dengan kesehatan fisik. Jika penyakit fisik bisa terlihat dan dengan mudah terdeteksi, penyakit mental tidak dapat terlihat dengan kasat mata dan sulit untuk dideteksi.

“Karena penyakit mental itu tidak terlihat. Kalau fisik kan flu itu kelihatan pucat atau apa. Tapi kesehatan mental itu nggak,” jelas Maxi.

Lebih lanjut, Maxi memaparkan bahwa menurut data dari WHO, setiap 40 detik 1 orang meninggal akibat bunuh diri karena mengalami depresi.

Oleh sebab itu, pihaknya tetap berusaha untuk menyediakan platform layanan kesehatan mental untuk masyarakat Indonesia meskipun banyak tantangan yang dialami.

“Menurut WHO setiap 40 detik, 1 orang meninggal bunuh diri akibat depresi ya. Jadi depresi ini juga dari masalah pribadi. Dari permasalahan ini, akhirnya saya sama saudara saya kita membuat platform yang bisa membuat mereka terhubung dengan psikolog profesional dimanapun dan kapanpun,” kata Maxi. (*/ant/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.