World Radio Day, Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Radio
SR, Surabaya — Di dalam ruang siaran yang dulu identik dengan tumpukan kaset dan mixer analog, kini layar komputer dengan grafik data dan algoritma kecerdasan buatan mulai mengambil peran. Perubahan ini menjadi salah satu wajah baru radio di era digital, bertepatan dengan peringatan World Radio Day setiap 13 Februari.
Bagi sebagian orang, radio mungkin terdengar seperti medium lama yang perlahan ditinggalkan. Namun bagi pelaku industri dan kalangan periset, radio justru sedang memasuki fase transformasi besar, ketika teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) bukan hanya ancaman, tetapi juga peluang.
Disrupsi Tak Terelakkan
Putu Gede Francois Sardjana, salah seorang pengurus di PD Persatuan Radio Siaran Swasta Nasional Indonesia (PRSSNI) Jawa Timur, mengatakan bahwa kemunculan AI telah mengubah gaya hidup manusia dalam mendapatkan informasi, termasuk disrupsi audiens yang tak lagi tergantung pada media massa, termasuk radio.
“Faktornya sangat beragam. Yaitu faktor real time, faktor ragam, dan juga faktor human touch-nya. Jadi sudah terdisrupsi di situ. Ketambahan sekarang ada AI. Di mana orang sekarang mencari informasi semakin kesini, behavior-nya adalah kalau bertanya segala sesuatu ke AI sekarang. Mungkin kalau beberapa waktu yang lalu kita cari segala sesuatu, nanya segala sesuatu itu di Google. Sekarang itu orang nanya-nya di Gemini, ChatGPT. Jadi akhirnya orang kan butuh yang cepat, yang instan, real time maksudnya,” ujarnya.

Ia mengakui ada kekhawatiran terkait otomatisasi produksi konten, terutama ketika teknologi mampu menulis naskah, membaca berita, hingga menghasilkan suara sintetis yang menyerupai manusia.
“Sekarang sudah mulai banyak yang menggunakan AI sebagai penyiarnya. Itu sudah sejak kurang lebih 4 tahun yang lalu. Sudah ada yang menginisiasi itu, sudah jalan juga. Dan persona penyiarnya itu pure AI. Mulai dari suara sampai outlook atau appearance-nya itu AI,” ujar pria yang akrab dipanggil Fafa ini.
Integrasi teknologi tersebut, lanjutnya, tidak berhenti pada siaran terestrial. AI juga mampu terhubung dengan berbagai kanal digital seperti media sosial, sehingga distribusi konten menjadi lebih luas dan cepat. Perkembangan teknologi suara yang semakin realistis bahkan dinilai membuat batas antara manusia dan mesin semakin tipis.
“Apalagi sekarang dengan teknologi yang begitu cepat. Bahkan voice cloning yang sangat mirip dengan manusia. Coba ajak ngomong Gemini, bukan pakai ketik ya, tapi diajak ngomong. Bahkan dia saat ngomong itu ada tarik nafasnya. Gimana gak bisa jadi ancaman tuh buat SDM insan radio khususnya penyiar,” papar Fafa.
Selain berdampak pada aspek kreatif, menurut Fafa yang juga penikmat teknologi digital ini, penggunaan AI juga dinilai berpengaruh terhadap strategi bisnis radio. Otomatisasi memungkinkan efisiensi biaya operasional, yang pada akhirnya dapat menciptakan persaingan baru antara radio berbasis teknologi dan radio yang masih berjalan secara konvensional.
“Bisa saja sebuah radio dengan advance technology infrastructure sampai dengan strateginya menggunakan segala sesuatunya pakai AI. Mungkin faktor human-nya hanya programmer-nya aja atau business activist-nya mungkin. Akhirnya secara bisnis pun akan menjadi ancaman untuk radio-radio yang masih berjalan secara konvensional,” ungkap dia.
Radio Tak Boleh Terhenti, Teknologi Harus Diadaptasi
Dikatakan kembali oleh Putu Gede Francois Sardjana, melihat AI semata sebagai ancaman justru dapat membuat radio semakin tertinggal.
“Teknologi harus kita rangkul, kita harus adaptif dengan itu. Jadi itu kembali lagi ke sudut pandang kita sebenarnya. Kalau itu tantangan ya tantangan. Tantangan untuk apa? Untuk belajar, untuk bisa menguasai platform-platform penyedia AI generatif,” tandas Fafa ketika diwawancarai Super Radio via aplikasi WhatsApp.

Pandangan serupa disampaikan akademisi ilmu komunikasi. Irwan Dwi Arianto, Kepala Laboratorium Integrasi Digital UPN Veteran Jawa Timur, memandang radio kini telah bertransformasi dari media berbasis frekuensi menjadi ekosistem komunikasi digital yang terhubung dengan berbagai platform.
“Dalam pembacaan big data, masyarakat memandang radio itu sebagai layanan audio yang bergeser bentuk dari perangkat tunggal menjadi ekosistem multikanal. Karena perilaku dengar mereka itu memecahnya menjadi FM, streaming, podcast, dan audio media sosial. Nah, audiens itu tetap menyukai live yang memberi rasa ditemani. Dan audiens muda itu menuntut acsess on demand melalui ponsel. Sebenarnya masih relevan ya radio pada zaman sekarang ini,” tutur dosen yang dulunya pegiat radio kampus ini.
Saat ditemui Super Radio, Irwan menjelaskan cara menggunakan teknologi jauh lebih penting dibanding sekadar mengikuti tren. “AI itu tools, konsepnya man behind the gun,” ujarnya.
Irwan menjelaskan, teknologi pada dasarnya bersifat netral. Dampaknya sangat bergantung pada bagaimana manusia menggunakannya. Ketika dimanfaatkan secara tepat, AI dapat memperkuat kualitas kerja di industri penyiaran.
“Kalau digunakan dengan cara yang benar, AI tidak akan membunuh, malah membantu,” kata dosen pengampu mata kuliah big data ini.
Namun, Irwan mengingatkan risiko yang muncul ketika teknologi digunakan tanpa pertimbangan nilai kemanusiaan. Penggunaan AI secara berlebihan, terutama dalam produksi audio, dikhawatirkan dapat menghilangkan sentuhan emosional yang selama ini menjadi kekuatan radio. “Kalau audio digantikan sepenuhnya oleh AI, sisi humanis bisa hilang,” tuturnya.
Menurut dia, sumber daya manusia di radio perlu melihat AI sebagai penguat produktivitas. Efisiensi memang menjadi keuntungan, tetapi kepercayaan pendengar tetap harus menjadi prioritas utama. “AI sebaiknya menjadi penguat kerja manusia, bukan pengganti,” ujarnya.
Ia menilai insan radio memiliki peran penting dalam menjaga kedekatan dengan audiens, sesuatu yang tidak mudah direplikasi oleh mesin. Karena itu, pemanfaatan AI perlu dirancang dalam beberapa lapis proses kerja.
“SDM radio itu bisa menjaga kepercayaan pendengar. Misalnya untuk produksi bisa dibantu dengan verifikasi AI. Terus kemudian distribusinya hadir di semua titik dengar. Audio itu media yang kita rasakan lewat pendengaran. Ada theater of mind di sana,” tegas Irwan.
Dilanjutkannya, solusi menghadapi disrupsi AI bukan dengan menolak teknologi, tetapi memperkuat kapasitas sumber daya manusia melalui literasi digital dan etika penggunaan teknologi kecerdasan buatan.
“Indonesia belum memiliki satu undang-undang tunggal yang secara khusus mengatur AI. Tapi pemerintah sudah menerbitkan pedoman etika dan mendorong kerangka regulasi yang lebih formal. Misalnya Surat Edaran Menkominfo Nomor 9 Tahun 2023 tentang Etika Kecerdasan Artifisial,” pungkas Irwan Dwi Arianto.

Waspadai Risiko AI
Di sisi lain, periset kecerdasan buatan dari Institut Sains dan Teknologi Terpadu Surabaya (ISTTS), Prof Dr Esther Irawati Setiawan SKom MKom, menilai perkembangan AI telah membawa perubahan signifikan di berbagai sektor kehidupan. Termasuk di sektor ekonomi dan bisnis.
“Sekarang semua rekomendasi bisnis bisa dibantu AI. Kita bisa chat dengan data, jadi dari data-data yang ada kita bisa ngobrol. Menanyakan ini produk apa yang penjualannya paling baik, ini produk apa yang harus diganti promo branding-nya, customer mana yang perlu dipromosikan. AI bisa membantu visualisasi, membantu mengambil kebijakan, dan semuanya benar-benar otomatis,” tukas Esther.
Dan bidang kesehatan pun, dikatakan oleh pakar teknologi informasi ini AI mendukung dengan penyediaan perangkat lunak yang membantu misalnya pembacaan teknologi pencitraan medis Magnetic Resonance Imaging (MRI) juga Computed Tomography (CT) Scan.
“Dibantu dengan AI supaya lebih presisi mendeteksi penyakitnya. AI itu sebagai asisten. Jadi dia tidak akan sampai benar-benar mengambil keputusan diagnosa secara langsung. Fungsinya hanya memberikan rekomendasi ke dokter,” ucap Esther.
Termasuk dalam dunia pendidikan, kata dia, saat ini sudah banyak wahana kecerdasan artifisial yang digunakan para pengajar.
“Menariknya untuk pengajar, menggunakan AI ini memang tidak akan capek ketika mengajar. Jadi bisa mereka bisa mengulang-ulang materinya sampai yang pelajar atau mahasiswa mengerti dan memahami materi pembelajaran,” ulasnya ketika dijumpai Super Radio.
Namun menurut Esther, percepatan teknologi AI juga memunculkan tantangan yang tidak sederhana. Di antaranya penyebab informasi palsu dan kejahatan siber. “Saya sendiri juga dari tahun 2016 eksplorasi tentang hoaks. Dan setelah kelahiran AI ini jadi semakin menantang karena suara juga sudah bisa ditiru. Bahkan video juga bisa seakan-akan orang itu berbicara sendiri. Juga suara via telepon tetap harus divalidasi lagi. Banyak sekali kasus penipuan dengan memanfaatkan AI saat ini. Kita harus terus sosialisasi untuk kroscek kebenaran informasi,” tegasnya.
Begitu juga mengenai potensi pelanggaran hak cipta. Esther menjabarkan, masyarakat pengguna AI wajib terliterasi dengan baik ketika mengunggah konten sintetis.
“Untuk hak cipta, ketika kita menggunakan inspirasi karya orang, misalnya lagu asalnya atau gambar asalnya itu pakai style apa, harus kita mention. Termasuk kita mention juga kalau dibantu oleh AI. Nyatakan yang sebenarnya-benarnya kalau memang pakai bantuan AI. AI memang seperti pedang bermata dua. Jadi, di satu sisi teknologi itu membantu, di sisi lain ada hal-hal negatif yang bisa muncul.” pungkasnya. (giy/red)
Tags: kecerdasan buatan, peluang, superradio.id, tantangan, world radio day
Berita Terkait
Tinggalkan komentar
Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.





