Soal HAM, Perlu Standar yang Sama

Yovie Wicaksono - 7 December 2022

SR, Surabaya – Dosen Hukum Universitas Airlangga (Unair), Haidar Adam mengatakan, refleksi Hak Asasi Manusia (HAM) hadir dari peristiwa atau rentetan fakta-fakta terkait HAM.

Situasi saat ini, imbuh Adam, masyarakat dihadapkan pada situasi tidak ada pilihan, karena tidak ada proses penyadaran atas hak-hak yang dimiliki.

Untuk itu, ia mengajak masyarakat terus-menerus memperjuangkan hak yang dimiliki.

“Ditengah pesimisme, kita harus tetap optimis. Membangun lebih banyak lagi kesadaran di diri kita atau masyarakat,” ajaknya.

Ia menambahkan, seharusnya ada standar HAM yang sama, dalam situasi yang sama atau tidak ada yang memiliki privilege (hak istimewa) lebih. Kecuali ada afirmatif yang bertujuan mengupayakan kelayakan bagi manusia supaya terproteksi.

Aktivis sosial Dadang Setiawan juga menyebut masih banyak dijumpai pelanggaran pemenuhan hak asasi manusia oleh negara.

Sekadar informasi, sejak tahun 2018 Dadang membersamai kelompok rentan HIV/AIDS yang bersinggungan dengan kelompok rentan minoritas gender. Mereka berjuang agar mendapatkan pemenuhan hak atas kesehatan.

“Pemerintah tidak bisa memberikan ketersediaan obat yang harus diminum setiap saat,” kata Dadang.

Disisi lain, kelompok transpuan juga dihambat dalam aspek akses kesehatan dikarenakan mereka tidak memiliki identitas kependudukan.

Sebab itu, Dadang mengajak masyarakat untuk tidak lelah dalam menyuarakan HAM dan melakukan upaya penyadaran HAM.

“Mari bersama bergandengan melakukan upaya penyadaran HAM kepada akar rumput (rakyat kecil). Kita boleh menuntut tapi kita juga melakukan upaya di akar rumput,” ajaknya.

Perlu diketahui, data Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) menyebut pengaduan paling banyak di tahun 2022 adalah hak memperoleh keadilan, hak atas kepemilikan dan perumahan, kemudian hak atas informasi, hak atas ancaman dan diskriminasi. (vi/red)

Tags:

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.