Siluet Kisah Sengsara Yesus di Gereja Santo Vincentius A Paulo

Yovie Wicaksono - 19 April 2019

SR, Surabaya – Ratusan jemaat Gereja Katolik Santo Vincentius A Paulo, Sawahan, Surabaya, Jumat (19/4/2019), menjalankan ibadah jalan salib dengan menghadirkan drama siluet kisah sengsara Yesus Kristus saat menebus dosa-dosa manusia di kayu salib.

“Kali ini kita mengadakan ibadah jalan salib untuk mengenang kembali Tuhan Yesus menjalani hukuman dan harus di salibkan di Golgota. Dalam rangkaian paskah sendiri hari ini merupakan Jumat Agung yakni hari dimana Tuhan Yesus wafat disalib, dan di salib itulah Tuhan Yesus menebus dosa-dosa umat manusia,” ujar Romo Antonius Sapta Widada CM.

“Karena kita adalah orang-orang yang ditebus dengan darah-Nya yang mulia, hidup kita harus menjadi suci, harus mau berkorban, dan memiliki semangat kebangkitan seperti Kristus,” pesan Romo Sapta.

Meski ditahun-tahun sebelumnya Gereja Katolik Santo Vincentius A Paulo selalu menghadirkan drama jalan salib, namun konsep kali ini berbeda yakni dengan konsep siluet yang melibatkan sebanyak 30 pemuda Gereja Katolik Santo Vincentius A Paulo mulai dari kelas 5 Sekolah Dasar hingga pekerja berusia 30 tahun.

Dengan hanya mengenakan kain berwarna putih, sekujur tubuh berwarna merah bak dipenuhi darah dan juga mahkota duri yang dipakainya, Yosef Refundy Feryza Yuniarta (19) mengaku sangat senang dan bangga bisa memerankan sosok Yesus Kristus. Meskipun ia sempat khawatir, namun ia membawakan perannya secara totalitas.

“Bangga sekali bisa memerankan sosok Yesus, meski takutnya kurang mendalami. Tapi saya sudah memerankan secara totalitas. Kesulitannya sih waktu pertama kali mencoba adegan freeze itu kan posisinya harus bungkuk selama kurang lebih 5 menit sambil membawa property kayu salib, lalu saat Yesus di salib kan tirainya dibuka itu harus totalitas lagi, karena kan dilihat oleh seluruh jemaat,”ujar Yosef.

Koordinator drama siluet sengsara Yesus Kristus, Ignatius Irwan mengatakan drama siluet ini dipilihnya sebagai cara untuk menyiasati drama jalan salib yang identik dengan kekerasan dan penyiksaan yang dialami Yesus.

“Karena Romo Sapta berpesan untuk drama jalan salib ini tidak terlalu terlihat fulgar kekerasan, karena kan ada anak kecil, maka kita menyiasatinya dengan siluet. Proses penggarapannya membutuhkan waktu dua bulan, karena masing-masing ada kesibukan jadi untuk bisa latihan bersama agak susah, dan kesulitan lainnya itu tentang teknik siluetnya sendiri, karena kan ini juga baru pertama kali. Tapi ya Syukurlah tadi berjalan lancar dan semoga bisa menjadi perenungan untuk umat,” ujar pria berusia 53 tahun ini.

Salah satu jemaat Gereja Katolik Santo Vincentius A Paulo, Maria Chatrin Bunaen (17) mengaku hadirnya drama siluet jalan salib ini membuat suasana Jumat Agung lebih terasa khidmat.

“Ibadah kali ini beda dari tahun-tahun sebelumnya karena menggunakan siluet, lebih mendalami juga karena musik-musiknya lebih terasa, visualisasinya lebih real mengena dihati,” ujar Maria. (fos/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.