Romo Irianto: Mendiang Adi Sutarwijono Umat yang Taat di Jalan Kristus
SR, Surabaya – Setelah sehari disemayamkan di Grand Heaven Surabaya, jenazah mendiang Ketua DPRD Surabaya Adi Sutarwijono menjalani ibadah tutup peti pada sekira pukul 11.00 WIB, Kamis, (12/2/2026).
Ibadah dipimpin romo A Kurdo Irianto berlangsung khidmat. Dalam khotbahnya, romo menceritakan betapa tulusnya seorang Adi Sutawijono. Sebagai umat katolik, Adi betul-betul mempraktekan nilai-nilai alkitab. Tulus membantu sesama walaupun perjuangannya tak selalu mulus, berdarah hingga terseok.
Kala itu, lanjut romo, Adi yang masih berprofesi jurnalis menjadi garda depan saat demo 1998. Bahkan Adi sempat datang ke gereja, meminta pertolongan sebab membawa pamflet Partai Rakyat Demokratik (PRD) dan menjadi korban anarkis aparat.
“Saya teringat waktu malam jam 8, tiba tiba mas Adi datang langsung tidur telentang dan mengatakan ‘Romo Tulungen aku’ ternyata baru saja dia dipukuli tentara yang menghalau demonstran, karena di dalam tasnya membawa pamflet PRD,” ujarnya.
Sambil menahan tangis, romo mengenang Adi sebagai umat yang taat. Di tengah kesibukannya sebagai politisi, almarhum tetap menyempatkan diri ke pastoral. Mengobrolkan banyak hal. Bukan sebagai politisi, melainkan sebagai umat dengan Tuhannya.
“Di tengah kesibukan sebagai politisi beliau tetap datang ke pastoral, mengobrol banyak hal, tidak jarang dia minta makan dan selalu memohon berkat Allah tiap mengakhiri perjumpaan kita,” jelasnya.
Berkat, adalah satu kata yang selalu diungkapkan oleh mendiang semasa hidupnya. Bagi Romo A Kurdo Irianto, sosok Adi seperti berita yang menjadi manusia dan suara dari orang-orang yang tak bisa disuarakan. “Itu yang selalu dia minta, berkat Allah. Mas Adi adalah berita yang menjadi manusia, bagi seorang politisi mas Adi adalah suara dari orang yang tidak bisa bersuara, dan di katolik Adi seperti garam,” ungkapnya.

Hal serupa diungkapkan istri mendiang Adi Sutarwijono, Lusi. Dengan tegar ia bercerita bagaimana sang suami selalu menjadikan Tuhan sebagai jalan keluar dari kegelisahan. Melakukan misa mandiri, meminta petunjuk didampingi para romo.
“Mendiang ini selalu diujungnya kembali kepada gereja. Salah satu gedung yang jadi saksi adalah Mojopahit M 17. Saat itu masih ada romo Didik, almarhum minta izin untuk misa, saat itu hanya saya, almarhum, romo Didik dan pak Pius. Selalu dia bawa kegelisahan untuk mendapat jawaban dari Tuhan,” tuturnya.
“Selalu dengan berkat Tuhan dia kembali berjalan menuju tugas panggilannya. Kami sangat jarang bertemu. Waktunya 24 jam untuk masyarakat, itu sumber hidupnya, sumber semangatnya,” pungkasnya.
Adapun usai ibadah tutup peti, jenazah diberangkatkan menuju DPRD Surabaya untuk penghormatan terakhir sebelum akhirnya dimakamkan di komplek pemakaman Keputih Surabaya. (hk/red)
Tags: Adi Sutarwijono, pdip, Romo kurdo, superradio.id, tutup peti
Berita Terkait
Tinggalkan komentar
Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.





