Sukmo Limo Indonesia Utamakan Sedekah Bumi di Bulan Sapar

Rudy Hartono - 12 August 2026
Suasana pembacaan doa dan matra sebagai salah satu prosesi Sedekah Bumi di Padepokan Sukmo Limo Indonesia di Surabaya, Selasa (11/8/2026) malam. (foto: meira/superradio.id)

SR, Surabaya – Padepokan Sukmo Limo Indonesia menggelar upacara adat sedekah bumi pada Selasa (11/8/2026) malam di area Tambak Medokan Ayu, Kota Surabaya. Ritual tahunan ini sengaja digelar di penghujung bulan Sapar (tanggal 27 bulan Sapar) dalam kosmologi Jawa.

Ketua Padepokan Sukmo Limo Indonesia, Bopo Arief menerangkan dalam tradisi masyarakat Jawa, Sapar sering kali dipandang sebagai bulan penuh ujian atau tantangan (sasi rorodan). Oleh karena itu, ritual sedekah bumi wajib ditunaikan sebelum bulan Sapar berakhir sebagai sarana pembersihan spiritual agar masyarakat dilindungi dari marabahaya.

“Sedekah bumi ini sebenarnya kewajiban setiap manusia untuk berterima kasih karena dikasih hidup mulai lahir, dewasa, sampai punya cucu. Kita harus berterima kasih terhadap Ibu Pertiwi, yaitu bumi Nusantara suci tempat kita semua dilahirkan,” ujar Bopo Arief saat ditemui di sela-sela acara, Selasa (11/8/2026).

Ditanya kaitan sedekah bumi dengan malam Anggoro Kasih. Bopo Arief, menekankan bahwa esensi ritual sedekah bumi lebih memiliki urgensi spiritual mendalam pada bulan Sapar ketimbang, waktu pelaksanaan malam Anggoro Kasih.

Ketua Padepokan Sukmo Limo Indonesia Bopo Arief Wijoyo . (foto: meira/superradio.id)

Meskipun malam anggoro Kasih juga memiliki makna penting dalam spiritualitas Jawa. Karena Selasa Kliwon diyakini sebagai waktu turunnya wahyu pemeliharaan alam, di mana gerbang spiritual terbuka lebar.

“Di dalam bulan Sapar ada kewajiban manusia untuk melakukan sedekah bumi. Kebetulan Rabu itu sudah tanggal 27 Sapar atau hari paling pungkasan atau yang terakhir jelang berlalunya bulan Sapar. Jadi sedekah bumi bukan mengikuti malam Anggoro Kasih, tapi hari Rabu pungkasan bulan Sapar,” terang Bopo Arief. Ritual yang bertepatan dengan malam Anggoro Kasih (Selasa Kliwon) ini dihadiri oleh puluhan masyarakat dari berbagai latar belakang aliran kepercayaan.

Prosesi berlangsung khidmat diawali dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya, pembacaan teks Pancasila, sambutan dari para tokoh organisasi kepercayaan, hingga pembacaan mantra keselamatan.

Salah Paham Ibu Pertiwi

Ia Menegaskan bahwa sedekah bumi ini dilakukan semata untuk berterimakasih kepada Ibu Pertiwi, meski Ibu Pertiwi sebenarnya tidak mengharapkan balasan atau juga tidak minta disungkemi atau dihormati. “Sedekah bumi ini sebagai kewajiban kita berterima kasih. karena kita semua sudah diberi kenimatan hidup,”  tandasnya.

Pada kesempatan itu, Bopo Arief juga meluruskan anggapan keliru mengenai filosofi “surga di telapak kaki ibu”. Menurutnya, esensi ibu yang dimaksud dalam pepatah kuno tersebut merujuk pada Ibu Pertiwi atau tanah air, bukan sekadar ritual mencuci kaki ibu kandung secara harfiah yang kerap disalahartikan di masyarakat.

Lebih lanjut Bopo Arief mengatakan ritual sedekah bumi ini tidak hanya ditujukan bagi kepentingan internal kelompok padepokan, melainkan sebagai doa keselamatan dan kesejahteraan untuk seluruh rakyat Indonesia.

Hal itu dibuktikan saat prosesi Ujub (pernyataan niat ritual) sedekah bumi. Berbagai doa dipanjatkan secara spesifik agar para petani diberikan kesuburan tanah, nelayan mendapat hasil tangkapan yang berkesinambungan, serta para pedagang dan sopir diberikan kelancaran kerja.

“Doa yang dipanjatkan itu untuk semua manusia yang hidup di atas bumi ini, termasuk Indonesia se-Nusantara agar loh jinawi (makmur). Acara memetri (merawat tradisi) lewat tasyakuran ini juga menjadi sarana silaturahmi dengan sesama masyarakat luas,” tambah Bopo Arief.

Berbagai masyarakat aliran kepercayaan hadir membersamai Sedekah Bumi di Padepokan Sukmo Limo Indonesia di Surabaya, Selasa (11/8/2026) malam. (foto: meira/superradio.id)

Simbolisme Tumpeng dan Refleksi Budaya

Sebagai simbol permohonan perlindungan dan pengharapan kepada Tuhan Yang Mahaesa, pihak padepokan menyajikan berbagai jenis tumpeng tradisional yang sarat akan makna filosofis Jawa, di antaranya:

  • Tumpeng Sekul Suki (nasi gurih dengan lauk ayam ingkung): Simbol ungkapan rasa terima kasih dan berserah diri kepada Gusti Allah (Tuhan Yang Maha Esa).
  • Tumpeng Sekul Golong (nasi golong): Simbol penghormatan kepada Gusti Betari Sri (Dewi Padi) selaku pembagi rezeki bumi. Nasi yang berbentuk bulat ini membawa harapan agar rezeki masyarakat luas menyatu dan utuh (gembolong), begitu pula dengan kerukunan sanak famili.
  • Tumpeng Penunjang: Tumpeng nasi menggono, tumpeng panggang ayam, tumpeng buah-buahan, sayur-mayur, nasi sudro, nasi ampeng, serta nasi karak khusus yang diolah secara tradisional.

Uniknya, seluruh nasi tumpeng utama dalam ritual ini sengaja tidak langsung disantap di lokasi. Panitia memilih untuk membagikan dan membungkus nasi tumpeng tersebut agar dibawa pulang oleh para tamu.

Tujuannya agar keluarga yang menunggu di rumah dapat ikut merasakan berkah keselamatan dari ritual sedekah bumi Sapar ini. Sementara untuk tamu di lokasi, tetap menikmati hidangan makan malam bersama yang disiapkan oleh panitia.

Ries Handono Prawirodirjo, Pecinta Budaya Nusantara. (sumber: rri)

Bangkitkan Tradisi Leluhur di Era Modern

Urgensi menjaga tradisi lokal di tengah gempuran zaman juga disuarakan oleh Aktivis Majelis Luhur Kepercayaan Indonesia (MLKI), Ries Handono  yang didaulat menyampaikan refleksi Sedekah Bumi.

Rieshandoko memberikan refleksi mendalam mengenai kecenderungan masyarakat modern saat ini yang lebih gandrung atau mengedepankan kebudayaan adopsi dari luar, baik dari Barat maupun Timur Tengah.

Menurut Rieshandoko, keterbukaan terhadap budaya luar adalah hal yang wajar, namun jangan sampai hal itu melunturkan apresiasi terhadap kekayaan tradisi sendiri yang tidak kalah luhur.

Wong Jowo ojo lali jowone (orang Jawa jangan sampai melupakan identitas Jawanya). Menghargai budaya global itu baik, tetapi jangan sampai kita melupakan akar kebudayaan Nusantara yang menjadi jati diri kita. Ritual seperti sedekah bumi pada bulan Sapar ini adalah bukti nyata bagaimana kita menjaga harmoni dengan sesama dan alam yang sudah diwariskan oleh leluhur,” pungkasnya. (ton/red)

 

 

Tags: , , , , ,

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.