Risma Minta Pedagang Kelontong Taati Protokol Kesehatan

Yovie Wicaksono - 20 June 2020
Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini menggelar video conference dengan ratusan pedagang toko kelontong se-Surabaya, Jumat (19/6/2020). Foto : (Pemkot Surabaya)

SR, Surabaya – Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini terus mensosialisasikan Peraturan Wali Kota (Perwali) nomor 28 tahun 2020 tentang Pedoman Tatanan Normal Baru Pada Kondisi Pandemi Covid-19. 

Pada Jumat (19/6/2020), Risma menggelar video conference (vidcon) dengan ratusan pedagang toko kelontong se-Surabaya untuk mensosialisasikan Perwali tersebut. 

Dalam sosialisasi itu, Risma mengajak kepada 876 pengelola toko kelontong yang terletak di 31 kecamatan agar tertib dan disiplin dalam menjalankan Perwali. Baik yang terletak di perkampungan maupun toko kelontong yang ada di rumah susun (rusun). 

“Bapak ibu aturan yang saya buat ini adalah minimal. Tidak boleh kurang dari ini. Silahkan dikembangkan,” kata Risma mengawali sosialisasinya, Jumat (19/6/2020). 

Risma meminta agar warga tidak meremehkan pandemi global ini dan terus menegakkan protokol kesehatan. Misalnya penjual atau pengelola toko kelontong wajib menyediakan tempat cuci tangan di depan toko sebelum pembeli masuk. Selain itu, pihaknya juga menekankan agar di bagian kasir diberi pembatas plastik agar ada sekat antara pedagang dan pembeli. 

“Karena itu kita tidak boleh ceroboh dan meremehkan. Tapi kita tidak boleh takut. Kita tidak boleh sembrono (sembarangan). Kalau perlu pakai face shield selain pakai masker. Jadi lebih melindungi,” ungkap dia.

Tidak hanya itu, wali kota perempuan pertama ini mengungkapkan, setelah pedagangnya disiplin, maka ia wajib mengingatkan kepada konsumen apabila ada yang tidak patuh pada protokol kesehatan seperti tidak mengenakan masker. Meskipun Risma menyebut pembeli adalah raja, maka pedagang tetap harus mengingatkan dengan cara sopan dan halus. 

“Tetap harus diingatkan. Kita tidak tahu apakah mereka termasuk orang tanpa gejala (OTG) yang dia tidak sakit namun bisa menularkan. Jangan sampai karena satu pembeli yang lalai akan berdampak pada kita,” tegas dia. 

Untuk itu, Risma berharap agar para pedagang terus berinovasi di tengah keterbatasan yang dihadapi. Ia juga meminta agar saat melayani konsumen, pedagang lebih aktif lagi dalam menjelaskan produk yang dibutuhkan pembeli. 

Risma juga meminta diusahakan agar sebisa mungkin konsumen tidak memegang barang jualannya, saat transaksi pembayaran tidak boleh ada kontak fisik, namun meletakkan uang menggunakan nampan. 

“Jadi mohon maaf jangan dipegang nggih. Seperti itu, kalau mengingatkan yang sopan. Atau bila perlu diberi tulisan dilarang memegang,” tegas dia. 

Di kesempatan yang sama, Risma juga mengungkapkan apabila situasi toko sedang ramai pembeli, maka mereka wajib antre di luar toko sembari menunggu giliran. Hal tersebut dilakukan agar jaga jarak di toko kelontong tetap terjaga. 

“Kalau misalkan kita di dalam koperasi rusun, antre di rusun juga tidak apa-apa agar tidak ada yang terkena. Intinya agar tidak berjubel,” lanjutnya.

Sebelum mengakhiri vidcon, Risma mengingatkan agar semua pedagang toko kelontong menjaga kesehatannya. Jika memang kondisinya sedang tidak fit maka sebaiknya istirahat di rumah dan tidak datang ke toko tersebut demi menjaga keselamatan bersama. 

“Kalau badan kita sakit meriang, batuk atau pilek. Sebaiknya tidak usah ke toko. Istirahat saja dan  lalu periksa ke puskesmas terdekat,” pungkasnya. (*/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.