Ribuan Masjid Dibangun, Penyandang Disabilitas Terpaksa Ibadah di Rumah

Yovie Wicaksono - 8 January 2025

Relawan Paroki Dilatih Bahasa Isyarat.

Misa khusus penyandang disabilitas di Gereja Katolik Santo Aloysius Gonzaga, Surabaya, bulan lalu. Dalam misa tersebut melibatkan teman disabilitas daksa, rungu, dan netra ikut membantu sebagai petugas melayani jemaat. (foto:hamidiah kurnia/superradio.id)

Bergeser dari Masjid Agung, Super Radio melakukan penelusuran ke Gereja Katolik Santo Aloysius Gonzaga (Algon), di  Kecamatan Sukomananggal, Surabaya. Kebetulan gereja itu tengah mengadakan misa khusus bagi disabilitas.

Gereja Algon punya dua lantai. Di sana, terdapat bidang miring akses jemaat yang memakai kursi roda atau kruk menuju ke ruang ibadah.  Terdapat kamar mandi khusus difabel, namun belum terdapat keterangan braille di tiap sudut dan juga belum ada guiding block untuk tunanetra. Juru bahasa isyarat juga tak tampak di sana.

Koordinator Pastoral Difabel Surabaya Barat, Paroki Algon, Lucy Ghawa menyebut, bentuk ramah disabilitas yang mereka lakukan adalah dengan melibatkan mereka di beberapa kegiatan gereja. Salah satunya pada kegiatan ibadah misa. Pada gelaran tersebut, teman-teman disabilitas tunanetra, tuli, hingga tunadaksa menjadi petugas misa.

“Program ini sudah berjalan dari 2021. Sesungguhnya tidak ada kesulitan mengkoordinir teman disabilitas datang ke gereja karena yang terpenting memberi perhatian khusus kepada mereka,” terangnya.

Diakui Lucy bahwa petunjuk arah atau informasi yang penting belum ada yang menggunakan huruf braille bagi jemaat yang tunanetra. Begitu juga gereja Alkon belum ada petugas bahasa isyarat yang stand by setiap hari. “Kecuali ada acara spesial selalu ada relawan dari teman tuli membantu kami saat pelaksanaan ibadah. Kalau huruf braille itu masih proses untuk kami adakan di Gereja Alkon,” paparnya.

Para jemaat disabilitas dengan sengaja tidak ditempatkan di ruang khusus, harapannya memang agar mereka berbaur dengan jemaat yang lain. “Kami tidak memberikan ruangan inklusi jadi kami samakan dengan umat biasa, kami bersama mereka bersatu merayakan misa,” ucapnya.

Guiding block dan bidang miring di Gereja Hati Kudus Yesus Katedral Surabaya sengaja didesain agar ramah disabilitas saat beribadah di gereja. (dok. katekis pastoral difabel keuskupan Surabaya)

Di tempat terpisah, Katekis Pastoral Difabel Keuskupan Surabaya, Melania Safirista Sofiarti membenarkan uraian Lucy Ghawa. Dikatakan bahwa Keuskupan sudah berkomitmen untuk menghadirkan lingkungan ibadah yang inklusif bagi umat difabel. Keuskupan juga menekankan pentingnya memastikan pengajaran iman tetap menjadi hak yang dapat diakses oleh semua umat, termasuk difabel. “Jangan sampai hambatan fisik menjadi halangan seseorang untuk beribadah,” tandas Melania.

Pada tahun 2024, papar Melania, jumlah umat Katolik difabel di Surabaya diperkirakan mencapai 320 orang. Data ini menjadi pijakan utama bagi Pastoral Difabel dalam membangun ekosistem inklusi di gereja-gereja paroki.  “Yang bisa menjadi percontohan, atau setidaknya sudah mulai terbentuk ekosistem inklusi adalah Gereja Hati Kudus Yesus Katedral Surabaya,” katanya.

Berbagai fasilitas ramah difabel telah disediakan di rumah ibadah tersebut adalah bidang miring untuk memudahkan akses pengguna kursi roda, toilet disabilitas yang memenuhi standar aksesibilitas, lift dengan tombol braille untuk memfasilitasi umat tunanetra, LCD dan teks digital untuk menampilkan bacaan kitab suci dan doa, yang sangat membantu umat tuli dan disleksia, serta petugas tata tertib yang sigap membantu kebutuhan difabel.

Melania menjelaskan, Pastoral Difabel sendiri dimulai sejak tahun 2019 dengan tahap persiapan tim yang rampung pada tahun 2020. Masa pandemi menjadi momen penting dalam mempercepat upaya inklusi melalui misa daring yang menghadirkan juru bahasa isyarat. Selain itu, langkah strategis seperti sosialisasi, pendataan umat difabel, dan pelatihan relawan juga menjadi prioritas.

Melania menjelaskan bahwa langkah awal yang diambil adalah membangun pemahaman di antara umat non-difabel. “Yang kami pikirkan dulu adalah bagaimana umat tidak melihat aneh umat difabel. Etika komunikasi dengan difabel harus terus disosialisasikan kepada umat secara umum,” jelasnya.

Setelah itu, lanjut Melania, pelatihan relawan, koordinator dan umat dilakukan secara bertahap, dengan fokus awal pada bahasa isyarat. Untuk memperkuat program ini, Pastoral Difabel bekerja sama dengan Persekutuan Ekaristi Tuna Rungu Surabaya (PETRUS) dalam pelatihan bahasa isyarat. Para pengurus dan koordinator gereja dilatih untuk mendampingi umat tuli di berbagai kegiatan gereja.  “Yang mendampingi juga adalah kawan tuli sendiri, sehingga mereka bisa belajar langsung,” tambahnya.

Toilet khusus disabilitas ada pegangan di Gereja Hati Kudus Yesus Katedral Surabaya sengaja didesain agar ramah disabilitas saat beribadah di gereja. (dok. katekis pastoral difabel keuskupan Surabaya)

Pelatihan ini, kata Melania, tidak berhenti pada bahasa isyarat, tetapi juga mencakup pemahaman mengenai berbagai kebutuhan difabel lainnya. Saat ini, pelatihan tersebut sudah menjangkau gereja-gereja di wilayah Surabaya Selatan, yang memiliki jumlah umat difabel terbanyak berdasarkan data sensus ramah difabel yang dilakukan sejak 2020.

Keuskupan Surabaya melalui Pastoral Difabel terus mendorong agar gereja-gereja paroki menyediakan fasilitas fisik yang ramah difabel. Sosialisasi dan diseminasi informasi kepada umat paroki tentang pentingnya aksesibilitas telah menunjukkan hasil positif. “Awalnya sulit, tetapi perlahan petugas tata tertib mulai lebih sigap membantu umat difabel,” ungkap Melania.

Melania menjelaskan, koordinator pastoral difabel di setiap gereja menjadi kunci keberhasilan program ini. Setiap gereja memiliki dua koordinator yang bertugas memastikan kebutuhan difabel terpenuhi. Selain itu, relawan yang telah terlatih di Surabaya Selatan, Surabaya Barat, dan Paroki Surabaya Utara, kini aktif melayani umat difabel di wilayah masing-masing.

“Yang sudah jalan di Surabaya selatan, sementara Surabaya barat dan paroki Surabaya utara akan menjadi fokus kita saat ini. Soalnya tidak semua gereja memiliki umat difabel. Menginduk di satu gereja yang memiliki umat difabel,” katanya.

Melania berharap pastoral difabel di gereja paroki semakin berkembang, dengan umat non-difabel, romo, dan imam lebih aware atau peduli terhadap kebutuhan umat difabel.  “Kami ingin gereja dibangun bersama difabel, dengan cara umat bersedia meluangkan waktu dan tenaga untuk mendampingi dalam berbagai kegiatan,” pungkasnya.

Tampilkan Semua

Tags: , , , ,

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.