KBRI Ankara Pentaskan Kolaborasi Tari Sufi

Yovie Wicaksono - 24 September 2019
Peringati 70 tahun hubungan diplomatik Indonesia-Turki, KBRI Ankara pentaskan tari Samansema di Hotel JW Marriot Ankara, Sabtu (21/9/2019). Foto : (Istimewa)

SR, Ankara – Peringati 70 tahun hubungan diplomatik Indonesia-Turki, KBRI Ankara pentaskan tari Samansema di Hotel JW Marriot Ankara, Sabtu (21/9/2019).

Tarian yang khusus dikoreografi oleh LM Iqbal dan Agung Gunawan tersebut diinspirasi oleh dua tarian bernuansa mistis sufisme, masing-masing tari Saman dari Aceh dan tari Sema dari Turki.

Tarian tersebut menceritakan bagaimana sufisme ikut menciptakan efek pencerahan dan kebangkitan dalam sejarah kedua bangsa.

“Pesan moral dari tarian ini adalah agar, sebagaimana halnya di masa lalu, hubungan kedua negara di masa mendatang harus membawa dampak membangkitkan dan mencerahkan bagi kemajuan kedua bangsa,” ujar Sekretaris II Sosial Budaya KBRI Ankara, Haviz Apriliana melalui keterangan resmi yang diterima Super Radio, Selasa (24/9/2019).

Tari Samansema ini dipentaskan oleh 16 orang penari dari sejumlah sanggar di Turki yang sebulan terakhir mengikuti Kursus Tari Musim Panas yang diselenggarakan oleh KBRI Ankara.

Selain mengkolaborasikan tarian, tari Samansema juga mengkolaborasikan alat musik Suling Sema dari Turki dengan Rebab dari Indonesia.

Berbagai kegiatan telah dicanangkan oleh KBRI Ankara bersama berbagai pihak di Turki guna mengisi peringatan tersebut selama setahun ke depan. Selain meluncurkan dimulainya rangkaian kegiatan peringatan 70 tahun hubungan diplomatik Indonesia-Turki, pada kesempatan tersebut juga diluncurkan logo peringatan yang dikomposisikan dari motif ukiran Bali (7) dan motif ornamen khas Ottoman berupa bunga tulip (0).

Meskipun hubungan diplomatik Indonesia dengan Turki secara resmi dimulai sejak tahun 1950, catatan sejarah menunjukkan berbagai kesultanan di Indonesia, baik di Jawa maupun Sumatera, sudah memiliki interaksi dengan kesultanan Ottoman/Usmaniyah sejak abad ke-15. Jejak interaksi tersebut salah satunya terlihat dari berbagai praktek sufisme yang masih tumbuh subur di Indonesia dan di Turki hingga saat ini.

Hadir menyaksikan penampilan tarian tersebut Ketua Parlemen/Majelis Permusyawaratan Nasional Turki, Mustafa Sentop, sebagai tamu kehormatan bersama sekurangnya 500 orang dari kalangan diplomatik, komunitas bisnis dan pejabat pemerintahan Turki. (*/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.