Renny: Tragedi Siswa Ngada Bunuh Diri Alarm Keras Perlindungan Anak dan Sinergi Pendidikan
SR, Surabaya – Kasus bunuh diri seorang siswa kelas 4 SD di Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), memicu keprihatinan mendalam dari berbagai pihak. Ketua Fraksi PDI Perjuangan DPRD Jatim Wara Sundari Renny Pramana menilai tragedi tersebut merupakan potret buram dunia pendidikan dan perlindungan anak yang harus segera diatasi secara sistemik agar tidak terulang kembali di daerah lain.
Tragedi memilukan tersebut diduga kuat dipicu oleh tekanan psikologis akibat ketidakmampuan sang anak untuk membeli buku dan alat sekolah. “Itu sangat memprihatinkan. Apalagi anak kelas 4 SD di Ngada, NTT. Ini adalah duka kita bersama yang menunjukkan bahwa beban ekonomi masih menjadi penghalang nyata bagi pendidikan dan kesehatan mental anak-anak kita,” ungkap anggota Komisi E DPRD Jatim itu
Menanggapi fenomena ini, Renny menekankan pentingnya kehadiran negara secara berkelanjutan dalam setiap fase tumbuh kembang anak. Menurutnya, pemerintah tidak boleh hanya bertindak sebagai ‘pemadam kebakaran’ yang baru muncul setelah kejadian tragis terjadi. Ia menginginkan adanya sistem pengawasan yang terintegrasi, mulai dari usia dini hingga remaja, guna memastikan setiap anak mendapatkan perhatian dan perlindungan yang layak dari lingkungan sekitarnya.
Lebih lanjut, Bendahara DPD PDI Perjuangan Jatim itu mengusulkan adanya terobosan dalam kurikulum sekolah dengan mempertimbangkan ilmu psikologi sebagai mata pelajaran resmi. Sinergi antara orang tua, guru, dan psikolog dianggap krusial untuk mendeteksi dini persoalan mental siswa. Bunda Renny, begitu ia akrab disapa, juga menyoroti lunturnya budaya gotong royong dan meningkatnya sikap individualis di tengah masyarakat yang membuat persoalan berat yang dihadapi seorang individu sering kali luput dari pantauan tetangga maupun lingkungan sekolah.
Agar tragedi serupa tidak merambah ke Jawa Timur, Renny memberikan instruksi tegas kepada Dinas Pendidikan dan Dinas Sosial Provinsi Jatim untuk lebih proaktif ‘menjemput bola’. Ia meminta para pemangku kebijakan untuk tidak hanya duduk di balik meja, tetapi turun langsung melihat dan mendengar keluhan masyarakat di akar rumput. “Marilah kita kembali ke budaya Indonesia yang ramah dan saling membantu. Dinas terkait harus peka, karena sekarang anak-anak pun butuh perhatian khusus,” tegasnya.
Dalam kunjungannya ke daerah pemilihan (Dapil), Renny juga mengungkap tabir kesulitan sistemik yang dihadapi keluarga kurang mampu dalam mengakses pendidikan. Ia mencatat adanya ketimpangan fasilitas yang mencolok, di mana anak-anak berprestasi umumnya lahir dari keluarga berkecukupan. Sebaliknya, anak dari keluarga miskin seringkali kehilangan waktu belajar karena harus membantu orang tua bekerja, bahkan untuk hal mendasar seperti membeli seragam sekolah saja mereka masih sangat kesulitan.
Sebagai langkah konkret, Renny mendorong pemerintah untuk meningkatkan persentase kuota jalur afirmasi dalam proses penerimaan peserta didik baru. Penambahan kuota ini diharapkan dapat memberikan ruang lebih luas bagi anak-anak cerdas dari latar belakang ekonomi rendah untuk mendapatkan fasilitas pendidikan yang setara. “Harapan saya, ketika jalur afirmasi itu dibuka, persentasenya mohon ditambah agar semakin banyak anak cerdas dari keluarga tidak mampu yang bisa terfasilitasi,” tuturnya memberikan solusi kebijakan.
Menutup keterangannya, Renny mendesak Dinas Sosial untuk melakukan evaluasi dan validasi ulang terhadap data kemiskinan, khususnya penerima bantuan Program Keluarga Harapan (PKH). Pasalnya, ia menemukan fakta di lapangan adanya warga yang sudah memiliki mobil namun masih terdaftar sebagai penerima bantuan, sementara warga yang benar-benar membutuhkan justru terabaikan. Dengan perbaikan data dan kepedulian sosial yang kuat, ia berharap hak pendidikan serta keselamatan jiwa anak-anak Indonesia Khususnya Jawa Timur dapat lebih terjamin. (js/red)
Tags: Dprd jatim, ntt, renny wara, siswa bunuh diri, superradio.id
Berita Terkait
Tinggalkan komentar
Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.





