Punden “Penjaga” Kota Surabaya

Yovie Wicaksono - 31 May 2022
Pesarean Kudo Kardono di Surabaya. Foto : (Super Radio/Fena Olyvira)

SR, Surabaya – Menilik Kota Surabaya, tak lepas dari sejarahnya yang panjang. Kota ber-usia 729 tahun ini telah melewati berbagai zaman mulai dari masa kerajaan hingga penjajahan Belanda.

Panjangnya perjuangan di masa lalu, tentu meninggalkan banyak jejak sejarah, salah satunya punden, yakni tempat yang dikeramatkan dan disakralkan oleh masyarakat Jawa. 

Pegiat Sejarah Komunitas Begandring, TP Wijoyo mengungkapkan, ada kurang lebih 150 punden yang telah terdata dari hasil penelusuran serta analisa sejarah.

“Saya juga sedang menulis tentang itu. Saya sudah mendata punden, salah satunya di Surabaya Barat itu masih diuri-uri jadi masih ada sedekah bumi tiap tahun. Punden itu di tiap kelurahan ada tapi banyak juga yang sudah hilang,” ungkapnya.

Pegiat Sejarah dan Budaya Surabaya, Nur Setiawan (41) menambahkan, punden sendiri memiliki banyak perupaan, mulai dari batu, pohon, waduk, sumur, makam, dan pesarean. 

Penyebutannya juga tidak bisa sembarangan, tidak semua makam dapat disebut sebagai punden. “Makam yang dijuluki punden biasanya hanya 1 atau 2 makam dan letaknya di antara pemukiman,” ujarnya.

Dari sekira 150 punden yang ada, Super Radio berhasil menemukan sekira 32 punden yang tersebar di seluruh kawasan Surabaya. Dengan rincian, sebagai berikut:

Pria yang akrab disapa Wawan ini mengatakan, punden merupakan cikal bakal terbentuknya masyarakat desa. Sejak jaman dahulu punden dimanfaatkan sebagai tetenger atau alat komunikasi. 

Misal, ketika orang akan memiliki hajatan maka lebih dulu mendatangi punden dan menaruh makanan disana. Dari hal ini warga lain paham akan ada acara sehingga bergegas saling membantu.

Punden pun dianggap sakral, karena dulunya berjasa untuk masyarakat, salah satunya sebagai “penjaga” kampung. Sehingga masyarakat mendatangi dan merawatnya sebagai tanda penghormatan dan terima kasih.

“Dengan adanya punden, maka jati diri dan rasa nasionalisme yang dimiliki warga kampung akan makin kuat dan lestari,” ungkapnya.

“Masyarakat Surabaya sebagian masih menganggap bahwa punden masih berkaitan dengan angker, mistis dan klenik. Padahal punden itu adalah tempat yang dikeramatkan dan disakralkan oleh masyarakat Jawa,” imbuhnya.

Selain itu, punden juga berperan sebagai benteng untuk perkampungan. Keberadaan punden yang masih disakralkan dan dirawat akan membuat calon investor yang ingin menggusur suatu kampung mengurungkan niatnya.

“Saat ada investor atau kapitalis yang akan membangun sebuah tempat baru yang besar dan mau menggusur sebuah kampung akan merasa tidak bisa, sungkan, karena merasa di wilayah itu masih ada tempat yang disakralkan dan ada aktivitas religius yang dilestarikan,” jelasnya.

Sayangnya, hingga kini masih banyak punden yang luput dari perhatian. Berdasarkan penelusuran selama ini, banyak ditemukan punden yang letaknya sangat terpencil dan tidak terawat. 

Wawan mendorong seluruh pihak terutama Pemerintah untuk lebih cepat bertindak dan melestarikan salah satu peninggalan sejarah ini.

“Kami bersama kawan-kawan akhirnya mengedukasi, nongkrong bersama pemuda setempat agar mereka melestarikan dengan cara melakukan diskusi di punden tersebut dan menggelar kerja bakti punden,” ungkapnya.

“Pemerintah cenderung hanya melestarikan punden yang memiliki nama besar. Jadi ada puluhan mungkin hampir seratus punden kecil yang tidak terawat. Harapannya pemerintah bisa melestarikan punden dari tangan-tangannya contohnya mereka punya karang taruna, LPMK itu harusnya digerakkan,” sambungnya.

Sejarah Surabaya

Disamping punden yang memiliki nilai sejarah sendiri, sejarawan sekaligus Dosen Universitas Negeri Surabaya (Unesa) Sumarno menjelaskan awal mula terbentuknya Kota Surabaya, yakni pada masa pemerintahan Raja Kertanegara yang memimpin Kerajaan Singasari. 

Kala itu, Surabaya menjadi pelabuhan penting di pulau Jawa atau disebut Hujung Galuh, dan kabar ini sampai ke Kaisar China Khubilai Khan. Ia pun mengirim utusannya untuk memberikan perintah agar Raja Kertanegara tunduk kepada Kaisar China.

Namun hal ini ditolak oleh Raja Kertanegara, sebagai simbol penolakan, ia mengiris telinga utusan China. Inilah awal mula pertempuran antara kedua pihak. Pihak Kaisar China yang tidak terima dengan tindakan Raja Kertanegara terus menyulut peperangan dengan kerajaan Singasari.   

Pertempuran terus terjadi, pasukan China yang tidak tahu jika Raja Kertanegara telah meninggal tetap berupaya menyerang, padahal, saat itu masa kekuasaan telah beralih ke Jayakatwang. 

Kondisi ini langsung dimanfaatkan oleh anak Raja Kertanegara yakni Raden Wijaya untuk merebut kembali Singasari yang sebelumnya dirampas Jayakatwang sekaligus mengusir pasukan China dari tanah Jawa.

Dengan semangat juang yang tinggi Raden Wijaya berhasil memenangkan peperangan dan memaksa pasukan Tartar kembali ke China dengan kehilangan banyak pasukan. 

Konon, peristiwa yang terjadi pada 31 Mei 1293 itu dijadikan oleh Raden Wijaya sebagai tonggak pergantian nama pelabuhan Hujung Galuh menjadi Curabhaya atau yang sekarang dikenal sebagai Surabaya. 

“Ketika Surabaya berkembang sebenarnya tidak menjadi perhatian Majapahit karena hanya menjadi kota singgah. Bagaimanapun kerajaan lama mulai Mataram Kuno sampai Mataram Islam itu coraknya agraris, jadi meskipun Surabaya itu menjadi simbol kemenangan tapi Surabaya tidak dibangun sebagai ibu kota karena kota ini masih rawa-rawa,” ucap Sumarno. 

Setelah masa itu, Surabaya hanya menjadi pelabuhan singgah yang berperan sebagai salah satu tempat penyaluran rempah terbesar di Jawa. Banyak kerajaan yang ingin menduduki Surabaya namun hal tersebut selalu gagal. Hingga akhirnya di masa kejayaan islam, Surabaya diberikan kekuasaan untuk membangun pemerintahan sendiri. 

Kemudian dibentuklah Katumenggungan pertama di jaman Mataram, yang dapat diartikan sebagai wakil raja. Tumenggung pertama adalah Jaya Krana dan Jaya Puspita, mereka diberikan kuasa untuk mengembangkan Kota Surabaya. 

“Karena Surabaya itu mewarisi budaya yang agak kaku gak mau diatur ala priyayi, jadi tidak ada kerajaan, karena tidak ada penguasa yang bisa mendirikannya. Tapi oleh kerajaan jawa diberi kekuasaan lebih tinggi diatas bupati namanya tumenggung,” ujarnya.

“Tumenggung itu di Surabaya ya membangun istana, walaupun di jaman Belanda sudah diubah, dibelah untuk jalan kereta api,” pungkasnya. (hk/fos/red)

Tags: , , , ,

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.