Punden Mbah Sholeh, “Penjaga” Kampung Karang Tembok

Yovie Wicaksono - 26 May 2022
Salah satu warga Karang Tembok, Ali Yusuf saat sowan ke pesarean Mbah Sholeh. Foto : (Super Radio/Fena Olyvira)

SR, Surabaya – Siapa sangka di tengah hiruk pikuk padatnya kawasan Surabaya Utara, terdapat satu punden yang masih terus dijaga dan dirawat masyarakat sekitar hingga sekarang.

Bertempat di Jalan Karang Tembok V-B, Pegirian, Kecamatan Semampir, Surabaya, punden tersebut biasa dijuluki sebagai pesarean Mbah Sholeh atau Mbah Sahri.

“Karena ini dikeramatkan, jadi ya dianggap sholeh, apalagi beliau ini diduga dulunya disini untuk syiar. Makanya disebut Mbah Sholeh,” ujar salah satu warga setempat, Ali Yusuf, Kamis (26/5/2022).

“Sementara kalau nama Mbah Sahri itu dulu awalnya sekitar tahun 90an ada warga sini yang didatangi dan menyebut kalau namanya Mbah Sahri. Tapi siapa nama asli beliaunya sampai sekarang belum ada yang tau,” sambungnya.

Ali mengatakan, tidak ada yang tau siapa sosok Mbah Sholeh sebenarnya, dan hidup di masa apa, lantaran pesarean itu sudah ada sebelum pemukiman di wilayah tersebut ada.

Berdasarkan mitos yang beredar di masyarakat, punden tersebut dulunya menjadi tempat istirahat atau biasa disebut sebagai petilasannya.

“Dulu orang sini kalau syukuran atau bancaan bilangnya pasti ke makam Sidabranti dulu, katanya itu di dekat markas AL. Tapi karena pembangunan sudah pesat, orang tua sekarang sudah tidak tau posisi pastinya makam Sidabranti itu mana,” ujar pria kelahiran tahun 1982 ini.

“Setelah kami cari tau, ternyata ada yang bilang kalau kampung sini sampai Endrosono itu dulu namanya Kampung Sidabranti dan ada sosok-sosok yang disepuhkan,” imbuh Ali.

Sampai sekarang pun, masyarakat di sana tiap kali memiliki hajat sudah menjadi sebuah keharusan untuk sowan atau kirim doa terlebih dahulu ke pesarean Mbah Sholeh.

Ali mengatakan, ada beberapa warga yang melanggar hal tersebut, tidak sowan terlebih dahulu saat akan menggelar acara dan akibatnya saat acara berlangsung sempat terjadi angin kencang yang menerjang.

“Bahkan ada yang sampai gila karena menggelar acara tapi lupa nggak sowan dulu. Pasti ada-ada aja akibatnya. Jadi sudah sebuah keharusan bagi masyarakat disini untuk sowan saat mau ada hajat atau saat ada rezeki,” katanya.

Pada bulan Sawal (kalender Jawa), yang juga bertepatan dengan bulan Syawal di kalender Islam, masyarakat berbondong-bondong untuk kirim doa di pesarean Mbah Sholeh, lantaran banyak yang menggelar pernikahan maupun syukuran. Dalam sehari, bisa sampai tiga kali dilakukan kirim doa.

Pesarean Mbah Sholeh yang tak memiliki juru kunci atau penjaga pun pintunya tak pernah terkunci untuk memudahkan masyarakat setempat yang ingin sowan atau kirim doa pada jam berapapun.

Ali menambahkan, tiap kali akan datang musibah atau bencana, Mbah Sholeh akan menampakkan dirinya mengelilingi kampung dengan menunggangi kuda hitamnya.

“Beliau mengenakan jubah putih, naik kuda warna hitam. Kata orang dulu, bunyinya itu sampai terdengar. Era saya dulu gak ada yang berani lewat sini, apalagi kalau maghrib. Tiap lewat harus bilang amit (permisi, red), ya sebenarnya itu baik sih mengajarkan kita sopan santun,” kata Ali.

Sebagai bentuk uri-uri dan penghormatan atas jasa Mbah Sholeh yang telah ‘menjaga’ kampung tersebut, sejak 2020 masyarakat setempat menggelar kirab pada hari ke-9 usai Iduladha yang kemudian satu hari setelahnya diperingati sebagai haul Mbah Sholeh.

“Karena setelah Iduladha itu dianggap sebagai bulan yang baik, maka warga sini sepakat memperingati haul Mbah Sholeh pada hari ke-10 setelah Iduladha. Dan untuk menandainya, satu hari sebelumnya kita adakan kirab keliling kampung, ibaratnya kita meluangkan satu hari untuk menggantikan Mbah Sholeh keliling untuk menjaga kampung,” ujarnya. (fos/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.