Koperjati Peringati Hari Pahlawan dengan November Art #5

Yovie Wicaksono - 11 November 2019
Welldo Wnophringgo sedang menunjukkan karyanya yang berjudul “You Can See Me from My Face, but I am not a Face” kepada pengunjung. Foto : (Super Radio/Fena Olyvira)

SR, Surabaya – Komunitas Perupa Jawa Timur (Koperjati) memperingati Hari Pahlawan yang jatuh pada 10 November dengan menggelar November Art #5 bertajuk Gerak Rupa yang berlangsung mulai Minggu (10/11/2019) hingga Sabtu (30/11/2019) di Jalan Darmokali 14 – 16 Surabaya, Jawa Timur.

“Kegiatan ini telah berlangsung dalam 5 tahun ini dan merupakan salah satu cara kami dalam memberikan penghormatan dan penghargaan kepada para pahlawan yang telah gigih berjuang, mempertaruhkan jiwa raganya untuk kemerdekaan negeri ini,” ujar Ketua Umum Koperjati, Muit Arsa kepada Super Radio.

Ia menambahkan, maksud dan tujuan dari Gerak Rupa sendiri adalah agar para perupa selalu termotivasi, bergerak dan terus berkarya untuk menghasilkan karya-karya seni rupa yang dapat diapresiasi dan dinikmati oleh masyarakat luas.

Sementara itu, Ketua Pelaksana Pameran Budi Bi mengatakan, Gerak Rupa dapat dihubungkan dengan karya lukis yang melambangkan konsep gerakan, semangat dan respon terhadap budaya maupun fenomena kekinian.

“Pameran ini juga berusaha menampilkan keanekaragaman karya yang mampu mencerminkan betapa dengan kesenian, perbedaan bisa disatukan,” ujarnya.

Pameran ini diikuti oleh 34 anggota Koperjati dari berbagai daerah di Jawa Timur yang menampilkan beragam karya sesuai dengan gaya dan aliran masing-masing.

Salah satu perupa asal Denpasar yang turut serta dalam pameran tersebut, Welldo Wnophringgo menghadirkan karyanya dalam media oil on canvas berukuran 100 x 150 centimeter yang berjudul “You Can See Me from My Face, but I am not a Face”.

“Saya ingin mengatakan bahwa melihat orang itu jangan dari rupa, bentuk atau luarnya, karena luar itu tidak jauh beda seperti manekin, hanya patung tak bernyawa. Kita harus mampu melihat itu dari dalamnya. Makanya ini judulnya You Can See Me from My Face, but Iam not a Face,” ujarnya.

Ia juga menggambarkan sebuah wajah dan pisau dalam karyanya yang memiliki arti, jika ingin mengenal diri sendiri, maka bunuhlah pikiran anda.

“Wajah itu menggambarkan kepala, bukan hanya sekedar topeng tapi sebuah kepala. Artinya manusia seringkali tidak sadar bahwa dirinya itu diperbudak oleh pikirannya, kemudian pisau itu menggambarkan, kalau kita ingin mengenal diri kita yang sebenarnya maka bunuhlah pikiranmu,” ujarnya.

Mengenai lama proses pengerjaan karya tersebut, Welldo mengaku menyelesaikannya dalam tiga minggu, dan hal tersebut merupakan proses pengerjaan yang paling cepat baginya, karena biasanya ia membutuhkan waktu dua bulan dalam proses pengerjaan.

Sekedar informasi, selain menampilkan beragam karya seni rupa, dalam pembukaan pameran tersebut juga digelar penampilan dari Welldo Wnophringgo dan Hahdi Betjak serta kesenian pecutan. (fos/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.