Psikolog : Pernikahan Ibarat Berlian

Yovie Wicaksono - 7 February 2022
Ilustrasi. Foto : (Thinkstock)

SR,  Jakarta – Pernikahan merupakan suatu hal yang memiliki tujuan mulia yakni membentuk keluarga bahagia dan kekal abadi. Namun, cinta dalam rumah tangga perlu dimanajemen karena rumah tangga sendiri seperti puzzle.

“Kita dengan pasangan itu orang yang berbeda dengan karakter yang berbeda juga. Kita harus punya keinginan yang sadar untuk merangkai puzzle tersebut atau justru mengakhirinya,  itu sebuah pilihan,” ujar Psikolog Klinis Postpartum ID,  Tatik Imadus,  Senin (7/2/2022).

Menurut Tatik,  pernikahan sendiri dapat diibaratkan dengan sebuah berlian yang terdiri dari beberapa indikator yaitu komitmen, tujuan,  knowledge & skill, mindset,  dan berserah.

“Ada perbedaan antara laki-laki dengan perempuan.  Untuk laki-laki, kebutuhan seks memang lebih besar. Selain itu,  perbedaan wanita dan pria salah satunya, wanita berbicaranya lebih banyak yaitu 16 ribu sampai 21 ribu per hari sedangkan laki-laki jauh lebih sedikit hanya sekitar 6 ribu sampai 9 ribu kata,” ujar Tatik.

Selain bicara soal kepribadian pasangan, dalam pernikahan juga harus diketahui bahwa ada love language atau bahasa kasih. Bahasa kasih, kata Tatik,  istilahnya seperti baterai yang butuh di cas seperti fungsinya sehingga akan maksimal.

“Sama seperti kita, kalau tidak dicas dengan bahasa kasih maka tidak akan nyaman. Bahasa kasih itu ada 5, ada yang suka dikasih kata-kata pendukung, ada juga waktu bersama, sentuhan fisik, pelayanan atau menerima hadiah,” kata Tatik.

Menurut Tatik,  seksualitas menjadi sesuatu yg penting dalam rumah tangga karena dampaknya sangat besar bagi suami dan istri. Namun pada pasangan yang tidak sah, keberadaan perempuan ini hanya sebagai sebuah benda.

“Cinta penting dalam dimensi ketahanan keluarga, tetapi komitmen, berserah diri, pengetahuan, skill itu juga penting,” katanya.

Terkait adanya masalah selingkuh dan kasus kekerasan dalam rumah tangga,  menurut Tatik,  hal itu merupakan pilihan dari setiap orang.  “Selingkuh itu sebuah pilihan. Seperti orang yang sudah makan tapi ingin donat. Dia sudah punya istri tapi tetap ingin mencari pilihan. Rumah tangga yang sangat baik-baik saja, istri cantik, baik, tapi suaminya selingkuh. Hormon kesetiaan dan kasih sayang tidak cukup,” kata Tatik.

“KDRT juga pilihan bagi perempuan. Kalau kondisi psikis masih kuat dan bertahan mencari strategi untuk membina rumah tangga, silahkan dilakukan cara mediasi. Tapi bila anak-anak hidup di tengah kondisi pernikahan yang tidak baik mungkin perceraian menjadi pilihan terbaik, karena kasihan anak yang tumbuh kembang di tengah KDRT,” sambung Tatik. (ns/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.