Perlukah Mewaspadai Paparan Radiasi Elektromagnetik dari Ponsel? Berikut Jawabannya

Yovie Wicaksono - 15 September 2020
Ilustrasi. Foto : (MarketWatch)

SR, Surabaya – Radiasi elektromagnetik dari ponsel sering diklaim berbahaya. Beberapa penelitian bahkan mengungkapkan sejumlah risiko kesehatan yang patut diwaspadai. Namun, pernahkan anda memperhitungkan paparan radiasi elektromagnetik yang dihasilkan ponsel?

Smartphone atau ponsel pintar memang tidak pernah lepas dari genggaman kita sehari-hari. Meski demikian, dosen Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Airlangga Sho’im Hidayat menyampaikan, paparan radiasi elektromagnetik dari ponsel termasuk dalam golongan yang paling lemah. 

Smartphone, radar, dan televisi, termasuk ke dalam kelompok radio frekuensi. Artinya, energi atau daya rusak yang dihasilkan paling lemah,” ujarnya.

Menurut Sho’im, berdasarkan daya rusaknya, setidaknya gelombang elektromagnetik dapat dibedakan menjadi beberapa jenis. Pertama, dari yang paling tinggi, yaitu Sinar Gamma dengan panjang gelombang sekitar 10-7 meter. Selanjutnya, Sinar X atau Rontgen dan Sinar Ultraviolet.  

Selain itu, terdapat Sinar Tampak, Sinar Inframerah, dan Sinar Gelombang Mikro. Sementara Sinar Radio Frekuensi berada pada tingkat paling rendah dengan panjang gelombang lebih dari 1 meter. 

“Pada gelombang elektromagnetik, energi yang dihasilkan tergantung panjang gelombangnya. Sedangkan panjang gelombang ini bervariasi. Inilah kenapa daya rusak suatu gelombang elektromagnetik berbeda-beda,” kata Sho’im.

Sementara itu, terkait sakit kepala yang kerap muncul akibat menggunakan gawai, Sho’im menandaskan bahwa penyebabnya kemungkinan besar bukan radiasi elektromagnetik, melainkan karena sikap kerja yang kurang nyaman dan membuat otot kaku.

“Gelombang ini (radiasi elektromagnetik dari ponsel) lemah sekali. Tidak perlu khawatir,” pesannya. 

Meski begitu, ia mengatakan, beberapa radiasi elektromagnetik perlu diwaspadai. Di antaranya adalah Sinar Rontgen dan Sinar Ultraviolet yang berpotensi mengionkan molekul kimia dalam tubuh. Hal tersebut dapat mengakibatkan mutasi gen yang selanjutnya memicu kanker.  

“Ini bisa terjadi kalau paparannya dalam waktu lama, lebih dari 10 tahun. Walaupun kadarnya kecil,” jelas Sho’im. 

Di sisi lain, imbuh Sho’im, Sinar Ultraviolet memiliki sejumlah resiko yang menimbulkan kerusakan akut pada mata. “Menatap matahari terlalu lama atau menangkap sinar ultraviolet yang dihasilkan las listrik dapat meningkatkan resiko kerusakan pada mata,” katanya. (*/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.