Perjuangan Pasutri Disabilitas di Tengah Himpitan Ekonomi

Yovie Wicaksono - 3 June 2020
Kasiani sedang menambal ban. Foto : (Super Radio/Rahman Halim)

SR, Kediri – Dengan keterbatasan fisik yang dimiliki serta usianya yang sudah senja, tidak menghalangi Kasiani untuk tetap bekerja banting tulang sebagai tukang tambal ban.

Perempuan berusia hampir 65 tahun ini harus tetap bekerja menyambung hidup untuk kebutuhan hidup sehari-hari. Apalagi suaminya, Sugeng (55) saat ini hanya bisa terbaring ditempat tidur lantaran penyakit stroke yang dideritanya.

Sejak empat tahun terakhir ini, Sugeng sudah tidak bisa membantu istrinya lagi bekerja tambal ban. Waktunya hanya ia habiskan di tempat tidur karena sakit tersebut.

“Itu suami saya sakit stroke, sudah kurang lebih empat tahun ini. Jadi sudah nggak bisa membantu lagi bekerja sebagai tukang tambal ban,” ujar Kasiani.

Dulu sebelum suaminya sakit, selain tambal ban dirinya berjualan bensin eceran di rumah. Hasil penjualan bensin dengan keuntungan Rp 500 per liter, dirasa cukup membantu untuk menambah pendapatan hasil tambal ban. Tetapi sejak suaminya tidak bekerja, usaha jualan bensin ecerannya sudah lama mandek.

Bahkan untuk menyambung hidup kebutuhan sehari-hari ia terpaksa harus menjual sepeda motor milik suaminya, yang biasa dipergunakan untuk membeli bensin sebelum dijual kembali.

Sepeda motor buatan China yang dimodifikasi khusus roda tiga bagi penyandang disabilitas tersebut laku dijual seharga Rp 1,5 juta.

Dirinya masih bisa bersyukur sebab selama suaminya menjalani perawatan di rumah sakit, semua biaya sudah ditanggung oleh pemerintah melalui program Kartu Indonesia Sehat (KIS).

“Semua biaya perawatan ditanggung pemerintah. Tapi kita juga keluar duit untuk bolak balik ke rumah sakit, kan naik becak. Juga saya nyuruh orang untuk nunggu, kalau saya sendiri kan nggak bisa, fisik saya kayak gini,” katanya.

Kasiani dan Sugeng adalah penyandang disabilitas dengan keterbatasan fisik di bagian kaki. Mereka menikah sekitar 24 tahun lalu dengan selisih usia mereka saat menikah terpaut 10 tahun. Keduanya kemudian dikarunia satu orang anak. Anak laki-lakinya tersebut kini tinggal bersama istrinya.

“Anak saya kan kerjanya sebagai sales, sekarang tinggal bersama istrinya di wilayah Kecamatan Pesantren,” ujarnya.

Meski putranya sudah berkeluarga dan memiliki mata pencaharian sendiri, Kasiani tidak mau bergantung dan merepotkan anaknya. Baginya, selama dirinya masih kuat dan mampu, ia akan terus bekerja untuk memenuhi kebutuhannya.

“Kan dia sudah punya keluarga sendiri, biar pekerjaan ini saya lakoni aja,” pungkasnya.

Pada saat pandemi seperti sekarang, Kasiani mengaku pendapatan hasil tambal ban mengalami penurunan. Dimana dulu sebelum merebak Covid-19 per hari ia bisa mendapatkan uang antara 70 – 80 ribu.

“Kalau sekarang kadang dapat uang tambal ban 20 ribu aja sehari, ya mau gimana lagi, tetap harus disyukuri,”  katanya.

Ia tidak memungkiri terkadang ada juga orang yang merasa iba lalu memberinya bantuan. Bahkan ada juga yang mau membantu memperbaiki rumahnya beberapa waktu lalu.

Rumah yang ditempati Kasiani di Jalan Jaksa Agung Suprapto, hanya satu ruangan. Ruang tamu dan tempat tidurnya menjadi satu. Disitulah mereka berdua selama ini tinggal. Dimana sisa ruang depan rumahnya ia fungsikan untuk menaruh mesin kompresor diperuntukan isi angin dan tambal ban. (rh/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.