‘Perempuan Mandiri’ Jadi Enggan Nikah, Benarkah?

Yovie Wicaksono - 26 April 2024

Psikologis Perempuan Mandiri

Ilustrasi. Foto : (Shutterstock)

Dosen Bidang Minat Perkembangan Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya, Eli Prasetyo menyebut, pemikiran perempuan mandiri cenderung lebih kompleks dibanding perempuan pada umumnya. Hal ini, disebabkan skala prioritas yang telah terbagi ke beragam aspek.

Eli menjelaskan, perempuan mandiri, punya karakter yang kuat dan teguh pada pendirian. Mereka cenderung penuh pertimbangan, termasuk saat menjalin hubungan. Kemandirian finansial membuat mereka tak hanya menginginkan pasangan, melainkan partner yang mampu memahami dan tak membatasi ambisi dalam eksplorasi banyak hal.

Terlebih, lanjutnya, perempuan mandiri menyukai kebebasan dan fleksibilitas. Inilah yang sering disalah artikan sebagai keinginan untuk tidak menikah. “Tidak ada salahnya perempuan jadi mandiri, karena kita tidak tahu perjalanan hidup nanti akan seperti apa, misal ketika suami meninggalkan istri jadi istri harus kuat. Cukup banyak kasus suami yang dominan jadi kalau ada apa-apa keluarga jadi collapse,” ujarnya. 

Padahal, kata Eli, ada beberapa hal yang memengaruhi hal tersebut. 

Memilih menikah maupun tidak menikah adalah hak prerogatif setiap orang. Namun siklusnya dipengaruhi banyak hal. Salah satunya pada kultur di suatu wilayah. Eli mencontohkan, di wilayah yang kultur patriarkinya masih tinggi, maka pembagian peran dalam rumah tangga akan timpang dan perempuan dibebankan peran ganda. 

Pola berulang tersebut membuat perempuan semakin ragu untuk melangkah ke jenjang yang lebih serius. Akhirnya muncul anggapan untuk tidak menikah demi mengurangi masalah. “Ketika kita mendapat pasangan yang saling support emosional akan sangat bagus, tapi kalau terjebak dengan situasi KDRT maka akan lebih buruk. Tiap pola pernikahan itu tidak ada yang sama, termasuk bagaimana support pasangan,” jelasnya.

“Orang yang single merasa lebih simple dan tidak ribet dengan saling berseteru dengan pasangannya. Kalau dari psikologi lebih menggaungkan kebahagiaan jadi well being diri sendiri baik memilih menikah ataupun tidak,” tuturnya.

Faktor selanjutnya yakni keluarga. Lingkup terdekat adalah contoh pertama, gambaran pernikahan sesungguhnya. Jika anak tinggal bersama keluarga yang harmonis maka ia akan memiliki harapan yang indah terhadap suatu hubungan, begitupun sebaliknya.

Jika seorang anak tinggal bersama keluarga yang kurang harmonis, maka ia akan tumbuh dengan trauma yang makin menguatkan tekad untuk tidak menikah. “Memang kembalinya harus dari keluarga agar orang itu tidak takut menikah. Bagaimana keluarga terdahulu menciptakan keluarga itu, jadi keluarga itu berperan besar, bagaimana keluarga itu dibentuk, peran ayah, peran ibu, jadi ada contoh dari keluarga terdekat dulu,” ucapnya.

Faktor ekonomi juga memegang peranan besar. Tingginya biaya hidup akan menjadi masalah baru jika tak memiliki kematangan berpikir. Untuk itu, kebanyakan perempuan mandiri mengalihkan prioritasnya ke hal lain, seperti keluarga dan sebagainya.

“Di era sekarang ini, ekonomi juga menjadi salah satu faktor turunnya angka pernikahan, karena menghidupi orang lain itu juga berat, apalagi di indonesia, menikah itu juga melibatkan keluarga besar,” ungkapnya.

“Di negara-negara maju juga sudah mempertimbangkan itu, di media sosial juga banyak contoh tidak menikah atau menikah tanpa anak yang juga mengurangi beban ekonomi,” imbuhnya. 

Terlebih, saat ini nilai-nilai kesetaraan massif digaungkan. “Saat ini banyak hal yang memengaruhi kehidupan banyak orang, baik untuk menikah ataupun lainnya. Dari sisi ekonomi perlu diperhatikan, misal di perbankan ada syarat untuk tidak menikah dalam beberapa tahun, jadi itu kembali ke masing-masing individu,” jelasnya. 

“Jadi ketika keputusan itu diambil maka tugas orang terdekat adalah memberikan support tapi dengan catatan tetap memberi pandangan terkait pertimbangan dan diskusi terkait pernikahan,” terangnya.

Tampilkan Semua

Tags: , , , , ,

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.