Masyarakat Harus Cerdas dalam Terima Informasi

Yovie Wicaksono - 21 August 2019
Ketua DPD PDI Perjuangan Jawa Timur, Kusnadi. Foto : (Istimewa)

SR, Surabaya – Wakil Ketua DPRD Jawa Timur, Kusnadi berharap kepada masyarakat untuk lebih cerdas dalam menerima informasi, terlebih yang belum terjamin kebenarannya.

“Marilah kita cerdas untuk menerima berita, apakah itu sesuai dengan faktanya atau tidak, kalau tidak benar ya jangan diikuti apalagi disebarluaskan. Telusurilah sumbernya,” ujarnya menanggapi adanya dua hoax yang terdeteksi oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) berkaitan dengan demonstrasi di Papua dan Papua Barat.

Hoax tersebut berupa Foto Mahasiswa Papua Tewas Dipukul Aparat di Surabaya dan hoax yang menyebutkan bahwa Polres Surabaya Menculik Dua Orang Pengantar Makanan untuk Mahasiswa Papua.

Kusnadi menambahkan, sebenarnya di media mainstream, media sosial, bahkan di pemerintahan selalu mengimbau masyarakat untuk cerdas dalam menerima dan menyebarkan informasi. Namun terkadang, demi mendapatkan followers, viral, dan agar dianggap lebih up to date, masyarakat tidak mencari tahu terlebih dahulu dalam menyampaikan atau menyebarluaskan informasi.

“Boleh-boleh saja dan tidak dilarang untuk menyebarkan berita, tapi tentu harus yang benar, faktual, dan apa adanya,” imbuhnya pada Selasa (20/8/2019).

Ia juga berharap kepada media massa, agar dalam pemberitaan disertakan dengan tanggung jawab tinggi sebagai anak bangsa.

“Kami berharap, dalam konteks pemberitaan harus berpikir bahwa ada tanggung jawab kita sebagai anak bangsa,” tandasnya.

Aliansi Jurnalis Independen (AJI) juga menyerukan kepada semua pihak untuk menggunakan kebebasan berekspresi dengan sebaik-baiknya.

“Kami menolak segala macam tindakan provokasi dan tindakan rasis yang bisa memicu perpecahan dan kekerasan yang bisa membahayakan kepentingan umum dan demokrasi,” ujar Ketua Umum AJI Indonesia, Abdul Manan.

Melansir tempo.co, Polri sudah mengantongi lima akun media sosial yang diduga memuat konten provokasi kericuhan di Papua dan Papua Barat. Lima akun tersebut saat ini sedang diprofiling oleh Direktorat Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri.

Sebelumnya, sebagai upaya pencegahan meluasnya penyebaran hoax yang memicu aksi, Kemkominfo telah melakukan pelambatan akses/bandwidth di beberapa wilayah Papua Barat dan Papua di mana terjadi aksi massa pada Senin (19/8/2019), seperti Manokwari, Jayapura dan beberapa tempat lain.

Pelambatan akses dilakukan secara bertahap sejak Senin (19/8/2019) pukul 13.00 WIT hingga pukul 20.30 WIT. (fos/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.