Pengasuh Ponpes Pari Ulu Buat Jamu Suling Zanjabila untuk Cegah Corona

Yovie Wicaksono - 4 May 2020
Proses Pembuatan Jamu Suling Zanjabila untuk Cegah Corona. Foto : (Super Radio/Rahman Halim)

SR, Kediri –  Merespon kecemasan para santri terkait pandemi virus corona (Covid-19), pengasuh Pondok Pesantren Pari Ulu, Desa Cangkring, Kecamatan Gurah, Kabupaten Kediri, Kyai Mustain Ansori berinisiatif untuk membuat jamu herbal yang diberi nama Jamu Suling Zanjabila.

Jamu yang terbuat dari jahe, serih, kunyit, temulawak, ketumbar dan madu ini bermanfaat untuk meningkatkan daya tahan tubuh serta melawan virus.

Kyai Mustain Ansori mengatakan, dalam konsep ajaran agama Islam dituliskan mengenai pencegahan dan perlawanan terhadap virus. Dari berbagai ayat suci Alquran yang telah dipelajarinya, Kyai Mustain Ansori kemudian menemukan bahan utama jahe dan madu.

Temuanya ini kemudian dipadukan dengan disiplin ilmu kedokteran, biologi, kimia, fisika serta pertanian organik lalu lahirlah penemuan jamu herbal tersebut.

“Awal  motivasinya, setelah ada wabah dan diumumkan harus jaga jarak dan pakai masker dan cuci tangan semua sudah dilakukan. Namun para santri ini masih was-was. Di dalam kitab suci Alquran ada solusinya. Saya teringat beberapa ayat dari situlah membuat saya terinspirasi,” ungkapnya.

Ia berharap dengan temuan jamu herbal yang ia buat nantinya bisa membantu program pemerintah untuk menanggulangi sekaligus membatasi penyebaran dari Covid-19.

Sementara itu Dokter Hewan Pujiono selaku LPPNU Kediri mengatakan, sebelum jamu ini diproduksi dalam jumlah cukup banyak, Jamu Suling Zanjabila telah melalui proses beberapa kali uji coba pada hewan unggas.

“Ada hewan unggas atau ayam broiler itu ngorok sampai suaranya terdengar. Hari ketiga suaranya sudah menurun sampai hari ke 6 dan ke 7 suaranya sudah bagus, hari ke delapan  dilihat paru-paru dan jantungnya ternyata sudah bersih, termasuk saluran pernafasan ya sudah bagus. Dari sini saya bisa mengambil kesimpulan awal jamu ini tidak berbahaya dikonsumsi siapapun dari usia balita sampai tua. Sangat berguna bagi seseorang yang memiliki kasus positif (Covid-19) maupun tidak,” kata Pujiono.

Setelah diuji coba pada hewan unggas, kemudian menginjak bulan April, kembali diuji cobakan kepada santri dan anggota LPPNU dan hasilnya menggembirakan.

Didalam proses pembuatan Jamu Suling Zanjabila terlebih dahulu harus melalui proses 9 tahapan. Semua proses pengerjaan pembuatan jamu ini melibatkan para santri setempat.

Setelah bahan dipilih, kemudian melewati proses belah rimpang, fotosfer atau pengeringan dengan sinar matahari, Very Light Sativa lebah, oven hingga fermentasi selama 24 jam.  Setelah itu memasuki tahap penyulingan. Takaran satu liter jamu, pengulangan berlangsung selama 8 jam dan terakhir pengemasan sekaligus sterilisasi sebelum didistribusikan.

Dalam kurun waktu tiga minggu, jamu ini telah didistribusikan sebanyak 5700 unit kepada sejumlah wilayah di Kediri yang terdampak Covid-19.

Sejauh ini masyarakat merespon positif terkait penemuan jamu tersebut. Bahkan, jamu herbal ini diklaim telah berkontribusi menyembuhkan sejumlah pasien Covid-19 yang disarankan mengkonsumsi jamu sehari 2 kali selama 7 hari. (rh/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.