Pemkab Kediri Tanggung Biaya Pendidikan Anak Serda Edi Wibowo, Awak KRI Nanggala 402

Yovie Wicaksono - 27 April 2021
Bupati Kediri Hanindhito Himawan Pramana mengunjungi kediaman Trismiyati, orang tua dari Serda Edi Wibowo, satu dari 53 awak kapal selam KRI Nanggala 402 yang gugur saat menjalankan tugas di perairan Bali. Foto : (Super Radio/Rahman Halim)

SR, Kediri – Didampingi oleh Dandim 0809 Letkol Infantri Rully Eko Suryawan, Bupati Kediri Hanindhito Himawan Pramana mengunjungi kediaman Trismiyati, orang tua dari Serda Edi Wibowo, satu dari 53 awak kapal selam KRI Nanggala 402 yang gugur saat menjalankan tugas di perairan Bali.

Tujuan kedatangan orang nomor satu di Kabupaten Kediri ini tidak lain untuk mengucapkan turut berbela sungkawa sekaligus prihatin atas peristiwa yang menimpa Serda Edi Wibowo.

Saat bertemu Trismiyati di kediamannya di Desa Ngadiluwih, Kecamatan Ngadiluwih, Kabupaten Kediri, Bupati berusia 28 tahun ini juga terlihat larut dalam kesedihan. Meski demikian, bapak satu anak ini berusaha untuk tetap tegar dan membesarkan hati Trismiyati.

Dalam kesempatan tersebut, Bupati yang merupakan kader dari PDI Perjuangan ini menjelaskan musibah yang menimpa Serda Edi Wibowo merupakan kejadian diluar dugaan.

“Apa pun itu prajurit sedang menjalankan tugas, disaat kita tertidur mereka sedang bekerja. Maka sudah menjadi kewajiban pemerintah jika terjadi apa apa harus mengcover mencukupi kebutuhan dari keluarga,” ujar Hanindhito Himawan Pramana.

Belakangan diketahui jika posisi anak dan istri Serda Edi Wibowo saat ini sedang berada di Sidoarjo. Pemerintah Kabupaten Kediri berencana untuk mengcover biaya pendidikan putra dari Serda Wibowo hingga jenjang perguruan tinggi.

“Saya minta data anaknya, supaya apa, kalau bisa kita cover sampai perguruan tinggi nanti. Apa yang menjadi kebutuhan anak tersebut. Kalau sudah ada kejadian seperti ini kita tidak melihat, tempat tinggal di Kabupaten mana, kita melihatnya Warga Negara Indonesia,” tandasnya.

Sementara itu, Trismiyati menceritakan semenjak remaja hingga dewasa ia menilai putranya tersebut memiliki jiwa empati sosial  yang sangat tinggi.

Trismiyati bercerita bahwa 30 menit sebelum berangkat menyelam bersama kapal KRI Nanggala 402, Serda Edi Wibowo sempat berpamitan dan meminta doa  restu darinya melalui telepon.

“Ia selalu perhatian sama orang tua dan semua orang. Terakhir kali ia sempat berbicara pada hari Senin tanggal 19 April 2021, ketika mau menyelam. Dia pamitan, bu saya mau berangkat mau menyelam. Masih ada waktu setengah jam, saya minta doa restunya,” kenangnya.

Saat terakhir kali bertemu, Trismiyati sempat bertanya pada putranya yang terlihat semakin kurus, namun hal tersebut dijawab lantaran padatnya aktivitas yang dilakoninya.

“Saya sempat tanya, badanmu kok semakin kurus to le, dia jawab katanya banyak kegiatan. Cuman gitu,” ujarnya.

Menurut Trismiyati, jika  ada waktu luang atau dikala libur, Serda Edi Wibowo selalu menyempatkan diri untuk pulang menjenguknya ke Ngadiluwih.

Kepergian ragil dari 4 bersaudara itu  meninggalkan seorang istri dan 2 orang anak.

Trismiyati mengatakan, ada satu keinginan Serda Edi Wibowo yang belum kesampaian hingga sekarang, yakni mengajak ibu dan keluarganya berangkat ke Tanah Suci.

“Bilang mau Umroh, ibu sudah aku daftarin katanya. Umrohnya sama istri, keluarga dan mertuanya,” ungkapnya. (rh/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.