PDI Perjuangan Jatim Kritisi Beberapa Kinerja Pemprov

Yovie Wicaksono - 1 December 2021
Anggota Komisi A DPRD Jatim, Yordan M. Batara-Goa. Foto : (Istimewa)

SR, Surabaya – Fraksi PDI Perjuangan DPRD Jawa Timur mengkritisi beberapa Indikator Kinerja Utama (IKU) Pemprov Jawa Timur. Salah satunya terkait capaian pertumbuhan ekonomi Jawa Timur.

Juru bicara Fraksi PDI Perjuangan DPRD Jawa Timur Yordan M. Batara-Goa mengatakan, pada triwulan III tahun 2021 dibanding periode sama tahun sebelumnya (yoy) tercatat 3,23 persen. Angka itu lebih rendah dari pertumbuhan ekonomi triwulan II 2021 (yoy) yang membukukan 7,05 persen.

Pihaknya juga menemukan dalam dokumen rancangan Kebijakan Umum Anggaran (KUA) Tahun Anggaran 2022 pada halaman 24 terkait prediksi pertumbuhan ekonomi tahun 2022. Disebutkan, ada tiga wilayah yang pertumbuhan ekonominya terbilang rendah, yakni Probolinggo 3,8 persen, Bangkalan 3,9 persen, dan Lumajang 4,2 persen.

“Mohon penjelasan Gubernur tentang bagaimana langkah strategi untuk memperbaiki keadaan ini,” kata Yordan dalam rapat paripurna, Selasa (30/11/2021).

Selain itu, Fraksi PDI Perjuangan juga menyoroti tentang jumlah penduduk miskin. Dimana data kemiskinan pada Maret 2021 mencapai 11,40 persen.

“Bagaimana strategi APBD 2021 untuk mencegah naiknya angka kemiskinan di masa bayang-bayang pandemi Covid-19 yang terus berlanjut?” katanya.

Fraksi PDI Perjuangan juga mempertanyakan strategi APBD Jawa Timur pada peningkatan gini ratio dari Maret 2020 sampai maret 2021 ada sisi ketimpangan kelas sosial yang menjadi 11,40 persen atau 4.572,73 ribu jiwa.

Tak hanya itu, masalah pengangguran terbuka (TPT) tak luput dari perhatian Fraksi PDI Perjuangan. Menurutnya, sepanjang Agustus 2020 hingga Agustus 2021 TPT di Jawa Timur sangat dinamis dan tidak menunjukkan konsistensi perbaikan yang konstruktif.

“Pada Agustus 2021 TPT mencapai 5,74 persen. Apa saja langkah strategis dalam APBD 2022 ini agar TPT tidak semakin membesar? Mohon penjelasan,” tegasnya.

Yordan menambahkan, Fraksi PDI Perjuangan juga menyoroti poin lainnya seperti, indeks theil terkait ketimpangan pembangunan antar wilayah yang sebenarnya sudah membaik, namun sayang belum diikuti peningkatan pertumbuhan ekonomi karena dampak pandemi Covid-19.

Terakhir yakni kualitas lingkungan hidup yang masih naik turun dari tahun 2014 hingga 2020. Namun, belum pernah sekalipun menyalip capaian 2014 yang sebesar 69,96. Dimana pada tahun lalu, kualitas lingkungan hidup mencapai 67,7. (*/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.