PBNU, Muhammadiyah dan KWI Dukung Pemerintah Tangani Covid-19 

Yovie Wicaksono - 28 July 2021
Tes Usap Covid-19 di Surabaya. Foto : (Super Radio/Fena Olyvira)

SR, Jakarta – Menko Polhukam Mahfud MD kembali mendengar masukan dari pimpinan PP Muhammadiyah, Pimpinan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) dan Pimpinan Konferensi Waligereja Indonesia (KWI). Ia juga mengajak pemuka agama memberikan kesadaran kepada umat bahwa Covid itu ada dan masih panjang, sehingga kerjasama pemerintah dengan ormas keagamaan menjadi penting.

“Saya ingin banyak mendengar dulu bagaimana bapak-bapak mempunyai kesan, apa yang dilakukan pemerintah sudah benar apa tidak, apa kurangnya, apa keluhannya, dimana yang harus diperbaiki, di posisi mana Muhammadiyah itu  bisa membantu bersama kita, yang bisa kita lakukan dari peluang peluang yang tersedia,” kata Mahfud MD, Selasa (27/7/2021).

Terkait hal tersebut, Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir menyampaikan pandangannya tentang penanganan covid oleh pemerintah. Menurutnya, Pemerintah dengan langkah yang sudah diambil harus firm, tidak usah maju mundur. Karena kepastian itu yang diperlukan oleh masyarakat.

“Saya yakin pemerintah tetap dalam kepentingan utama menyelamatkan jiwa rakyat,” katanya.

Ketua KWI Kardinal Suharyo Hardjoatmodjo mengatakan bahwa KWI kagum dengan usaha pemerintah dengan melibatkan TNI, Polri dan elemen masyarakat lain yang secara mati-matian membantu dan melindungi masyarakat agar bisa terselamatkan dari ancaman virus Covid-19.

“KWI sangat menghargai upaya pemerintah melibatkan TNI, Polri yang mati-matian dengan sumber daya yang ada membantu seluruh rakyat dan masyarakat untuk bertahan untuk kembali sehat dan melindungi, sehingga tidak ada korban. Kami sungguh-sungguh sangat kagum dengan segala upaya pemerintah,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Said Aqil Siradj menekankan bahwa kini saatnya seluruh elemen masyarakat bergandengan tangan, baik dari partai pendukung, oposisi, dan masyarakat manapun harus bergandengan tangan.

“Jangan sampai malah ini dibikin kesempatan untuk tujuan target politik. Ini tidak etis, tidak berakhlak, tidak bermoral orang yang melakukan agenda politik di saat gawat seperti ini,” kata Said Aqil. (ns/red) 

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.