Pasar Takjil Ramadan Dinilai Dapat Tingkatkan Perekonomian Masyarakat

Yovie Wicaksono - 27 April 2022

SR, Surabaya – Pada bulan Ramadan tahun ini, sejumlah aktivitas masyarakat dari berbagai sektor tampak membaik. Salah satunya yaitu sektor ekonomi. Hal itu tidak terlepas dari pelonggaran aktivitas masyarakat yang telah diberikan pemerintah dibandingkan tahun-tahun sebelumnya di masa pandemi Covid-19. 

Menyambut positif hal tersebut, kini masyarakat dari berbagai daerah di Indonesia ramai menggelar pasar takjil Ramadan.

Mengenai hal itu, pakar ilmu ekonomi Universitas Airlangga (Unair), Gigih Prihantono mengungkapkan bahwa adanya pasar takjil dinilai dapat meningkatkan perekonomian bagi masyarakat perekonomian kecil. 

“Kalau kita lihat kan ini bukan fenomena sekali dua kali tapi sudah lama. Tentu saja adanya pasar takjil secara kasat mata pasti akan berdampak pada masyarakat perekonomian kecil meskipun juga ada manfaatnya bagi pengusaha-pengusaha besar yang ada di mall atau restoran,” ujarnya. 

Gigih menambahkan, sektor yang sangat berdampak pada peningkatan ekonomi yaitu sektor perdagangan makanan dan minuman.

“Memang di bulan Ramadan tingkat konsumsi masyarakat meningkat ketika menjelang waktu berbuka dan waktu sahur, apalagi sekarang sahur on the road itu tidak diperbolehkan. Jadi kebanyakan mereka akan membeli ketika waktu berbuka dimana disitu banyak pedagang yang menjual makanan ketika mendekati waktu berbuka,” imbuhnya. 

Untuk mendukung peningkatan perekonomian masyarakat, peran pemerintah juga sangat diperlukan. Gigih menyatakan, pemerintah harus dapat menjaga kestabilan harga pangan dengan menjaga kelancaran arus logistik. Sehingga kelangkaan bahan pangan seperti minyak goreng dan gula dapat diatasi. 

“Tentu saja logistik harus benar-benar diperhatikan misalnya pemerintah bersama produsen besar berkomitmen untuk menjaga pasokan bahan pangan di pasar agar tidak langka atau mungkin memperbaiki infrastruktur fisik supaya arus lalu lintas barang menjadi lebih lancar. Jadi banyak alternatifnya,” tuturnya. 

Meski begitu, Gigih menyampaikan, adanya pasar takjil tidak dapat menjadi strategi dalam pemulihan ekonomi nasional. 

“Pasar takjil hanya temporer jadi tidak terlalu, ya mungkin berdampak tapi sifatnya temporer saja bukan sesuatu yang kontinyu untuk pemulihan ekonomi nasional,” jelasnya. 

Gigih juga berpesan agar masyarakat dapat mengikuti pelatihan dan pendampingan untuk meningkatkan kualitas maupun pemasaran produk sehingga perekonomian masyarakat kecil tetap tumbuh meskipun bulan Ramadan telah selesai. (*/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.