Paparan Plastik Sekali Pakai Beri Risiko Serius bagi Pekerja
SR, Surabaya – Penelitian terbaru yang dilakukan Ecoton bersama Wonjin Institute for Occupational Environmental Health (WIOEH) dan Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga mengungkap temuan yang mengejutkan sekaligus mengkhawatirkan.
Sebanyak 23 bahan kimia plastik berbahaya ditemukan dalam darah perempuan pemilah sampah di Gresik. Tak hanya itu, jejak mikroplastik juga terdeteksi dalam darah, ketuban, dan urin ibu hamil, serta dalam darah, feses, bahkan otak manusia di kawasan Jabodetabek.
Fakta ini menunjukkan bahwa paparan plastik sekali pakai dan pembakaran sampah plastik telah menembus batas tubuh manusia, menjadi ancaman nyata bagi kesehatan generasi sekarang dan mendatang.
Dalam penelitian tersebut, senyawa ftalat (DEHP) ditemukan dengan kadar dua kali lebih tinggi pada pekerja dibandingkan kelompok kontrol. Senyawa ini diketahui dapat mengganggu hormon reproduksi, menurunkan kesuburan, dan meningkatkan risiko gangguan perkembangan janin.
Sementara itu, Bisphenol A (BPA) terdeteksi dengan kadar 2,3 kali lebih tinggi dari kontrol, yang berpotensi memicu gangguan hormon, meningkatkan risiko kanker payudara, menyebabkan gangguan metabolisme, serta menimbulkan masalah pada tiroid.
Para peneliti menegaskan bahwa pembakaran sampah plastik menjadi salah satu sumber utama mikroplastik di udara, menyumbang hingga 55 persen partikel yang kemudian terbawa dalam air hujan.
Sebagai bentuk protes atas kondisi ini, Ecoton bersama sejumlah aktivis menggelar aksi teatrikal di depan Graha Grahadi, Surabaya, Kamis (4/12/2025). Lima orang berperan sebagai “manusia primitif” yang membakar sampah plastik, sebuah sindiran keras terhadap kebiasaan masyarakat dan lemahnya sistem pengelolaan sampah.
“Kondisi ini menunjukkan bahwa semua pemilah sampah menghadapi risiko kesehatan berat akibat paparan berulang dari plastik, debu mikroplastik, dan asap pembakaran. Dampaknya bersifat jangka panjang dan mempengaruhi generasi berikutnya,” ujar Andi, salah satu pelaku teatrikal.
Dilla, aktivis lain, menambahkan bahwa perlindungan bisa dimulai dari langkah sederhana: mengurangi plastik sekali pakai, memilah sampah dari rumah, memilih produk yang dapat digunakan ulang, dan menerapkan prinsip zero waste dalam kehidupan sehari-hari.
Direktur Ecoton, Dr Daru Setyorini, menegaskan bahwa temuan ini adalah alarm keras bagi pemerintah. Menurutnya, 60 persen sampah plastik di Indonesia tidak terkelola dengan baik dan berakhir di sungai atau lingkungan terbuka, membuat pekerja lapangan menjadi pihak pertama yang terpapar. (*/js/red)
Tags: darah manusia, mikroplastik, pencemaran, superradio.id
Berita Terkait
Tinggalkan komentar
Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.





