Media Sosial Jadi Sasaran Penyebaran Hoaks, Cek Kebenaran Informasi Sebelum Share

Yovie Wicaksono - 9 March 2024
Ilustrasi Hoax

SR, Surabaya – Media sosial memiliki peranan yang cukup besar di masyarakat pada era sekarang ini, utamanya dalam perkembangan dan penyampaian informasi. Keberadaan media sosial ibarat dua sisi mata uang, selain memberikan dampak positif, media sosial juga dapat memberikan dampak negatif.

Berdasarkan data Masyarakat Telekomunikasi Indonesia, 92,4 persen hoaks disebarkan melalui media sosial, 62,8 persen melalui aplikasi pesan, 34,9 persen melalui situs web, 8,7 persen melalui televisi, dan 9,3 persen melalui kanal lain seperti media cetak, radio, dan surel.

Terkait dengan hal itu, Dosen Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta, Puri Bestari Mardani mengatakan, media sosial paling banyak dijadikan sebagai tempat menyebarkan hoaks karena platform tersebut populer, bersifat terbuka, menghubungkan banyak orang, interaktif, serta memungkinkan menyampaikan informasi secara cepat dan real-time.

Selain itu, setiap pengguna dapat berpartisipasi membuat konten serta turut menyebarkan konten, bisa memiliki lebih dari satu akun, baik itu akun pribadi, akun bisnis, ataupun akun palsu, untuk menutupi identitas asli.

“Saya mengajak warga untuk menyaring dan mengecek kebenaran informasi yang beredar di platform media sosial sebelum membagikannya,” ujarnya, Sabtu (9/3/2024).

Menurut data We Are Social, selama tahun 2024 ada 5,35 miliar pengguna internet dan 4,95 miliar pengguna media sosial di seluruh dunia. Data We Are Social pada Januari 2024 menunjukkan bahwa di Indonesia terdapat 185,3 juta pengguna internet dan 139 juta pengguna media sosial.

“Orang Indonesia sendiri mampu menghabiskan waktu selama 19,7 persen per hari di media sosial. Persentase ini merupakan urutan ketujuh di dunia,” kata Puri.

Sekadar informasi, data Kementerian Komunikasi dan Informasi menyebut selama Tahun 2023, mereka telah menangani sebanyak 1.615 konten isu hoaks yang beredar di website dan platform digital. Total sejak bulan Agustus 2018, sudah 12.547 konten isu hoaks yang telah ditangani Kementerian Kominfo.

Jumlah isu hoaks yang ditangani Tim AIS Ditjen Aplikasi Informatika Kementerian Kominfo pada Tahun 2023 lebih banyak dibandingkan tahun 2022 yang ditemukenali sebanyak 1.528 isu hoaks.

Berdasarkan kategori, hingga Desember 2023, isu hoaks paling banyak berkaitan dengan sektor kesehatan. Tim AIS Kementerian Kominfo menemukan sebanyak 2.357 isu hoaks dalam kategori kesehatan. Isu yang berkaitan dengan penyebaran Covid-19 masih mendominasi dalam kategori ini. Selain itu ada banyak informasi yang menyesatkan berkaitan dengan obat-obatan dan produk kesehatan.

Isu hoaks yang berkaitan dengan kebijakan pemerintah dan penipuan juga tercatat paling banyak ditemukan pada urutan kedua. Secara kumulatif, sejak Agustus 2018, Tim AIS Kementerian Kominfo menemukenali masing-masing 2.210 isu hoaks dalam kategori pemerintahan dan penipuan.

Isu hoaks paling banyak merujuk pada akun palsu pejabat pemerintah pusat dan daerah dan lembaga. Selain itu ada beberapa informasi menyesatkan mengenai kebijakan pemerintah terkini. Ada pula isu hoaks penipuan seperti informasi palsu dan menyesatkan mengenai rekrutmen lembaga swasta dan pemerintah, tatan pishing, penipuan dengan nomor ponsel atau akun media sosial, hingga pembagian bantuan sosial yang disertai permintaan data pribadi atau uang sejumlah tertentu.

Sementara itu pada urutan ketiga tertinggi temuan isu hoaks, ada kategori politik. Tim AIS Kementerian Kominfo mengidentifikasi sebanyak 1.628 isu hoaks sejak Agustus 2018. Konten ini didominasi informasi yang berkaitan dengan partai politik, kandidat dan juga proses pemilihan umum. (*/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.