Mengenal Penyebar Agama Islam di Kediri

Yovie Wicaksono - 14 May 2019
Makam Syekh Wasil Syamsudin, di lokasi wisata religi di Jalan Dhoho, Setono Gedong, Kota Kediri. Foto : (Super Radio/Rahman Halim)

SR, Kediri – Lantunan doa dan ayat suci Alquran terdengar di area makam tokoh penyebar agama Islam di Kediri, yakni Syekh Wasil Syamsudin, di lokasi wisata religi di Jalan Dhoho, Setono Gedong, Kota Kediri, pada Selasa (14/5/2019).

Menjelang bulan Ramadan hingga Idul Fitri,  wisata Religi Makam Setono Gedong selalu banyak dikunjungi wisatawan atau pun peziarah.

Para pengunjung yang datang tidak hanya dari masyarakat Kediri, melainkan dari berbagai daerah di Indonesia bahkan luar negeri, seperti Brunei Darussalam dan Malaysia.

Pada umumnya  mereka yang datang dari luar daerah adalah rombongan ziarah wali.

Tak heran jika makam Setono Gedong menjadi salah satu andalan wisata religi oleh  pemerintah daerah setempat.

Petugas Balai Pelestarian Cagar Budaya Trowulan Mojokerto, Muhammad Yusuf Wibisono mengatakan, jumlah pengunjung yang datang pada saat puasa Ramadan di mencapai puluhan  ribuan orang. Apalagi jika sore hari mendekati waktu berbuka puasa, pengunjung semakin berdatangan.

Tidak hanya itu, pada saat momentum Idul Fitri  pun masih banyak peziarah yang datang terutama mereka yang masih ada silsila atau  kerabat dengan para tokoh.

Jumlah pengunjung bisa mencapai 30 ribu orang, pada saat momentum hitungan hari ganjil di bulan puasa atau malam Lailatul Qadar.

“Menjelang Idul Fitri, atau malam ganjil 25, 27, 29 pengunjung yang datang bisa mencapai 30 ribu orang, selain warga lokal Kediri yang datang juga banyak dari luar daerah di Indonesia,” ujarnya.

Setono Gedong pun ditetapkan sebagai lokasi cagar budaya oleh BPCB Trowulan Mojokerto Jawa Timur.

Selain makam Syekh Wasil Syamsudin, di wisata religi Setono Gedong juga terdapat tokoh besar lainya seperti makam Wali Akba, Pangeran Sumende, Sunan Bagus, Sunan Bakul Kabul, Kembang Sosronegoro, Mbah Fatimah dan Amangkurat.

Kisah Setono Gedong

Sebelum masa perkembangan Islam di Kediri Setono Gedong merupakan tempat sesembahan bagi kaum kepercayaan tertentu. Ini dibuktikan dengan keberadaan situs-situs arca yang terdapat di sekitar setono gedong.

Syekh Wasil Syamsudin masuk ke Kediri pada masa pemerintahan Kerajaan Sri Aji Joyoboyo  pada diperkirakan abad ke 10 atau 11.

Ada yang mengatakan Syekh Wasil Syamsudin adalah guru spiritual Sri Aji Joyoboyo. Bahkan karena kedekatanya, membuahkan sebuah jongko atau kitab Pusaran Jongko Joyoboyo

Syekh Wasil Syamsudin dikenal oleh masyarakat berasal dari Istambul Turki. Masyarakat kemudian memberinya gelar Pangeran Mekkah. Namun kebanyakan masyarakat menyebutnya dengan nama Mbah Wasil.

“Dipanggil Mbah Wasil karena beliau, sering memberikan wasil, atau ahli bertutur sapa, berpetuah yang baik,” ujar Yusuf.

Ketika masuk di Kediri yang pada waktu itu mayoritas penduduknya beragama non Islam, Syekh Wasil Syamsudin tidak serta merta langsung syiar menyebarkan agama islam,  melainkan terlebih dahulu melakukan pendekatan ke masyarakat.

Setelah dilakukan pendekatan lambat laun masyarakat akhirnya mau menerima ajaran islam pada masa itu.

Setelah perkembangan Islam di Kediri daerah Setono Gedong menjadi tempat penyebaran agama Islam dengan ditandai dibangunya Masjid Setono Gedong serta adanya makam tokoh penyebar agama islam di Kediri yaitu Syekh Wasil Syamsudin antara tahun 920 – 929 Hijriyah atau tahun 1514 – 1523 Masehi.

Setono Gedong diambil dari kata Setono yang berarti makam sedangkan Gedong adalah sesuatu yang besar, atau makam pembesar (tokoh). (rh/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.