Membedah Filosofi Spiritualitas Thudong dan Tradisi Pindapata
SR, Surabaya – Perjalanan spiritual Indonesia Walk For Peace (IWFP) 2026 yang menempuh jarak ratusan kilometer dari Bali menuju Borobudur bukanlah sekadar aksi jalan kaki biasa, melainkan sebuah laku Thudong yang sarat akan makna pendalaman batin.
Bagi para Bhikkhu, setiap langkah adalah bentuk meditasi berjalan untuk melatih kesabaran dan pengendalian diri di tengah dunia yang bising. Bhante Dhammasubho Mahathera menjelaskan bahwa misi ini memiliki dimensi yang sangat mendalam bagi setiap individu yang menjalaninya,
“Tudhong itu artinya jalan kaki… Misinya adalah secara personal, internal, secara moral, secara sosial dan secara spiritual,”ungkapnya.
Dalam aspek personal, Thudong adalah cara para Bhikkhu menguatkan keyakinan diri melalui panggilan jiwa tanpa bergantung pada materi. Mereka melatih kesadaran penuh melalui meditasi berjalan, di mana setiap gerakan kaki dirasakan secara mendalam untuk mencapai kebeningan pikiran.
Bhante Dhammasubho menegaskan bahwa latihan ini adalah bentuk pengabdian yang tulus, “Kalau enggak yakin siapa mau toh… karena keyakinan panggilan jiwa secara personal,” tuturnya menggambarkan beratnya latihan fisik yang harus selaras dengan keteguhan batin.

Kedisiplinan para Bhikkhu juga diuji melalui praktik Atasila, yaitu aturan ketat mengenai waktu makan yang bertujuan untuk melatih kekuatan spirit. Mereka hanya diperbolehkan mengonsumsi makanan padat satu kali dalam sehari sebelum tengah hari. Bhante Dhammasubho merinci aturan tersebut dengan sangat jelas.
“Atasila yang dibatasi waktu jam makan dengan 24 jam makan padat hanya jam dari jam 6.00 pagi sampai jam 12.00 siang tempat sehingga kalau dalam 1 hari itu sampai dengan jam 12. belum mendapat makan ya menunggu sampai esok hari,” jelasnya.
Selain disiplin makan, para Bhikkhu menjalani tradisi Pindapata, sebuah praktik menerima persembahan makanan dari masyarakat yang dilakukan dengan keheningan total atau Tapa Maula. Dalam proses ini, tidak ada kata-kata yang terucap, melainkan hanya interaksi tulus antara pemberi dan penerima.
“Ketika melakukan ini namanya tapa maula itu kondisi jadi tidak pakai omong-omong… hanya melakukan pemberian dan penerimaan tanpa kontak,” ujar Bhante Dhammasubho menekankan bahwa praktik ini bukanlah meminta-minta, melainkan memfasilitasi umat untuk berbuat kebajikan.
Praktik Pindapata juga memiliki filosofi untuk menghancurkan kesombongan dan menurunkan ego pribadi setiap rohaniwan. Di jalanan, tidak ada perbedaan antara Bhikkhu senior maupun junior; semuanya berdiri di atas strata yang sama saat membawa mangkuk persembahan.

Bhante Dhammasubho menjelaskan bahwa tradisi ini sangat efektif untuk “menurunkan egositas dan dia begitu muda begitu tua… ketika pindah rata stratanya sama statusnya sama caranya sama rasanya juga sama,”ungkapnya mengenai kesetaraan dalam pengabdian.
Secara moral, perjalanan ini disebut sebagai latihan “Pagar Hati”, di mana seorang Bhikkhu belajar untuk takut melakukan kesalahan terhadap dirinya sendiri maupun lingkungan. Mereka tidak berjalan untuk mencari perhatian, melainkan untuk menjaga perilaku agar tetap sopan dan santun secara sosial.
“Pagar hati yang membuat seseorang takut dengan dirinya sendiri… bukan karena memang dia tidak mau karena malu dan takut akan kalau dia melakukan kejahatan,”tegas Bhante Dhammasubho mengenai pentingnya pengendalian diri internal.
Pada akhirnya, seluruh rangkaian Thudong dan Pindapata bermuara pada satu tujuan besar, yaitu mencapai damai dengan diri sendiri agar bisa menebarkan damai kepada dunia Selama seseorang masih diperbudak oleh keinginan fisik dan nafsu, kedamaian akan sulit diraih Bhante Dhammasubho memberikan pesan penutup yang sangat mendalam.
“Bagi orang-orang yang masih sibuk dengan urusan mulut, urusan perut, sangat sulit bisa damai. Bahkan damai dengan diri sendiri apalagi damai dengan orang,” pungkasnya, mengingatkan bahwa kedamaian sejati dimulai dari kesederhanaan batin. (js/red)
Tags: bhikkhu, superradio.id, surabaya, thudong, Waisak
Berita Terkait
Tinggalkan komentar
Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.




