Thudong Jalan Spiritual Bukan Jalan Hura-Hura, Butuh Perencanaan Matang

Rudy Hartono - 16 May 2026
Sebanyak 57 bhikkhu melangsungkan tradisi Thudong, sebuah perjalanan panjang yang dilakukan demi pesan persaudaraan di jalan protocol Kota Surabaya, Jumat (15/5/2026). (foto : vico wildan/superradio.id)

SR, Surabaya – Kota Surabaya menjadi saksi bisu perjalanan suci 57 Bhikkhu lintas negara dalam rangkaian Indonesia Walk For Peace (IWFP) 2026. Mengingat besarnya animo masyarakat dan padatnya arus lalu lintas di kota pahlawan, manajemen logistik serta ketertiban menjadi kunci utama agar misi perdamaian ini tetap berjalan kondusif. Penyelenggara memastikan bahwa setiap langkah para Bhikkhu di jalanan protokol tetap menjaga kenyamanan publik sebagai prioritas utama.

Budi, perwakilan dari Persatuan Umat Buddha Indonesia (Permabudi) sekaligus panitia lokal PermaBhumi Surabaya, menegaskan bahwa koordinasi ketat dilakukan agar rombongan tidak memicu kemacetan. Ia menekankan bahwa perjalanan ini memiliki marwah yang berbeda dengan pawai pada umumnya.

“Kami juga sebagai umat saling menjaga jangan sampai bikin jalan macet karena ini jalan spiritual bukan jalan hura-hura,” tegas Pak Budi saat menjelaskan persiapan pengawalan di lapangan.

Rute perjalanan di dalam kota telah disusun secara mendalam, dimulai dari keberangkatan melalui pintu barat Balai Kota menuju Jalan Jaksa Agung Suprapto, lalu melintasi Ketabang Kali dan Simpang Dukuh menuju Gedung Negara Grahadi.

Budi, perwakilan dari Persatuan Umat Buddha Indonesia (Permabudi) sekaligus panitia lokal PermaBhumi Surabaya. (foto : vico wildan/superradio.id)

Setelah dari Grahadi, rombongan melanjutkan perjalanan melalui Jalan Panglima Sudirman, Urip Sumoharjo, hingga berhenti sejenak di Keuskupan Surabaya yang terletak di Jalan Polisi Istimewa. Jalur ini kemudian diteruskan ke Jalan Dr. Soetomo, Indragiri, hingga berakhir di titik peristirahatan Putat Gede.

Manajemen waktu juga menjadi perhatian penting dalam aspek logistik ini. Pak Budi menjelaskan bahwa setiap pergerakan dilakukan dengan perhitungan matang, termasuk jeda istirahat selama 30 menit di titik-titik krusial untuk menjaga stamina para Bhikkhu tanpa mengganggu ritme lalu lintas kota.

Kehati-hatian dalam mengatur rute ini mencerminkan komitmen panitia untuk menghormati aktivitas warga Surabaya yang tetap berjalan normal di tengah kegiatan Thudong ini.

Di sisi lain, Pemerintah Kota Surabaya memberikan apresiasi tinggi terhadap kedisiplinan yang ditunjukkan oleh rombongan Bhikkhu selama melintas. Staf Ahli Wali Kota Bidang Hukum, Politik, dan Pemerintahan, Dedik Irianto, yang mewakili Wali Kota Eri Cahyadi, menyatakan bahwa ketangguhan para Bhikkhu menjadi teladan bagi warga kota.

“Merupakan sebuah kehormatan besar bagi Kota Surabaya terpilih menjadi titik singgah penting dalam perjalanan suci Indonesia Walk for Peace 2026,” ujarnya di depan Balai Kota.

Gubernur Jawa Timur (Jatim), Khofifah Indar Parawansa, menyambut 57 Bhikkhu Thudong di Gedung Negara Grahadi Surabaya pada Jumat (15/5/2026). (foto : istimewa)

Pernyataan senada juga disampaikan oleh Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, saat menyambut para Bhikkhu di Gedung Negara Grahadi. Bagi Khofifah, kelancaran logistik dan penerimaan yang hangat dari warga Surabaya adalah cerminan dari semangat harmoni di Jawa Timur. “Selamat datang di Jawa Timur, Bumi Majapahit, bumi yang mengenalkan Bhinneka Tunggal Ika, bahwa kita berbeda-beda tetapi kita satu dalam mewujudkan harmoni antar manusia,” sambutnya dengan penuh kehangatan.

Khofifah juga mengingatkan bahwa ketertiban dalam perjalanan ini membawa pesan universal tentang kedamaian yang melampaui sekat-sekat agama. Menurutnya, misi spiritual ini harus didukung dengan suasana yang sejuk dan damai agar pesannya tersampaikan ke dunia internasional.

“Pesan ini adalah pesan universal bahwa perdamaian itu sesuatu yang dibutuhkan oleh kehidupan umat manusia dari suku apapun, agama apapun,” tambahnya.

Kerjasama antara panitia, pemerintah daerah, dan masyarakat Surabaya menunjukkan bahwa ketertiban bukan hanya soal aturan lalu lintas, melainkan bentuk penghormatan tertinggi terhadap nilai-nilai kemanusiaan dan perdamaian. (js/red)

 

Tags: , , ,

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.