Dua Jalan Sunyi dalam Satu Harmoni: Saat Jubah Jingga Memasuki Katedral Surabaya
SR Surabaya – Langkah-langkah tenang 57 Bhikkhu lintas negara dalam rangkaian Indonesia Walk For Peace (IWFP) 2026 menciptakan pemandangan nan menyejukkan batin saat jubah jingga mereka bersanding dengan arsitektur megah Gereja Katolik Katedral Hati Kudus Yesus, Surabaya, Jumat (15/5/2026).
Kunjungan ini bukan sekadar seremoni formal, melainkan sebuah pertemuan “hati ke hati” yang membuktikan bahwa jalan menuju spiritualitas sering kali melewati setapak yang sama: kesunyian dan kesederhanaan. Dalam diskusi yang mendalam, terungkap bahwa meski berasal dari tradisi yang berbeda, para pencari kedamaian ini sejatinya sedang menempuh perjalanan batin yang identik untuk mengikis ego manusia.
Monsinyur Agustinus Tri Utomo mengungkapkan kekagumannya terhadap kemiripan esensial antara laku spiritual Thudong dengan prinsip hidup para biarawan-biarawati Katolik. Beliau menekankan adanya kemiripan jalan yang ditempuh melalui janji-janji suci dalam tradisi Katolik.
“Hal yang persis sama di dalam para biarawan-biarawati Katolik itu juga dalam mengikuti Yesus sebagai pengikut Yesus itu ada Tri Prasetia. Yang pertama adalah taat, yang kedua adalah tirakat atau hidup miskin dan sederhana, yang ketiga selibat (sama),”ujar Monsinyur dengan penuh rasa hormat.
Menanggapi hal tersebut, Bhante Dhammasubho Mahathera memaparkan bahwa disiplin ketat para Bhikkhu yang tertuang dalam 227 aturan atau Patimokkha sejatinya bermuara pada nilai-nilai yang serupa. Beliau menjelaskan bahwa ratusan aturan tersebut diringkas menjadi tiga pilar utama yang menjaga kesucian seorang rohaniwan.
“Tapi 227 itu diringkas tiga hal. Satu namanya taat, yang kedua kuat tirakat, yang ketiga selibat. Nah, itu yang sama nasibnya dengan Monsinyur. Sama-sama jomblo. Karena apa? Selibat artinya tidak menikah,” seloroh Bhante yang disambut dengan suasana keakraban lintas iman.
Diskusi tersebut membawa pesan mendalam mengenai pengendalian diri di tengah dunia yang kian materialistik dan manja. Monsinyur Agustinus merefleksikan bagaimana manusia modern sering kali kehilangan kedamaian hanya karena persoalan sepele, sangat kontras dengan laku tirakat para Bhikkhu yang hanya makan satu kali sehari.
“Kita ini sedang lupa dan sudah terlalu manja di dalam hidup sehingga juga makan sedikit enggak asin atau kurang asin sudah marah,” ungkap Monsinyur mengingatkan pentingnya kembali pada kesederhanaan batin.

Bhante Dhammasubho kemudian menjelaskan bahwa esensi dari perjalanan jalan kaki ribuan kilometer ini adalah bentuk latihan mental yang sangat personal. Beliau menegaskan bahwa tanpa keyakinan yang kuat, seseorang tidak akan mampu menjalani laku prihatin yang begitu berat.
Aspek meditasi dalam berjalan juga menjadi poin krusial, di mana setiap langkah merupakan upaya untuk menyadari eksistensi diri dan keterhubungan dengan alam semesta. Monsinyur melihat hal ini sejalan dengan tradisi ziarah dalam Gereja Katolik yang bertujuan untuk menumbuhkan harapan.
“Tujuannya adalah ziarah pengharapan. Bagaimana orang selalu berpengharapan, tidak berputus asa di dalam kehidupan,” tutur Monsinyur. Pertemuan ini seolah menjadi oase spiritual bagi warga Surabaya, menunjukkan bahwa kebeningan batin dapat dicapai melalui latihan kesadaran yang terus-menerus.
Kunjungan bersejarah di Katedral Surabaya ini akhirnya menjadi simbol kuat bahwa perbedaan keyakinan tidak seharusnya menjadi pembatas bagi persaudaraan universal. Bhante Dhammasubho memberikan pesan penutup yang sangat mendalam mengenai makna damai yang sejati.
“Bagi orang-orang yang masih sibuk dengan urusan mulut, urusan perut… sangat sulit bisa damai. Bahkan damai dengan diri sendiri apalagi damai dengan orang,” pungkasnya.
Melalui “jalan sunyi” yang mereka tempuh bersama, para tokoh agama ini menunjukkan bahwa harmoni sejati dimulai dari kerendahan hati untuk saling menghargai jalan pengabdian masing-masing.(js/red)
Tags: bhikkhu, gereja katedral, superradio.id, surabaya, tradisi thudong, Waisak
Berita Terkait
Tinggalkan komentar
Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.




