Kisah Bhikkhu Ranpai Menaklukkan Diri Demi Kedamaian
SR, Surabaya – Perjalanan 57 Bhikkhu lintas negara bertajuk “Indonesia Walk for Peace (IWFP) 2026” menempuh jarak total 666 kilometer dari Bali menuju Candi Borobudur. Perjalanan suci ini dikenal dengan tradisi Thudong. Ritual ini menguji batas ketahanan fisik dan mental sebagai bentuk latihan kesabaran, disiplin, dan meditasi berjalan.
Di antara barisan para petapa tersebut, terdapat Bhikkhu Ranpai Unsyuk, pria berusia 56 tahun asal Thailand. Bhikkhu ini merasakan langsung kerasnya medan perjalanan di Indonesia. Baginya, berjalan kaki ribuan kilometer di bawah terik matahari khatulistiwa merupakan pertarungan besar antara kekuatan fisik dan keteguhan pikiran.
Di usianya yang sudah berkepala lima, tantangan ini menuntut stamina yang prima untuk tetap menjaga ritme bersama rombongan besar. Kerasnya jalanan aspal yang panas sering kali membuat kulit para Bhikkhu terbakar dan telapak kaki mereka melepuh.
Cuaca ekstrem di Indonesia yang dapat berubah seketika dari panas menyengat menjadi hujan deras menjadi ujian harian bagi ketahanan tubuh mereka. Selain luka fisik, rasa kaku pada sendi-sendi tubuh menjadi beban tambahan yang harus dipikul di setiap langkah menuju pemberhentian selanjutnya.
Namun, dalam tradisi Thudong yang mereka jalani, rasa sakit fisik yang mendera tidak dianggap sebagai musuh, melainkan hanya sebagai “tamu” yang datang dan pergi.
Bhikkhu Ranpai menjelaskan bahwa mereka belajar untuk tidak menolak rasa sakit tersebut, namun juga tidak membiarkannya menghentikan langkah kaki mereka. Keteguhan mental inilah yang membuat mereka mampu terus melangkah meski raga memberikan sinyal kelelahan yang luar biasa.
Kelelahan fisik dan beban pikiran saat menghadapi kebisingan serta kepadatan lalu lintas saat memasuki Kota Surabaya seketika sirna oleh sebuah keajaiban kemanusiaan: senyuman warga.
Bhikkhu Ranpai mengaku sempat merasa sangat lelah saat berada di perbatasan kota, namun perasaan itu langsung berganti menjadi rasa syukur yang mendalam. Sambutan manusiawi dari warga kota memberikan suntikan energi spiritual yang tak ternilai bagi para Bhikkhu.
Di sepanjang jalan protokol Surabaya, warga dari berbagai latar belakang agama berdiri dengan antusias memberikan bantuan berupa air mineral, buah-buahan, hingga handuk kecil.
Kebaikan tulus ini dilakukan tanpa memandang perbedaan keyakinan, membuktikan bahwa kasih sayang sejati memang tidak memiliki batasan.
Bagi Bhikkhu Ranpai, perhatian dari warga ini seolah menghapus rasa perih di telapak kakinya dan menggantinya dengan rasa lega yang luar biasa.
Pada akhirnya, perjalanan penuh peluh ini membawa pesan bahwa keberagaman adalah sebuah keindahan, layaknya taman bunga yang berbeda warna namun elok dipandang bersama . Senyuman warga Surabaya menjadi bukti nyata bahwa harmoni antarmanusia adalah kekuatan utama dalam mewujudkan kedamaian global. (js/red)
Tags: bhikkhu lintas negara, langkah damai, superradio.id, surabaya
Berita Terkait
Tinggalkan komentar
Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.





