Masa Pandemi, Rokok Lintingan Jadi Primadona

Yovie Wicaksono - 11 October 2020
pemilik Istana Tembakau, Agusta Danang. Foto : (Super Radio/Rahman Halim)

SR, Kediri – Masa pandemi, perlahan mengubah gaya hidup masyarakat. Tentunya hal ini tidak lepas dari situasi kondisi ekonomi yang terjadi sekarang.

Perubahan gaya hidup tersebut dapat dilihat dari cara konsumsi masyarakat yang sebelumnya menghisap  rokok konvensional dan rokok elektrik (Vape), kini bergeser ke rokok linting tembakau.

“Latar belakang sebelumnya anak muda memakai rokok konvensional dan dari Vape ke tembakau iris (TIS) karena  berhemat di tengah pandemi. Itulah yang memicu saya, menjual tembakau tradisional atau tembakau linting dewe,” ujar pemilik Istana Tembakau, Agusta Danang.

Lantaran permintaan tembakau cukup tinggi, sejak tiga bulan terakhir ini mendadak bermunculan keberadaan para pedagang tembakau di Kota Kediri. Karena memiliki kesamaan visi, dan selera cita rasa yang sama, mereka kemudian membentuk komunitas pecinta tingwe (linting dewe) dengan nama Lintingers Kediri yang beranggotakan 50 orang.

Agusta Danang mengaku saat ini dirinya memiliki 40 varian tembakau Nusantara yang dijual eceran dengan harga bervariasi mulai dari termurah Rp 100-150 ribu per kilogram hingga termahal Rp 500.000 sampai dengan Rp 1.500.000 per kilogram. Selain menjual harga per kilogram, dirinya juga melayani pembelian eceran per ons.

Sebanyak 40 varian tembakau Nusantara yang tersedia di kiosnya saat ini berasal dari berbagai daerah diantaranya  ada tembakau tambeng dari Bondowoso, tembakau Paiton, tembakau pode asal Madura, serta tembakau lamsi dari Temanggung.

“Yang disini ada sekitar 40 varian tembakau Nusantara, belum termasuk tembakau olahan. Untuk saat ini yang pernah saya rasakan tembakau yang terbaik adalah tembakau tambeng dari Bondowoso. Memang harganya sedikit mahal,” ujarnya.

Tembakau tambeng memang sejak dari dulu dikenal dengan rasanya yang khas. Tembakau tersebut diperolehnya dari petani di Desa Tambeng dari pegunungan tambeng di daerah Besuki Sitobundo. Jika diklasifikasi, tembakau tambeng masuk dalam kategori  Great A. Tembakau Tambeng memiliki penggemar khusus. Sementara untuk tembakau dengan harga terjangkau, jenisnya tembakau Paiton.

“Tembakau itu mahal karena perawatan, kalau yang dirawat secara sederhana ya harganya murah,” ujarnya.

Sebelum memiliki usaha kios kopi dan tembakau, Agusta Danang memasarkan dagangan tembakaunya melalui relasi para temanya.

“Memanfaatkan situasi pandemi, kita buka kios memang penggemarnya saat ini banyak, ” ujarnya.

Tidak hanya melayani pembelian tembakau, para pengunjung yang datang ke Istana Tembakau bisa belajar cara melinting rokok tembakau. Proses melinting, tidak membutuhkan waktu lama, cukup 10 menit. Apalagi saat ini alat khusus melinting rokok tembakau sudah ada.

“Kita ajari cara melinting, seperti bagaimana caranya yang benar,” katanya.

Ia mengatakan, kebanyakan kategori usia  penikmat tembakau ini antara 20 – 50 tahun.

Dari hasil usaha menjual tembakaunya itu, omzet yang diperoleh setiap hari antara Rp 500 ribu hingga satu juta rupiah. Ia mengaku, memperoleh keuntungan tidak terlalu banyak per item hanya Rp 1.000 – Rp 2.000. (rh/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.