Marak Penyalahgunaan Identitas, Peneliti Hukum Siber: Momentum Evaluasi PSE

Yovie Wicaksono - 12 December 2022

SR, Surabaya – Maraknya cuitan mengenai penyalahgunaan identitas di media sosial makin meresahkan masyarakat. Pasalnya, beberapa di antaranya mengaku identitasnya dipakai menggunakan aplikasi pinjaman uang tanpa persetujuan dan tanpa sepengetahuan selaku pemilik/subjek data.

Selain merugikan subjek data, fenomena ini menjadi menarik karena kebocoran data secara digital menjadi salah satu bentuk dari kejahatan siber.

Peneliti hukum siber Universitas Airlangga (Unair) Masitoh Indriani mengungkapkan, saat ini menjadi momentum tepat untuk mengevaluasi Penyelenggara Sistem Elektronik (PSE) yang diantaranya adalah pinjaman online, terkait kepatuhan akan keamanan data.

“Ini adalah momentum untuk mengevaluasi para PSE yang melakukan pemrosesan data pribadi. Kepatuhan akan Undang-Undang Perlindungan Data Pribadi (UU PDP) merupakan syarat mutlak bagi PSE Dalam melaksanakan pelayanannya terhadap masyarakat,” sebutnya.

Indri mengatakan, pada konsepnya, data pribadi dibagi menjadi dua kategori yakni data pribadi umum yang meliputi nama lengkap, jenis kelamin, kewarganegaraan, agama, status perkawinan dan data pribadi yang dikombinasikan untuk mengidentifikasi seseorang; serta data pribadi spesifik yang berupa data informasi kesehatan, data biometrik, data genetika, catatan kejahatan, data anak, data keuangan pribadi dan data lainnya sesuai dengan UU PDP Pasal 4.

Kedua kategori data pribadi ini boleh diketahui oleh pihak lain termasuk aplikasi, dengan syarat adanya consent atau persetujuan dari subjek data.

Consent inilah yang harus diperhatikan oleh para pihak ketiga yaitu secara lebih umum PSE. Apakah mereka telah mengimplementasikan dan menjalankan prinsip-prinsip PDP dalam menjalankan usahanya?,” sebut dosen asal Fakultas Hukum (FH) Unair.

Indri menambahkan, jika ditemukan ketidakpatuhan akan UU tersebut, penegakan hukum harus benar-benar dijalankan oleh aparat agar memberikan efek jera.

“Sehingga kepentingan masyarakat pada akhirnya akan selalu dapat terjaga,” ucap peneliti yang tergabung dalam Pusat Studi Hak Asasi Manusia (HAM) FH Unair ini. (*/red)

Tags:

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.