Makam Ratu Majapahit di Trowulan, Ada Cerita Apa?

Yovie Wicaksono - 12 May 2021
Makam Ratu Ayu Kencono Wungu di Mojokerto, Jawa Timur. Foto : (Super Radio/Fena Olyvira)

SR, Mojokerto – Sebagai kawasan yang diyakini pusat pemerintahan kerajaan Majapahit, di Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto terdapat beragam peninggalan bersejarah. Mulai dari situs, candi, petilasan hingga makam leluhur.

Salah satunya adalah makam Ratu Ayu Kencono Wungu yang terletak sekira 350 meter dari kompleks makam Troloyo, Mojokerto, Jawa Timur.

Sama dengan sebutannya, berada di tengah area makam umum, bangunan Makam Ratu Ayu Kencono Wungu dicat berwarna ungu. Di dalamnya ada dua makam yang berdampingan yakni Makam Gusti Ratu Ayu Kencono Wungu dan Makam Raden Ayu Anjasmoro.

“Gusti Ayu Ratu Kencana Wungu Prabu Sri Suhita adalah ratu Majapahit ke-VI,” ujar juru kunci makam, Sanusi (63).

Melansir disparpora.mojokertokab.go.id, dalam masa pemerintahan Gusti Ayu Ratu Kencana Wungu terjadi pembangkangan oleh Joko Umbaran dari Blambangan yang bergelar Minak Jinggo, Ratu Kencana Wungu kemudian mengutus Darmawulan untuk membunuh Minak Jinggo dan akhirnya berhasil mempersembahkan kepala Minak Jinggo kepada Ratu Kencana Wungu.

Kemudian, Ratu Kencana Wungu menjadi Permaisuri dari Damarwulan. Sedangkan, Raden Ayu Anjasmoro merupakan anak dari Patih Majapahit yang juga merupakan Selir dari Damarwulan.

Sanusi mengatakan, situs ini telah dipugar sebanyak 6 kali. Bagi masyarakat sekitar, makam Ratu Kencana Wungu dianggap sebagai pepunden.

Adapun peziarah paling banyak datang pada hari malam Jumat Legi maupun Kliwon pada kalender Jawa. Selain dari Mojokerto, pengunjung juga rerata berasal dari Surabaya, Malang, bahkan ada yang dari Medan.

“Presiden juga banyak yang datang, mulai Pak Karno, Pak Harto, Gus Dur, Megawati, hingga SBY,” ujar Sanusi.

Tak jauh dari Makam Ratu Ayu Kencono Wungu, juga terdapat Makam Tujuh yang merupakan makam dari para ajudan atau pembantu Kencono Wungu, yakni Pangeran Noto Suryo, Patih Noto Kusumo, Gajah Permodo, Naya Genggong, Sabda Palon, Emban Kinasih, dan Polo Putro. (fos/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.