Begini Konsep Risma Kembangkan Seni Budaya Jawa Timur
SR, Surabaya – Rangkaian visit media Bakal Calon Gubernur Jawa Timur, Tri Rismaharini sempat mampir ke studio Super Radio, Kamis (19/9/2024). Risma, sapaan akrabnya, menerima ajakan talk show di acara “Ngasah” (ngobrol sejarah) bertemakan “Seni Budaya Lokal di era Modernisasi sebuah Warisan ataukah Beban Pelestarian”.
Risma meyakini bahwa seni budaya lokal merupakan warisan kekayaan yang dapat meningkatkan keragaman seni budaya itu sendiri dan juga menaikkan kesejahteraan para pelaku seni budaya secara khusus dan juga kesejahteraan bangsa secara umum.
“Jawa Timur ini kaya sekali budaya yang dimiliki. Budaya itu ada dua, budaya berupa benda dan budaya bukan benda. Budaya benda seperti peninggalan sejarah candi, situs dan sebangsanya. Budaya bukan benda seperti aneka kesenian seperti seni tari, seni lukis dan sebagainya dan juga makanan itu bagian budaya bukan benda,” kata Risma.
Ia mengakui bahwa kekayaan seni budaya yang ada di Jatim saat ini dihadapkan dengan tantangan yang berat. Karena saat ini budaya dari luar menerobos masuk dengan derasnya membawa jargon modernisasi, globalisasi, kekinian, dan lain-lain.
Kondisi ini menjadikan pelaku seni budaya lokal merasa terpinggirkan, ditinggalkan oleh penonton/penikmatnya. Celakanya mereka para pelaku seni budaya merasa berjuang sendiri melawan budaya luar yang mempertontonkan kemewahan, keglamoran, dan kemakmuran.
“Perasaan minder atau kecil hati itu tidak betul dan harus dihilangkan dalam pikiran kita. Sebab saya sudah keliling ke banyak negara. Mereka sangat mengapresiasi bahkan mencari seni budaya asli karena sangat tertarik untuk menikmati bahkan mempelajarinya,” kata mantan Menteri Sosial RI itu.
Dikatakan Risma, dalam berbagai lawatan ke luar negeri ataupun saat menjamu tamu asing, ia selalu menampilkan seni tradisional seperti reog atau tari remo. Kabar baiknya, para tamu asing selalu melempar pujian dan kekaguman dengan atraksi seni budaya yang disuguhkan.
“Belum lagi melihat obyek seni budaya Indonesia yang eksotik. Dan Jawa Timur tak kalah beragam dalam hal keanekagaraman kesenian, tradisi budaya, bahkan situs peninggalan kerajaan-kerajaan besar zaman Majapahit dan Singasari yang begitu tersohor di dunia,” tegas Risma.
Dengan modal kekayaan seni budaya yang dimiliki Jawa Timur, Risma optimistis provinsi dengan penduduk hampir 42 juta jiwa itu bisa menjadi provinsi yang unggul dalam perkembangan budaya dan juga kepariwisataan. Risma memimpikan di masa mendatang seni budaya Jawa Timur bakal menjadi barometer pertumbuhan seni budaya nasional.
“Untuk memajukan seni budaya Jawa Timur, tidak bisa dilakukan sendiri oleh pelaku pelaku seni budaya. Diperlukan banyak pihak, berbagai kalangan, berbagai profesi, dan juga keterlibatan pemerintah daerah dan pusat. Bahasa kerennya diperlukan intervensi pemerintah,” sambung Risma.
Dijelaskan bahwa pengelolaan seni budaya diperlukan kompleksitas. Diperlukan usaha kreatif untuk menambah nilai dari objek seni budaya agar bisa menarik minat orang untuk datang. Dicontohkan, misal candi peninggalan Majapahit, maka diperlukan hal-hal yang menarik terkait sejarah, konflik tokoh-tokoh di masa lalu, asal usul suatu kejadian, keunikan ornament, keampuhan senjata, hingga apa relevansi candi itu bagi anak milenial atau gen Z.
“Jika peninggalan sejarah dikemas dalam paket informasi yang kreatif, ditambah kolaborasi atraksi seni yang memukau, maka saya yakin nilai jual suatu objek seni budaya akan meningkat dan akan dicari orang luar negeri maupun warga Indonesia,”cetus Risma.
Kreatif Tanpa Menabrak Pakem
Pengalaman Risma sebagai wali kota Surabaya dua periode dan menteri sosial RI, mendapati persoalan seni budaya Jatim terletak pada manajemen. Sebab pengelolaan seni budaya tidak sekedar pelestarian namun juga upaya mengembangkan nilai ekonomi pada sektor pariwisata.
Ia mencontohkan ketika ikut terlibat usaha menjadikan kesenian ludruk sebagai hiburan rakyat sekaligus ajang peningkatan kesejahteraan seniman ludruk. Berbagai usaha telah dilakukan. Di antaranya memberikan tempat gratis bagi seniman, namun tidak banyak penonton. Kemudian, pemerintah subsidi lagi dan menggratiskan tontonan, namun penonton kalangan muda tidak tertarik.
“Tapi waktu Cak Kartolo meminta saya ikut perform, dan saya menyetujui, lho ternyata yang nonton banyak sekali. Jadi diperlukan kreativitas penyelenggara untuk menambah nilai jual dari atraksi seni budaya. Dalam kasus saya, yakni mengajak pejabat publik tampil di panggung,” papar Risma.
Menarik pengalaman dari itu, menurut Risma, bisa saja pelaku seni budaya berkolaborasi dengan pihak pihak yang dapat menarik massa banyak, seperti mengajak pesohor seperti artis, tokoh, atau pejabat publik lainnya. “Yang penting kehadiran pesohor itu tidak kemudian merusak pakem seni budaya itu sendiri. Ini bisa jadi kontra produktif,” pesan Risma.
Upaya pemkot Surabaya intervensi saat itu juga menyasar anak muda agar tertarik seni ludruk. Untuk itu pemkot pernah menawarkan insentif khusus bagi siswa SMP yang mau sekolah di SMK khusus kesenian. “Pemkot surabaya saat itu bahkan memberi iming-iming memberi gaji siswa, tapi cara ini belum efektif dan perlu cari terobosan lainnya,”kenang Risma. (ton/red)
Tags: budaya, kesenian, superradio.id, tri rismaharini, visit media
Berita Terkait
Tinggalkan komentar
Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.





