Mahfud MD: Pilih Cakada Punya Elektabilitas dan Moralitas

Rudy Hartono - 3 July 2024
Prof Mahfud MD

SR, Jakarta – Pakar Hukum Tata Negara, Mahfud MD, menyarankan partai-partai memilih calon kepala daerah yang tidak cuma memiliki elektabilitas. Ia menekankan, moralitas harus dimiliki agar bisa menghindari mereka dari perilaku korupsi jika terpilih.

“Karena konteksnya pilkada, ya pilihlah mereka yang punya elektabilitas tapi juga punya moralitas, jangan hanya elektabilitas,” kata Mahfud saat menjadi pemateri pelatihan tim pemenangan daerah PDI Perjuangan (PDIP), Selasa (2/7/2024).

Guru Besar Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia (UII) itu menilai, masyarakat tidak bisa hanya memilih berdasar elektabilitas calon-calon tersebut. Sebab, pengalaman sudah mengajarkan banyak yang akhirnya tertipu jika cuma memilih calon karena itu.

Apalagi, ia mengingatkan, sekalipun calon itu memiliki elektabilitas tinggi bisa pula tergerus jika dicarikan pembanding yang kuat. Menkopolhukam periode 2019-2024 itu menekankan, elektabilitas dan moralitas itu yang harus menjadi modal utama calon.

“Itu yang saudara harus lakukan, tim pemenangan dari sekarang, jangan juga misalnya membiarkan orang, wah ini teman kita, ini ambisi, ini bagus, dilihat moralitasnya bagaimana, moralitasnya bagaimana, dua duanya itu kumulatif,” ujar Mahfud.

Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) periode 2008-2013 itu menilai, berbahaya bagi rakyat jika partai-partai hanya memilih berdasarkan elektabilitas. Apalagi partai-partai hanya mementingkan moralitas, karena tentu akan sulit memenangkannya. Lebih taktis jika dua hal itu diupayakan.

Anggota DPR RI periode 2004-2008 itu menilai, salah satu modal penting yang harus dimiliki partai-partai tidak membuat money politic sebagai budaya. Pasalnya, money politic bisa terjadi secara borongan dan dapat pula terjadi secara eceran. Maka itu, ia menegaskan, masalah utama tetap moralitas karena itu yang menjaga siapapun dari perilaku koruptif.

Mahfud mengingatkan, dulu korupsi pada zaman Orde Baru memang luar biasa tapi tersentralisasi. Kini, korupsi yang terjadi malah merajalela karena bisa dilakukan pejabat di manapun dalam level pemerintahan seperti apapun.

Ia menambahkan, kunci utama dalam pemberantasan korupsi tidak lain ada di dalam penegakan hukum. Mahfud menegaskan, sistem demokrasi itu akan bisa berjalan baik jika negara itu mampu menerapkan nomokrasi dengan baik.

“Kita ingin membangun demokrasi, dan demokrasi itu tidak akan berjalan baik kalau tanpa nomokrasi. Demokrasi itu kedaulatan rakyat, nomokrasi itu kedaulatan hukum,” kata Mahfud. (ns/red)

Tags: , , , , ,

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.